Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
8 Manfaat Seseorang Bisa Memasak

    Perdebatan di luar sana mengenai perempuan harus bisa masak dan laki-laki yang bisa masak seringkali diragukan maskulinitasnya tidak akan ada habisnya. Menurut aku pribadi, memasak merupakan skill atau keterampilan dasar yang harus dikuasai seluruh manusia untuk bisa bertahan hidup tanpa memandang gender. Perempuan yang bisa masak menjadi nilai plus dan laki-laki yang bisa memasak pun tidak memalukan sama sekali. Cooking and cleaning is basic life skill not a gender role. Bayangkan jika kamu sedang berada dalam kondisi survival mode, tidak ada warung dan layanan pesan antar yang bisa membantu kamu, hanya ada bahan-bahan makanan mentah. Mau makan apa kalau tidak bisa memasak?

Photo by Dapur Melodi
 

    Bisa memasak bukan berarti tampilan, rasa atau hidangannya seperti buatan seorang Chef di Restauran atau di Hotel Bintang 5. Memasak menu yang simple dan sederhana seperti membuat telur mata sapi, sayur bening, nasi goreng, ayam goreng, dll. Kecuali kantong kamu ekstra tebal sehingga tidak masalah jika setiap hari makan di restoran, atau mampu menggaji ART (Asisten Rumah Tangga) untuk memasak. Aku bahkan suka heran kenapa orang-orang kalau pesan menu di Restauran suka pesan nasi goreng karena kalau di rumahku setiap nasi yang tidak habis itu dibuat menu nasi goreng. Hehe. Jadi, setiap ke restauran aku pasti memesan menu yang tidak biasa dimasak di rumah. 

    Tidak ada ruginya untuk belajar memasak dan membuat menu makanan kita sendiri. Berikut bebrepa manfaat yang bisa kita dapatkan jika bisa memasak.

1. Lebih Hemat

    Dengan memasak membuat pengeluaran kita menjadi lebih hemat. Bebas service charge dan pajak. Apalagi jika kita memasak sekaligus untuk beberapa orang. Porsi dari makanan pun bisa sesuka hati karena kan kita sendiri yang memasaknya.

    Jika setiap hari memesan makanan apalagi memakan makanan-makanan instan melalui ojek online bisa-bisa tidak hanya pencernaan yang protes karena menumpuknya zat yang tidak baik untuk tubuh, tapi dompet juga protes karena uang di dalamnya diambil terus-menerus. Hehe.

2. Lebih Sehat dan Higienis

    Dengan memasakan sendiri, kita bisa memastikan bahan-bahan apa yang digunakan sehingga makanannya lebih sehat. Tidak ada sambel bekas kemarin atau minyak goreng yang dipakai berkali-kali. Kita juga bisa memasak menu yang kita inginkan sesuai dengan selera lidah kita.

3. Siap Menghadapi Situasi Darurat

    Kita tidak pernah tahu akan menghadapi situasi darurat seperti apa. Ntah kita akan terkena musibah seperti menjadi korban bencana alam atau ketika kita ke suatu daerah ternyata jauh dari perkotaan. tidak ada layanan pesan antar makanan. Kita tidak mungkin kan terus menerus makan mie instan? yang ada akan menambah biaya untuk ke Rumah Sakit.

    Hidup ini pun tidak terduga. Jika seorang Ibu tidak capable untuk memasak lagi, seorang Ayah bisa mengambil peran itu. Begitupun sebaliknya.

4. Bisa Dijadikan Peluang Usaha yang Menguntungkan

    Memiliki skill memasak juga bisa membantu kita untuk membuka sebuah peluang usaha. Gak perlu ahli dalam semua masakan, cukup menjadi ahli dalam satu jenis masakan ditambah dengan kreatifitas, dan kita bisa membuka usaha sendiri dari keterampilan tersebut. Skill itu diasah tidak datang dengan sendirinya. Dalam prosesnya pasti akan ada trial dan error. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa sebenarnya pedagang kaki lima banyak yang omzetnya bisa melebihi gaji karyawan berbulan-bulan. Hehe.

5. Bisa Memacu Kreativitas

    Kita bisa mencoba berbagai resep di berbagai media platform seperti youtube, tiktok atau instagram kemudian kita bisa modifikasi dan eksplorasi. Dengan memasak dan mengetes rasa, seseorang bisa menghasilkan menu-menu baru. Perempuan atau laki-laki yang pandai memasak dapat menyalurkan kreativitasnya untuk menghasilkan menu spesial yang akan dikenang sepanjang masa oleh keluarganya karena tidak ada menu seperti itu di tempat lain.

6. Belajar Time Management

    Saat memasak, kita harus tahu kapan waktu memasukkan bumbu dan berapa lama waktu untuk memasak sayur atau daging. Secara tidak langsung, hal itu akan membuat kita pandai mengatur dan memperkirakan waktu. Untuk perempuan sendiri yang bisa multitasking, terkadang sambil menunggu masakan matang, mereka bisa sambil membersihkan rumah atau sambil mengerjakan pekerjaan lainnya.

7. Merupakan Salah Satu Cara untuk Menunjukkan Cinta dan Kepedulian

    Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia. Sesuatu yang diasup sehari-hari untuk memberi kita energi. Pastinya kita semua punya makanan favorit. Ya kan? Makanan itu adalah bentuk cinta dan kepedulian. Bagi yang merantau, sewaktu pulang ke rumah, Ibu nggak akan segan-segan memasakkan menu favorit kita dengan sepenuh hati. Itu adalah ekspresi cinta. Kita akan bahagia dan lahap menyantap masakan Ibu kita. Kangen akan masakan Ibu terobati deh. Food is a giver and food doesn’t talk back. Food is love, love is food!

8. Menghargai Makanan

    Ketika kita memasak sendiri, kita tahu proses dari awalnya bahan mentah menjadi makanan. Apalagi kalau kita harus hidup mandiri. Mulai dari membeli bahan-bahan makanan menggunakan uang, mengolahnya, mengetes rasanya sampai siap disantap. Belajar memasak akan membuat kita lebih menghargai makanan. Saat kita sudah bisa menghargai makanan, kebiasaan membuang-buang makanan akan berkurang secara perlahan.

    Walaupun selesai memasak alat masak pasti banyak yang kotor. Kadang, meja makan pun jadi berantakan. Tetapi, menurut aku memasak adalah satu skill yang cukup worth it untuk dicoba dan dikuasai walaupun hanya dasar. Semoga bermanfaat :)

Serba Serbi Bermedia Sosial. Jarimu, Harimaumu!

    Ketika bermedia sosial akun apa saja yang kalian follow? mungkin sebagian besar adalah akun-akun yang menarik dan relate sama kalian kan? misalnya kalian suka dengan dunia desain, maka akun-akun yang kalian follow juga yang berhubungan dengan dunia desain dan kreativitas atau sosok Influencer tertentu. Lalu selebihnya adalah akun teman-teman yang memang dikenal di dunia nyata untuk saling follow di media sosial.

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels

    Sudah beberapa bulan ini aku jarang banget membuka beberapa akun medsos. Aku memang sengaja menyibukan diriku agar tidak 'gatal' membukanya karena aku tidak ingin menjadi kecanduan. Hidup terasa hampa tanpa medsos. Haha. Waktu tidak terasa ketika membuka medsos, scroll...scroll...niatnya cuma 10 menit jadi kebablasan sampai berjam-jam. Pertama-pertama mencoba untuk tidak membuka akun medsos rasanya aneh sekali seperti ada yang kurang. Tapi setiap kali ingin membukanya, aku mengalihkan perhatianku dengan membaca buku ataupun e-book, membersihkan rumah, menulis, mencari ide konten untuk video, menggambar, berolahraga, berkebun atau kegiatan apapun itu agar tidak terlalu sering menyentuh gadget.

    Setiap orang ingin menunjukan eksistensinya di media sosial. Ada yang memposting feed instagram sehari 5 kali yang berisikan foto selfie dirinya, liburannya, ootd-nya, flexing dan berbagai jenis postingan lainnya. Ada juga yang memposting story di instagram atau status whatsApp untuk memposting produk jualannya sampai panjang titik-titiknya. Ada juga yang curhat dan berkeluh kesah tentang persoalan pribadinya. Mengapa seseorang lebih mudah mengekspresikan perasaannya lewat media sosial? Bahkan orang yang bersifat pendiam di dunia nyata bisa menjadi pribadi yang bertolak belakang di media sosial. Mungkin karena sifat online dari dunia maya yang tidak mengharuskan penggunanya bertatap muka, sehingga pengguna media sosial lebih berani untuk berbicara atau berkomentar. Ya sah-sah saja sih memposting apa saja. Tetapi kalau setiap apa yang kita lakukan, apa yang kita rasakan selalu diposting, itu kurang bijak sih menurutku. Tidak semua orang peduli dengan apa yang kita lakukan dan yang terjadi dalam hidup kita.

    Seseorang yang memposting kehidupannya di media sosial bisa jadi bertolak belakang dengan kehidupan real-nya. Foto atau video sesorang yang kita lihat dengan visual yang sempurna bisa jadi adalah hasil editing atau menggunakan filter. Seseorang yang terlihat selalu ceria bisa jadi tidak memperlihatkan kesedihannya di media sosial. Turunkan ekspetasi kita terhadap 'kesempurnaan' seseorang atau kehidupan orang lain di media sosial.

    Media sosial juga sering bikin salah paham. Ada teman, saudara, tetangga yang memposting sesuatu disangka menyindir. Ada yang posting video liburannya dikira pamer, ada yang posting lagi sedih atau kegalauannya dikira gak bersyukur. Padahal mungkin yang memposting tidak bermaksud apa-apa, ya hanya ingin memposting saja tanpa bermaksud menyindir siapa-siapa. Bisa jadi hati kita yang berperasangka buruk.

    Aku pribadi jarang bahkan hampir tidak pernah membuka story atau status orang lain di medsos. Gak kepo aja sama apa yang sedang diposting orang lain dan gak ada waktu juga. Hehe. Kalau setelah posting story atau status di akun pribadi, langsung aku close tanpa pengen tahu siapa saja yang "seen". Menurutku gak penting aja. Aku membuka medsos hanya untuk mencari info dengan menonton atau membaca konten orang lain secara random yang tidak aku kenal dengan feature explore, memberi info melalui konten yang aku buat atau sekedar refreshing share video atau foto yang menurutku menarik atau bermanfaat dari konten orang lain. Kalian ada yang sama kayak aku gak?

    Setiap aku ingin memposting sesuatu atau share konten milik orang lain, aku memberi jeda dan berpikir berkali-kali terlebih dahulu "penting gak sih untuk aku posting atau share?" atau ini hanya "spam". Hehe. Hal lain yang mungkin tidak kita sadari ketika bermedia sosial adalah share data pribadi atau rahasia pribadi bahkan aib sendiri ke ranah publik. Misalnya curhat masalah rumah tangga atau konflik internal keluarga. Masalah yang kita unggah akan menjadi santapan publik dan orang lain akan menikmatinya layaknya tontonan. Bukannya solusi yang kita dapat, justru kemungkinan besar masalah akan bertambah runyam. Selain itu, sebaiknya kita berhati-hati untuk menyebarkan data, identitas, maupun foto-foto pribadi, supaya tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki niatan buruk karena media sosial sangat rawan dengan berbagai risiko penipuan dan kejahatan lainnya.

    Sebagai bagian dari produk teknologi masa kini, media sosia memiliki dua sisi mata pedang. Media sosial hanyalah sarana atau media yang bersifat netral, sedangkan pengguna yang akan memanfaatkannya menjadi sarana pembawa kebaikan atau justru sebaliknya. Semoga kita bisa bijak dalam bermedia sosial. Jarimu, harimaumu! Semoga bermanfaat.

Culture Shock Di Dunia Kerja

    Buat anak kelahiran 90-an, ketika sekolah mengalami UN (Ujian Nasional) kan? rasanya capek banget jadi pelajar. Haha. Belajar setiap hari, ke sekolah berangkat pagi pulang sore, mengerjakan PR yang soalnya beda banget sama contoh soal lalu pergi ke tempat les belajar lagi. Semua dilakukan supaya bisa lulus kalau bisa dengan nilai yang baik. Lalu setelah melewati UN, masih ada tes-tes untuk ujian masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Saingannya dari Sabang sampai Merauke. Gagal tes, coba lagi, lagi dan lagi. Setelah masuk PTN, masih harus berkutat dengan tugas2 kuliah. Syarat kelulusan adalah bikin tugas akhir atau skripsi. Masuk susah keluar susah pokoknya. Haha. Ketika masih pelajar rasanya pengen cepet-cepet kerja. Biarpun rasanya capek tapi ketika bekerja kan mendapatkan gaji. Hehe. 

    Setelah lulus dari dunia pendidikan, jalur hidup mainstream adalah mencari kerja. Wah enak nih gak usah ngerjain PR, gak ketemu Guru killer, gak ketemu pelajaran yang pake rumus-rumus, gak perlu panas-panasan upacara, pulang sekolah gak perlu bimbel dan beban berat sebagai pelajar lainnya. Tapi ternyata dunia kerja tidak menyelesaikan "rasa capek" ketika menjadi pelajar. Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Haha. 

    Saat aku masih menjadi pelajar dan mahasiswi, sebenernya aku juga sambil bekerja. Ketika SMA aku pernah menjadi reporter di warta kota dan ketika kuliah aku mengajar private. Tetapi hal itu berbeda sekali dengan bekerja sebagai karyawan kantoran dengan usia yang lebih matang. Mungkin terlihat keren dengan kemeja rapih, jalan sambil menelepon, sok sibuk dengan meeting, mendapat gaji tetap setiap bulan, kerjanya di depan laptop, di gedung tinggi, gak kepanasan, dan lain-lain. Tetapi di balik semua itu ada culture shock yang mewarnai hari-hari. Haha. 

    Aku pernah intenship dan bekerja di beberapa perusahaan, berikut beberapa culture shock yang aku alami yang mungkin juga kalian alami. Ini berdasarkan pengalaman dan opiniku ya.

1. Senioritas

    Senioritas ketika sekolah juga ada sih. Di dunia kerja yang aku rasakan lebih kepada orang yang lebih dulu atau lebih lama bekerja di perusahaan dengan jabatan yang sudah level di atas kita dan tentunya lebih berkuasa, lebih tahu segalanya, merasa paling benar, tidak mau menerima kritik dan saran, gila hormat, membutuhkan pengakuan dan bisa jadi mengakui pekerjaan orang lain. Mengakui pekerjaan orang lain di sini misalnya ketika si A yang sudah senior ini diperintahkan dengan orang yang levelnya berada di atasnya ini melempar pekerjaannya lagi kepada si B yang berada dalam satu teamnya dan levelnya berada di bawahnya. Lalu ketika pekerjaan yang diperintahkan telah di selesaikan si B, saat si A memberikan hasil pekerjaan kepada orang yang levelnya berada di atasnya, si A ini mengaku kalau pekerjaan ini dia yang mengerjakannya. Ada juga senior yang hobinya main game dan malas-malasan. Hehe. Juniornya yang diminta menyelesaikan tugas kerja rodi. 

2. Yang rajin dan pintar adalah yang bekerja lebih keras

    Kalau di sekolah anak yang pintar dan rajin adalah yang ngasih contekan dan juara kelas, kalau di dunia kerja hati-hati bisa jadi "dimanfaatkan". Kamu punya banyak skill? kamu bisa multitasking? Kamu cepat dalam mengesekusi sesuatu? Siap-siap kamu yang akan lebih sering menghabiskan waktumu untuk lembur dan di pingpong sana sini karena yang rajin apalagi ditambah pintar yang akan lebih bekerja keras dan menjadi andalan supaya pekerjaan cepat selesai daripada meminta tolong rekan kerja yang lain dan lebih lama menyelesaikan pekerjaannya bikin gemes. Hehe.

3. Semua benda di kantor bisa berbicara

    Semua benda mati di kantor seperti tembok, pintu, kursi, pulpen serasa punya mata, punya telinga, punya mulut. Jadi hati-hati kalau mau cerita apapun ke siapapun orang di kantor karena ketika kamu cerita ke satu orang, cerita kamu bisa menyebar saat itu juga ke seluruh kantor bahkan walaupun kamu belum cerita udah kesebar itu cerita saking horornya. Jadi, menurut aku paling bener kerja, ambil gaji lalu pulang. Hehe. Sangat hati-hati dalam mencari teman di lingkungan kantor.

4. Jangan terlalu menunjukan kemampuan kamu di luar bidang pekerjaan kamu

    Wah selain kamu bisa desain, kamu bisa edit video juga? bisa bikin ilustrasi juga? bisa bikin denah gedung juga? bisa hitung pajak juga? bisa bikin business plan juga? tolong bantuin kerjain ini dong, itu dong, ini juga tolong dicek ya. Bisa lah nanti sore udah jadi. Hehe. Kalau kamu terlalu menunjukan kemampuan kamu di luar bidang perkerjaanmu, siap-siap sekali seseorang minta tolong, akan menjadi habit dan itu secara tidak langsung akan menjadi jobdes kamu. Hehe. Jangan terlalu inisiatif juga karena nanti bisa dapet kerjaan lebih banyak dan jangan terlalu berharap mendapat appericate.

5. Status Cuti tapi harus standby

    Dulu ketika status masih pelajar atau mahasiswa, libur ya benar-benar libur. Dalam artian kita bebas sementara dari PR, tugas kuliah dan kepusingan lainnya sebagai pelajar sampai nanti waktu libur selesai dan memulai semester baru. Di dunia kerja, kita bekerja dari hari senin sampai jumat, hari sabtu dan minggu libur. Ini tergantung kebijakan kantor masing-masing ya. Kita memiliki hak cuti tahunan. Biasanya 12 kali dalam setahun yang bisa kita gunakan kapan saja selama setahun itu. Ini di luar cuti hamil dan melahirkan untuk perempuan, cuti menikah dan lainnya. Tetapi sayangnya ketika di dunia kerja, cuti ini tidak benar-benar kita terbebas dari kerjaan. Kita masih harus standby paling tidak melalui chat jika ada yang harus ditanyakan oleh rekan kerja atau yang lebih menakutkan dikerjakan saat itu juga dan itu adalah project atau pekerjaan yang sedang kita handle sehari-hari. Apa itu cuti, tanggal merah, weekend? kalendar serasa hitam semua. Hehe.

    Mungkin segitu aja culture shock yang aku alami selama di dunia kerja. Kalau kalian apa saja nih? yuk sharing di kolom komentar. Hehe.

Mudahnya Nge-judge

    Dalam hidup, pasti kalian pernah dong nge-judge (menghakimi) secara sadar maupun tidak sesuatu hanya karena dengar dari mayoritas opini orang lain, nge-judge orang lain padahal nggak kenal juga, nge-judge kejadian atau kondisi yang kita lihat di depan mata kita padahal kita juga belum mencari tahu kebenarannya. Padahal apa yang kita judge, sebenarnya belum tentu seperti itu.

    Aku pernah nge-judge sebuah aplikasi hanya karena dengar dari penilaian kebanyakan orang lain. Kalian pasti tau aplikasi yang isinya khusus konten-konten video berisinal "T". Karena mendengar opini-opini buruk, aku jadi berpikir bahwa aplikasi itu aplikasi yang buruk. Isi kontennya joget-joget gak jelas dan unfaedah. Padahal aku juga belum install dan menggunakannya. Stigma buruk aplikasi "T" itu berubah  ketika aku meet up dengan teman lamaku yang dulu satu sekolah denganku, dia adalah seorang ibu rumah tangga. Saat main ke rumahnya, aku dibuatkan makanan batagor dan menurut aku enak banget rasanya. Aku yang orangnya curious bertanya "beli dimana batagornya? enak banget".Terus dia jawab "Wah beneran enak? itu gue bikin kok". Selama aku berteman dengannya, yang aku tahu dia itu gak suka masak. "Sejak kapan suka masak? bukannya males ya masak?"Aku nyengir. Terus dia menjawab "Gue suka liat resep-resep di aplikasi "T" pas gue nyoba ternyata gak sesusah itu masak. Seru ternyata masak. Apalagi orang yang nyobain bilang enak". Lalu aku mengutarakan pendapatku yang selama ini tahu dari orang-orang bahwa aplikasi itu isinya "sampah". Temanku bilang, gak semua kontennya gitu kok. Ada tutorial masak, sharing pengalaman orang lain, tutorial make up, tips keuangan, dan lain-lain. "Coba deh install dulu" begitu saran temanku. 

    Begitu pulang ke rumah, aku penasaran dong sama pendapat temenku ini karena dia aja yang berpendapat berbeda dari kebanyakan opini orang lain. Aku install dan aku lihat konten-kontennya. Ternyata gak seburuk itu. Banyak juga konten-konten yang bermanfaat. Content Creator-nya mempunyai latar belakang yang beragam. Dari orang biasa sampai profesional. Aku tidak tahu bagaimana alogaritma aplikasi itu bekerja. Tetapi konten video yang sering FYP di timeline homepage aku menurut aku kebanyakan bermanfaat. Paling hanya satu dua yang menurutku unfaedah. FYP adalah singkatan dari "For Your Page", yaitu halaman rekomendasi pada aplikasi "T" yang akan muncul pertama kali setiap membuka aplikasi "T". Kalau aku ingin mencari informasi atau insight tertentu, terkadang aku juga membuka aplikasi itu gak cuma dari aplikasi video yang berlogo play berwarna merah.

    Selain dari pengalamanku judgment sebuah aplikasi, aku jadi memprogam ulang pikiranku untuk tidak langsung judgment sebelum aku benar-benar membuktikannya sendiri. Termasuk dalam kehidupan sehari-hari, aku berusaha tidak mudah judgment terhadap seseorang. Misalnya, ketika ada seseorang yang mengatakan padaku si A yang belum aku kenal begini dan begitu perilakunya, aku hanya akan berhati-hati dan menjaga jarak ketika memang harus berkomunikasi. Tidak langsung judgment. Bukan karena orang lain tidak suka atau membencinya dan membicarkan hal-hal yang tidak baik tentangnya, kita juga lantas menyimpulkan hal yang sama dan ikut membecinya. Padahal ketika kita berkomunikasi langsung dengannya, belum tentu buruk seperti yang dikatakan. Bisa jadi kondisi si A sedang tidak baik dan tidak mood tetapi lawan bicaranya tidak mengerti itu, jadi responnya seperti kurang baik. Bisa jadi ketika kita mengenalnya, kemungkinan dia sudah berubah menjadi lebih baik, hanya saja citranya sudah terlanjur buruk.

    Begitupun ketika melihat kejadian dan kondisi di depan kita. Misalnya, ketika di rumah sakit, kita melihat seorang Ibu yang sibuk dengan gadget-nya. Sedangkan anaknya yang masih balita berlarian di koridor rumah sakit. Kita bisa mudah nge-judge bahwa dia bukan ibu yang baik. Gadget lebih penting dari anaknya. Tetapi bisa jadi dia sedang berkomunikasi dengan keluarganya yang lain untuk mencari  pendonor darah untuk suaminya yang baru mengalami kecelakaan. 

    Pada kondisi yang lain, ketika kita tahu pasangan yang sudah lama menikah belum juga memiliki momongan dengan mudah kita nge-judge ke perasangka yang tidak baik "kok nikah bertahun-tahun belum punya anak sih?" kalau anak seperti barang yang tersedia di online shop, sudah dibeli kali. Padahal pasangan ini juga sudah berusaha untuk mendapatkan momongan. Tetapi, dibalik semua usaha dan doa, ada Allah yang mempunyai kuasa dan Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat.

    Judgment memang tidak butuh lama. kalau butuh lama skripsi dong. Hehe. Seringnya kita dengan mudah nge-judge meski hanya di dalam hati. Padahal sesuatu yang kita hakimi, hanya setitik kecil dari hal yang kita dengar dan informasi yang kita dapatkan dari orang lain tetapi sudah merasa benar-benar tahu dan menyimpulkannya. Semoga bermanfaat.

Stop Menjadi People Pleaser

    Sebagai salah satu orang yang punya sifat gak enakan (people pleaser) rasanya kalau kita gak bisa membantu orang lain, menuruti semua orang, mengiyakan apa yang orang lain minta tuh seperti menjadi orang jahat, seperti ada perasaan bersalah ke diri sendiri. Haha. Lalu pada akhirnya kita lelah sendiri. Padahal kan tidak harus. Kalau sedang tidak bisa membantu ya tinggal bilang saja sejujurnya dan menjelaskan kalau kita sedang tidak bisa membantu. 

Photo by Andrew Neel from Pexels

    Menjadi orang yang senang membantu orang lain adalah hal yang baik. Tetapi, yang menjadi catatan adalah jangan sampai mengorbankan perasaan sendiri demi kebahagiaan orang lain dan kita tidak harus membohongi diri sendiri kalau sebenarnya kita berat hati saat dimintai pertolongan oleh orang lain. Kita hanyalah manusia biasa yang kadang merasa lelah, butuh waktu untuk diri sendiri, berhenti sejenak dari rutinitas yang ada. Kita memiliki batasan. Jika kita melebihi batasan, kita tidak akan menjadi hebat. Tetapi menjadi berlebihan dan itu tidak baik juga untuk diri sendiri.

    Terus gimana dong supaya tidak menjadi people pleaser? Berikut tips yang sedang aku jalankan juga yang mungkin bisa bermanfaat untuk kamu juga yang seorang people pleaser.

1. Berani Menolak

    Kalau kita dimintai tolong sesuatu yang merugikan kita atau di luar kapasitas kita, belajarlah untuk berkata “tidak”. Tolaklah dengan sopan dan jelaskan kenapa kita tidak bisa melakukannya. Memang sih pasti sulit untuk seorang people pleaser untuk berkata “tidak”. Tetapi kita harus mulai terbiasa berani mengatakannya. Menolak bukan berarti jahat.

2. Tentukan Prioritas

    Kalau kamu merasa sedang sangat lelah dan ingin beristirahat tetapi ada orang lain yang meminta tolong sesuatu yang menurut kamu cukup berat, berikan penjelasan dengan sopan kalau kamu sedang ingin beristirahat. Kamu tidak harus selalu memprioritaskan kepentingan orang lain hingga lupa mendengarkan diri sendiri.

3. Berhenti Overthinking

    Seorang people pleaser seringnya memiliki pikiran yang kompleks. Hal ini juga yang membuatnya susah untuk mengatakan tidak. Yang ada dalam pikirannya tuh “Kalau aku menolak, nanti hubungan pertemanannya jadi gak baik” atau “Nanti kalau aku gak bantuin, suatu hari saat aku butuh bantuan, orang lain gak ada yang bantuin aku”.

    Stop pikiran yang berlebihan seperti itu. Teman yang baik akan selalu menjadi temanmu tanpa syarat. Jika mereka meninggalkanmu karena sekali dua kali kamu sedang tidak bisa membantu mereka, tidak apa-apa, orang yang datang dan pergi dalam hidup kita itu hal biasa. Allah mempertemukan kita dengan orang lain pasti ada maksudnya. Kamu juga tida perlu khawatir kalau nanti ketika kamu membutuhkan bantuan tidak ada yang menolong kamu karena orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik lainnya. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". QS. Ar-Rahman: 60

4. Meminta Maaf Seperlunya

    Kita memang harus meminta maaf jika kita berbuat salah. Permasalahan dari seorang people pleaser adalah seringnya meminta maaf kepada hal-hal yang seharusnya tidak perlu. Misalnya ikut merasa bersalah ketika teman telat datang karena kita sedang tidak bisa nebengin dia seperti biasa dan meminta maaf berkali-kali. Mulai sekarang, meminta maaf seperlunya dan kita tidak harus meminta maaf jika itu bukan kesalahan kita.

5. Menghargai Diri Sendiri

    Seorang people pleaser cenderung untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya sehingga kalau tidak sengaja melakukan sedikit kesalahan atau kesalahan kecil kepada orang lain kepikirannya bisa berhari-hari padahal mencintai dan menghargai diri sendiri adalah hal yang penting.  Tidak perlu merendahkan dirimu di hadapan orang lain karena perasaan “tidak enakan”. Sebelum menghargai orang lain, hargailah dirimu sendiri dulu.

    Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti menjadi egois. Tapi salah satu bentuk mencintai diri sendiri. Memang sudah sewajarnya kita berbuat baik kepada orang lain. Tetapi, kita juga harus berbuat baik kepada diri sendiri. Semoga bermanfaat :)

Apakah Logo Harus Selalu Memiliki Filosofi?

    Sebagai seorang Desainer Grafis, detail sekecil apapun yang dibuat memiliki pertimbangannya tersendiri. Dimulai dari warna, bentuk, tipografi, ukuran, dan lain-lain. Detail-detail kecil dibuat sedemikian rupa sehingga enak dilihat, menarik, tetapi tidak berlebihan, simple dan juga memiliki makna. Tetapi apakah dalam mendesain logo harus memiliki filosofi sekalipun bentuknya abstrak?

    Oke sebelum ke pertanyaan itu, siapa yang peduli akan nilai filosofi dalam pembuatan logo? Apakah kamu sebagai pengguna produk apple misalnya peduli dengan filosofi logo dibalik logo apple? Aku rasa nggak. Hehe. Yang kamu tahu dan kamu ingat dalam pikiran kamu, ketika melihat gambar apple tergigit kamu langsung teringat bahwa itu adalah logo apple. Lalu siapa yang peduli? Yang peduli akan filosofi logo hanya dua pihak, yaitu Desainer Logo dan Kliennya. Masyarakat umum? sepertinya tidak terlalu peduli. Hehe.

    Apakah kamu membeli produk Xiaomi karena logonya berarti "mobile internet" atau "mission impossible”? Atau apakah para Sosialita membeli membeli produk brand Louis Vuitton karena logonya terinspirasi dari motif Japonism? Pertimbangan seseorang dalam membeli sebuah brand tertentu lebih kepada karena persepsi/citra dari brand tersebut. Bisa jadi terhadap kualitas, fungsi, gengsi dan sebagainya bukan karena arti dari logonya. Logo diingat sebagai identitas seperti nama kita. 

    Jadi, Apakah logo harus selalu memiliki filosofi? menurut aku, jawabannya tergantung. Jika kita memiliki usaha berbentuk perusahaan, maka idealnya menyematkan value dan makna tertentu dalam logo perusahaan agar terkesan profesional, simple, unik, mudah diingat dan terpercaya seperti brand apple tadi. Tetapi, jika usaha kita masih dalam lingkup UMKM, filosofi atau makna logo tidak terlalu diperlukan. Yang terpenting logo menarik, mudah dipanami dan mudah diingat. Misalnya kita membuka usaha keripik singkong, bisa dibuat logonya dengan membuat sebuah character bentuk singkong yang sedang menggigit keripiknya dan tangannya mengacungkan jempol. Lalu diberi tipografi dari nama brand-nya menggunakan bahasa inggris supaya naik value-nya misalnya “Cassava Chips Mang Udin”. Hehe.

    Ingin membuat logo untuk usaha? Yuk aku bantu, silakan kontak aku, KLIK DI SINI. Semoga sharing-nya bermanfaat :)

Self Healing Tanpa Perlu Travelling

    Menjelang akhir tahun 2021 kemarin, explore Instagram-ku banyak banget orang yang bikin video reels recap 2021 dalam durasi beberapa detik. Rata-rata memperlihatkan liburannya dari awal hingga akhir tahun. Wah kayaknya enak banget ya hidup orang-orang traveling terus gak ada susahnya. Susahnya gak dilihatin lah. Hehe. 


    Katanya, yang lagi hits nih, alasan travelling salah satunya untuk self healing alias sebuah upaya yang dilakukan oleh masing-masing pribadi untuk menyembuhkan luka secara mandiri. Padahal mau travelling dengan alasan healing mau sampai ke lubang cicak sekali pun gak akan berguna kalau yang diingat bukan Allah. Ya, gak apa-apa sih kalau memang ada budget-nya, uangnya juga uang kamu. Asal jangan maksa sampai harus kredit segala apalagi kalau hanya untuk pamer di sosial media. Setelah selesai travelling, bukan self healing jadinya. Tapi pusing bayar cicilannya. Hehe.

    Buat kamu yang memang low budget, self healing gak harus dengan travelling kok. Berikut beberapa hal yang bisa kamu coba :

1. Me Time

    Menurut aku, me time ini bisa kamu isi dengan melakukan hobi atau apapun yang kamu suka. Kalau hobinya travelling coba cari alternatif hobi lainnya deh. Hehe. Misalnya buat yang suka nonton, bisa menonton serial drama yang disukai, yang hobi baking atau cooking bisa cobain resep baru, yang hobi olahraga, bisa coba yoga, yang hobi membaca coba dilihat di lemari bukunya, berapa buku yang masih terbungkus rapi di plastik? yuk diselesaikan membacanya :)

2. Olahraga

Olahraga selain bisa membuat tubuh sehat, bisa meningkatkan mood juga lho. Pikiran juga menjadi lebih fresh dan membuat kita rileks. Olahraga murah meriah? jalan kaki keliling komplek atau Taman dekat rumah. Kalau mau meluapkan amarah, coba muay thai :)

3. Menulis

    Kalau kamu orangnya cenderung introvert, Kamu bisa menyalurkan apa yang kamu rasakan dan kamu pikirkan melalui tulisan. Kamu bisa sharing melalui media online seperti blog pribadi atau kamu juga bisa menuliskannya di buku diary jika kamu ingin menyimpannya sendiri. Kalau ingin sharing ke media online perhatikan etikanya ya :)

4. Menggambar atau Mewarnai

    Gak harus jago gambar kok. Kamu bisa membuat bentuk abstrak sekalipun. Hehe. Selain itu, Kamu juga bisa coba untuk mewarnai. Banyak dijual buku-buku mewarnai untuk orang dewasa (adult coloring book) :)

5. Mendengarkan Kajian

    Seperti halnya fisik yang perlu makan dan minum, ruh juga harus diisi. Kita bisa mengikuti kajian. Selain menambah pengetahuan, bisa membuat pikiran damai dan hati tentram seperti Sabda Rasulullah SAW: “Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika maka rusaklah seluruh anggota, ketahuilah itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Gak perlu iri sama apa yang orang lain posting di sosial media. Tidak upload story di sosial media bukan berarti tidak bahagia dan self healing tidak harus travelling. Semoga bermanfaat :)

Memilih Circle Pertemanan

    Circle pertemanan bisa terbentuk karena beberapa hal. Misalnya kesamaan nasib, memiliki hobi yang sama, memiliki barang-barang koleksi yang sama, profesi yang sama, punya mimpi yang sama atau kesamaan dalam hal lainnya. Semakin kita dewasa, circle pertemanan akan semakin mengerucut sebanyak apapun teman ketika kamu sekolah, kuliah, bergorganisasi, ikut komunitas dan darimanapun asal muasal perkenalannya. Ada yang tadinya lumayan dekat, sekarang terasa jauh sekali. Ada yang tadinya jarang berkomunikasi, eh malah menjadi dekat. Ternyata sefrekuensi ketika ngobrolin banyak hal. Bagaimana circle pertemananmu saat ini? apakah masih mereka yang mengisi hari-harimu sama seperti bertahun-tahun yang lalu atau sekarang lebih banyak diisi oleh orang-orang baru?


    Siapa teman kita adalah cerminan diri kita. “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).

    Ya, sepenting itu untuk memilih circle pertemanan dan dampaknya bisa sangat besar. Bisa berdampak positif atau negatif. Misalnya, ketika kita berteman dengan orang-orang yang produktif dan aktif, tanpa disadari kita juga akan menjadi orang yang produktif dan aktif walaupun itu hanya sedikit. Jika kita berteman dengan orang-orang yang hedon, kita juga bisa terbawa menjadi hedon karena tuntutan sekitar.

    Aku pribadi mulai membatasi pertemanan, bukan berarti menjadi orang yang anti sosial. Aku mengurangi interaksi dengan orang-orang yang menurut aku berdampak kurang baik untukku. Seiring berjalannya waktu, akan terseleksi sendiri dan akan terlihat kok. Pilihlah circle pertemanan yang selalu mengingatkan kebaikan, kita bisa menjadi diri sendiri dan tidak dituntut untuk bisa sesuai dengan keinginan orang lain supaya bisa diterima, circle pertemanan yang di dalamnya kita merasa nyaman dan aman, saling menghargai, saling mendukung, saling menghargai batasan privasi masing-masing, tidak memaksakan kehendak dan menghargai perbedaan, tidak saling merendahkan, yang tulus dan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain, juga saling bisa menjaga rahasia. Semoga bermanfaat.

5 Kebiasaan dalam Mengelola Gaji yang Bikin Cepet Bokek

    “Perasaan baru kemarin gajian ya. Kok belum pertengahan bulan tapi sudah bokek? Makan mie instan sama obat maag aja deh sampe akhir bulan nih!”. Hehehe. Jika kita tidak mengelola keuangan dengan baik, salah satu dampaknya gaji yang kita terima cepat habis sebanyak apapun nominalnya. Jangankan untuk bisa menabung, untuk kebutuhan sehari-hari yang basic saja terasa kurang. Kok bisa? Dari hasil mewawancari beberapa narsum dan pengamatanku, mungkin kamu sering melakukan kebiasaan-kebiasaan berikut ini :


1. Kebiasaan Nongki

    Hampir setiap hari makan siang di luar, keluar masuk restauran, gak lupa foto makanan lalu upload ke sosmed. Pulang kerja mampir ke Cafe beli secangkir kopi seharga 50 ribuan plus cemilannya lalu upload ke sosmed. Weekend teman-teman ngajakin jalan, tanpa pikir panjang, ikut. Kan uangnya masih banyak. Gak lupa juga upload ke sosmed biar eksis. Coba kalau dikalkulasi, kebiasaan-kebiasaan nongki, makan di luar dan kumpul-kumpul demi eksistensi ini, berapa uang yang sudah kamu habiskan? Akhir bulan pasang muka melas pinjam uang teman :)

2. Mindset Belanja

    Ketika akhir bulan atau menjelang gajian, mulai scroll online shop “Gaji bulan ini mau dibelanjain apa ya?”. Begitu hari H gajian, liat saldo di rekening bertambah, karena merasa masih punya banyak uang, langsung check out list di keranjang. Ending-nya membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan tidak berguna juga. Hanya lapar mata. Kewajiban-kewajiban yang harus dibayar belum dibayarkan, pake kartu kredit atau paylater aja lah. Utang lagi :)

3. Ambil Kredit di Luar Kemapuan Demi Gengsi

    Melihat si A beli mobil baru, melihat si B beli sepatu branded limited edition, melihat si C ambil kredit rumah di lokasi yang strategis, melihat si D beli handphone baru, hati jadi panas dan takut kalah saling. Akhirnya lagi-lagi demi gengsi, mengambil kredit di luar kemampuan. Ending-nya gak bisa bayar dan barang ditarik :)

4. Tidak Mau Upgrade Ilmu Money Management

    Sudah tahu gaji cepat sekali habis, tetapi tidak mau evaluasi dan tidak upgrade ilmu money management seperti kita harus punya dana darurat, tabungan untuk masa depan, mengelola uang dengan metode 50, 30, 20 atau metode-metode yang lainnya yang bisa kita gunakan setiap kali kita menerima gaji :)

5. Tidak Memulai Kebiasaan Menabung dan Invest

    Sudah kerja lama, tapi kok gak ada peningkatan kualitas hidup? Gimana bisa meningkatkan kualitas hidup, kalau dari pertama menerima gaji tidak memulai kebisaan menabung dan juga mencoba untuk berinvestasi. Yang ada dipikiran hanyalah misi "Bagaimana menghabiskan uang yang aku punya saat ini" :)

    Dari kelima poin di atas ada gak kebiasaan yang kamu lakukan sehingga gaji lewat begitu saja? Semoga bermanfaat :)

Berproses Menjadi Dewasa

    Dulu ketika masih anak-anak, aku berpikir rasanya menyenangkan menjadi dewasa, tidak perlu mengerjakan PR, tidak perlu berpanas-panasan mengikuti upacara setiap hari senin, tidak perlu memikirkan ujian, tidak perlu belajar untuk mendapat nilai raport yang bagus dan tidak perlu takut dimarahi guru dan pikiran remeh temeh sebagai anak-anak. Haha. Pikiranku saat itu, menjadi dewasa berarti aku bisa bekerja dan terlihat keren seperti mbak-mbak yang sering aku lihat menggunakan baju ala perkantoran, mendapatkan uang, sibuk mengangkat telpon seperti orang penting, bisa traveling ke tempat yang aku mau, bisa makan makanan kesukaanku, berkumpul bersama teman-teman ngobrolin masa depan. Tetapi realitanya ketika sudah menjadi dewasa tidak seindah imajinasiku ketika waktu masih kecil. Haha.


     Dewasa memang bukan dilihat dari usia, menjadi dewasa adalah pilihan dan menjadi dewasa bisa karena terdesak oleh keadaan. Menurutku, menjadi dewasa berarti memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Bukan lagi tentang diri sendiri. Menghadapi realita kehidupan yang lebih kompleks dari sekedar mengerjakan PR, pergi ke sekolah, belajar kelompok, tapi yang ngerjain tugasnya satu orang, menghapal rumus-rumus, tapi ketika dikasih soal gak bisa. Hahaha. Kalau ketika kita masih kecil bergantung pada orang tua, menjadi dewasa berarti kita harus belajar mandiri. Menjadi dewasa berarti siap menghadapi tagihan dan kewajiban lainnya yang harus ditunaikan. Waktu masih kecil kita menggunakan barang-barang yang dibelikan orang tua mungkin tidak dirawat dengan baik. Kalu hilang atau rusak nanti juga dibelikan lagi dengan yang baru. Tetapi, ketika bisa membeli dengan hasil keringat sendiri akan lebih menjaga barang supaya bisa awet digunakan jangka panjang.

    Fase menjadi dewasa akan terbentuk dari proses hidup yang kita lalui. Bagimana peran keluarga, teman dan juga lingkungan karena itu juga akan mempengaruhi pola pikir, pergaulan, tindakan dan gaya hidup. Menurutku, menjadi dewasa berarti kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, berbesar hati ketika ada yang memberi kritik dan saran karena kita juga tidak bisa menyenangkan semua orang, ketika ada masalah, mencari solusinya bukan saling menyalahkan, mengakui kesalahan jika memang melakukan dan berani meminta maaf, bisa mengontrol emosi, mengerti orang lain tidak hanya egois ingin dimengerti, berani untuk mengambil keputusan karena dalam hidup kita akan dihadapi berbagai macam pilihan.

    “Growing old is mandatory but growing up is optional”. Begitu menurut Carroll Bryant, seorang penulis buku. Semua orang pasti menua, tapi tidak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia, yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.  Bisa jadi kamu akan bertemu dengan orang yang lebih muda dari kamu, namun pemikirannya lebih dewasa dibandingkan orang yang berusia 30 atau 40 tahun. Kedewasaan tidak datang secara instan, tapi juga tidak bisa sekadar ditunggu begitu saja. Kita harus melatih pola pikir dan sikap dewasa lewat berbagai proses kehidupan. Selamat menjalani proses menjadi dewasa berapapun usia kamu. Semoga bermanfaat :)

Puasa Sosial Media

    Puasa sosial media yang Aku maksud dalam tulisan ini bukan sama sekali tidak membuka sosial media ataupun ekstrem sampai uninstall aplikasinya, melainkan berusaha lebih bijak dalam menggunakan sosial media dan juga kuota internet. 


    Aku pribadi memiliki beberapa akun sosial media. Akhir-akhir ini aku berusaha untuk mengurangi dan jarang sekali aku memposting hal-hal yang bersifat pribadi, seperti apa yang aku makan dan juga kegiatan apa yang sedang aku lakukan. Aku berpikir bekali-kali sebelum memposting “Apakah ini penting untuk aku posting? Apakah ada manfaatnya untuk yang melihat?”. Entahlah, semakin bertambah usia, aku hanya merasa aku bertanggung jawab atas apa yang aku posting. Aku lebih banyak menggunakan sosial mediaku untuk mempublikasikan tulisan, gambar dan video yang aku buat dan juga untuk mencari informasi dan aku gunakan seperlunya. Aku merasa tidak sepenting itu lagi menunjukan keseharianku, momen yang sedang aku alami atau perasaan yang sedang aku rasakan alias curhat di sosial media. Tidak menunjukannya di sosial media bukan berarti tidak bahagia kan? hehe.

    Zaman sekarang, jika ingin tahu kabar seseorang, kita tinggal melihat postingan-nya di sosial media. Hehe. Aku pribadi hampir tidak pernah melihat story atau apapun yang teman atau orang lain posting. Aku merasa tidak serpenting itu juga tahu apa yang mereka lakukan setiap detiknya. Kalaupun aku mendapat kabar yang sangat krusial tentang mereka seperti pernikahan, kelulusan, duka atau kelahiran anak-anak mereka, akan akan langsung chat secara pribadi, berkunjung ke rumahnya jika bisa atau paling tidak telpon dan video call. Selebihnya aku mencoba untuk tidak kepo dengan segala hal yang orang lain lakukan. Aku merasa hal ini membuat hidupku lebih baik. Aku bisa tetap fokus dengan apa yang aku lakukan, banyak pekerjaan yang bisa terselesaikan dan bukan untuk saling membandingkan dengan pencapaian orang lain atau terlihat seperti pencitraan. 

    Tipuan sukses sangat banyak di media sosial dan bisa menipu pikiran sendiri. Misalnya, ketika kita memposting sesuatu, dengan validasi berapa orang dan siapa saja yang melihat postingan kita atau jumlah likes yang kita dapatkan, follower yang kemudian bertambah, komentar-komentar pujian seolah kita merasa sudah final dalam mewujudkan sesuatu, padahal sebenarnya belum.

    Sosial media tidak sepenuhnya buruk dan tidak sepenuhnya baik. Tergantung dari user-nya. Kita yang bisa mengontrolnya. Semoga kita bisa semakin bijak dalam bersosial media. Semoga bermanfaat :)

Perlu Gak Sih Keluar Dari Zona Nyaman?

    Mungkin tulisan ini akan bertentangan dengan artikel-artikel di luar sana tentang zona nyaman. Perlu gak sih keluar dari zona nyaman? Setelah aku pikir-pikir lagi, menurut aku nggak. Hehe. Manusia pada akhirnya akan selalu mencari yang nyaman kan? kenyamanan setiap orang itu berbeda-beda. Kalau sudah nyaman, kenapa harus keluar? “Kita Harus keluar dari zona nyaman. Nanti hidup kita gak berkembang. Nanti monoton gitu-gitu aja hidupnya. Kita Harus mencari tantangan”. Begitu ucapan Motivator seolah-olah zona nyaman itu negatif sekali. Kenapa yang ikut tes PNS masih tinggi? karena yang dilihat menjadi seorang PNS itu nyaman dan aman. Coba kita pahami baik-baik, apakah benar orang-orang yang ingin keluar dari zona nyaman benar-benar sudah merasa berada di zona nyaman? atau sebenarnya mereka hanya sedang berada di zona aman yang kurang tantangan atau zona malas?


    Dalam bukunya ‘From Comfort Zone to Performance Management’ oleh Alasdair A. K. Menurutnya pada keadaan zona nyaman, seseorang jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress seolah-olah zona nyaman mengarahkan seseorang pada penurunann produktifitas. Tetapi, apa benar zona nyaman mengekang seseorang sehingga tidak mampu berkembang baik dalam segi apapun?

    Kita sering terperangkap, menganggap bahwa kehidupan kita, pekerjaan yang kita jalani terasa stagnan, tanpa tantangan, adalah definisi real tentang kondisi zona nyaman, padahal itu hanya sebatas zona aman. Bahkan yang lebih parah, kaum rebahan, yang terkesan cuma makan, tidur, nonton video yang unfaedah, scroll social media sepanjang hari kita definisikan sebagai zona nyaman, meski sebenarnya, istilah yang relevan untuk itu adalah zona malas.

    Kita sering mendengar teman, orang lain atau bahkan jangan-jangan diri kita sendiri yang merasa ingin resain dari pekerjaan. Alasannya adalah ingin mencari tantangan baru, bosan menjalani rutinitas yang sama, iri sama teman yang punya jabatan sudah tinggi dengan gaji selangit, enak lihat hidup orang lain yang bekerja sebagai Freelancer, jadi PNS atau ingin menjadi seperti orang lain yang sukses jadi pengusaha. Alasan-alasan itu bermuara pada satu visi yang sama, yaitu keluar dari zona nyaman. Padahal gak semua orang sanggup menjalani proses dan memiliki pola pikir menjadi Pengusaha. Lihat saja banyak yang hanya semangat di awal, tetapi tidak menjaga komitmen dan akhirnya bubar. Begitupun ketika kita ingin menjadi seperti teman kita yang memiliki karir sebagai Eksekutif Muda. Siap gak kalau kita harus mengalokasikan waktu, tenaga dan pikiran kita lebih banyak untuk urursan pekerjaan? Gaji yang tinggi tentu dibarengi dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menjadi Eksekutif muda, Freelancer, PNS ataupun Pengusaha bukanlah pencapaian, melainkan hanya pilihan dalam bekerja. Apakah bisa menjamin rasa bosan yang kita alami akan hilang ketika memilih resain dan beralih menjadi pengusaha misalnya? Sepertinya tidak ya. Tetapi mungkin menjawab rasa penasaran."Being right man, right place”.

    Ketika kita menjalani sesuatu, baik itu ketika menjalani pendidikan, bekerja atau berkarya, tetapi dalam prosesnya kita merasa insecure, khawatir, overthinking, merasa tidak bisa menggali potensi diri berarti kita sedang tidak berada di zona nyaman kita. Zona yang nyaman bukan tercipta karena kemalasan atau tidak melakukan apapun, melainkan tercipta dari rasa suka, passion dan perasaan bahagia saat kita sedang mengerjakan sesuatu. Semakin kita suka, maka akan semakin penasaran untuk mencari tahu lebih jauh lagi. 

    Zona nyaman bukan berarti berjalan mulus-mulus saja tanpa rintangan dan tanpa tantangan. Coba kita baca sejarah penemu-penemu yang namanya menggema di dunia dan selalu menjadi bahan soal yang kita temui ketika kita ujian. Misalnya penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison. Dia berjuang ribuan kali untuk bisa menemukan bola lampu pijar. Hal apa yang membuatnya bertahan mencoba ribuan kali jika bukan kenyamanan dan keingintahuannya yang tinggi dalam menjalani prosesnya? kalau dia tidak nyaman mengotak-atik logam dan platinum di hadapannya tentu dia sudah menyerah.

    Zona nyaman bukan berarti dia pengecut untuk memulai sesuatu yang baru. Tetapi dia hanya ingin konsisten pada suatu bidang yang dia jalani. Kita bisa lihat perjuangan pemain bulutangkis ganda putri Indonesia Greysia Polii bersama pasangannya Apriyani Rahayu yang berhasil meraih medali emas untuk Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2020. Mereka mengukir sejarah sebagai pebulu tangkis Indonesia yang meraih medali emas olimpiade di nomer ganda puteri dan Greysia sendiri menjadi pebulutangkis putri tertua dari Indonesia di usianya yang ke 33 tahun. Bertahun-tahun hidup Greysia banyak dihabiskan di lapangan bersama raket dan shuttlecock. Berkali-kali juga dia berganti patner. Berkali-kali dia mengahadapi lawan dari negara lain. Berkali-kali juga dia gagal untuk mencapai final, tetapi tidak menyurutkan semangat berjuanganya, tidak memutuskan untuk pensiun dini dan tidak juga mencoba berganti menjadi atlet cabang olahraga lain kan? Apa yang membuatnya bertahan sejauh itu? Tentu rasa nyaman bermain bulu tangkis, komitmen, dan pantang menyerah.

    Zona nyaman adalah fase yang membuat seseorang terus bergerak, terus menghasilkan sebuah karya, terus bekerja dengan hati yang gembira meskipun sedang dihadapkan pada tantangan dan rintangan. You can still grow and learn in your comfort zone.

    Seperti yang dikatakan oleh Megan Dhaum dalam bukunya The Unspeakable: And Other Subjects of Discussion bahwa kepuasaan hidup bisa diraih Ketika seseorang mampu memaksimalkan zona nyaman yang sudah diciptakan. Jadilah orang terbaik dalam zona nyamanmu.

    Lalu masikah kita mengkhawatirkan zona nyaman? Atau sebaliknya, kita perlu bersyukur ketika sudah dianugerahi zona nyaman? Karena sebenarnya yang perlu dikhawatirkan bahkan dihindari adalah zona aman dan zona malas, bukan zona nyaman. Jangan lupa bersyukur, bersyukur karena hidup kita lebih baik dari kemarin, bukan karena lebih baik dari orang lain. Semoga bermanfaat :)

Alasan-alasan Unik Kenapa Pilih Jurusan DKV

    Pasti kamu punya alasan dong ketika memilih sesuatu termasuk dalam memilih jurusan kuliah. Kecuali udah pasrah kali ya. Yaudahlah jurusan apa aja yang penting pake jaket kuning. Hehe. Di kesempatan kali ini aku ingin share alasan-alasan unik hasil survei aku ke teman-teman satu jurusanku memilih jurusan DKV.


1. Terhindar dari Matematika

    Kenapa matematika bagaikan voldemort yang ditakuti sih? Hehe. Sepertinya semua ilmu membutuhkan matematika karena ini ilmu dasar walaupun gak akan serumit menggunakan dan membedah rumus-rumus yang memang dipelajari di jurusan matematika, termasuk DKV juga ada unsur matematikanya walaupun tidak dominan. Misalnya ketika Dosen memberi tugas membuat display sebuah kemasan box, ya perlu dipikirkan perhitungan ukurannya, panjang, lebar, tinggi, sudut-sudutnya supaya pas. Beda satu cm aja sudah beda bentuknya. Hehe. Jadi, memilih jurusan DKV masih tetap ketemu matematika ya. 

2 . Biar Santai Kuliahnya

    Realitanya gak ada santai-santainya. Hahaha. Saat orang lain pasang alaram untuk menentukan kapan bangun tidur supaya gak keisangan. Anak DKV pasang alaram supaya inget tidur dan gak keterusan ngerjain tugas. Belum lagi kalau masih dipercetakan yang buka 24 jam, deg-degan takut ada kesalahan, tugas harus dikumpulin pagi-pagi jam delapan.

3. Biar Dibilang Keren 

    Padahal B aja. Haha. Udah berusaha gambar sebagus mungkin di matkul menggambar, tapi tetep aja mentok dapet nilai C. Haha. Inget mandi dan bisa makan aja udah bersyukur. Kalau gak sempet mandi sebelum ke kampus karena harus cepet ngumpulin tugas, parfum jadi andalan. Mata panda adalah tanda perjuangan. Haha. Melindungi tugas hasil begadang semalaman supaya gak kehujanan adalah keharusan.

4. Berharap Gak Ada Tugas Paper

    Selain ada yang berpikir kalau kuliah DKV gak akan ketemu matematika, buat yang memang jago gambar dari lahir berpikir bahwa kuliah DKV itu gak ada tugas paper, menggambar terus sampe lulus. Nyatanya kuliah jurusan DKV juga ada tugas paper seperti sejarah seni, estetika, branding, dan lain-lain. Mikir juga pake otak kiri. Hehe.

5. Dikira Bikin Karya Bebas

    Padahal banyak banget teori desain yang harus dipelajari dan ketika mendesain harus bisa menjawab 5 W + 1 H. Gak asal bikin logo, gak asal bikin karya, gak asal-asal menggambar yang penting ada. Haha.

    Dari kelima poin di atas, apa ada salah satu alasan kamu memilih jurusan DKV? Hehe. Apapun alasan kamu, tetap semangat berjuang sampai akhir ya. Semoga bermanfaat :)

Perbedaan Kuliah Jurusan Seni Murni dan DKV (Desain Komunikasi Visual)

    Tak kenal maka tak sayang. Cieeeh. Oleh karena itu kita kenalan dulu sama DKV biar gak tersesat. Apalagi buat yang ingin mengambil jurusan kuliah DKV nih. Memangnya beda ya antara seni dan DKV? Lalu apa sih perbedaan diantara keduanya? aku akan sharing berdasarkan pengalamanku ya.

    Perbedaan DKV (Desain Komunikasi Visual) dengan seni murni atau seni rupa yang bagaikan saudara kembar padahal bukan adalah Kalau di jurusan seni, kalian bisa sebebas – bebasnya bikin karya karena memang karya yang dihasilkan merupakan ekspresi diri dari senimannya, tidak mempedulikan orang lain mengerti atau tidak karena memang tidak diperuntukan untuk dimengerti dan tidak juga bertujuan menginformasikan sesuatu ke publik. Tidak ada aturan baku maupun teori yang harus diaplikasikan juga dalam hasil karyanya. Hasil karya dari seniman diantaranya adalah lukisan dan patung.

    Berbeda dengan jurusan DKV, karya yang dihasilkan memiliki tujuan untuk memberikan informasi dan mudah untuk dipahami oleh orang lain tanpa mengurangi keestetisan dari karya tersebut. Jadi bisa dibilang, tidak hanya belajar keindahan tetapi kita juga harus membuat orang lain mengerti dari karya kita. DKV itu gabungan antara seni dan teknologi. Maksudnya dalam pengerjaannya dibantu oleh aplikasi yang hasil akhirnya bisa dalam bentuk digital ataupun cetak. Dalam proses pembuatan karyanya, Desainer menerapkan teori dan aturan yang umumnya sebagai landasan pembuatan karya. Misalnya ketika ingin menerapkan warna pada desain, Desainer menggunakan color theory, yaitu Desainer mempelajari bagaimana cara mengkombinasikan warna dan apa arti di balik warna-warna tersebut, apakah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan dalam desain? Hasil karya dari Desainer antara lain poster, katalog, banner, dll. 

Contoh lukisan

Contoh Poster

    Sebagai contohnya seperti gambar di atas, coba kita bandingkan sebuah lukisan dan sebuah poster. Lukisan tidak bertujuan merayu siapapun untuk melakukan apapun. Lukisan hanya menggambarkan sesuatu yang bisa dinilai bebas dari berbagai sudut pandang. Tapi berbeda dengan poster. Poster ditunjukan untuk menyampaikan suatu pesan kepada massa dan tingkat keberhasilannya pun dilihat dari seberapa banyak massa yang terpengaruh dengan poster tersebut.

    Buat seorang Desainer Grafis, mendesain bukan keinginan dari dalam diri desainernya sediri tetapi berdasarkan dari brief yang klien butuhkan. Informasi-informasi yang klien berikan direalisasikan dalam bentuk visual. Desain grafis yang baik akan dilihat dari seberapa besar impact dari karya yang dihasilkannya.

    Kalo dalam dunia pendidikan, gelar yang didapat juga berbeda kuliah di jurusan seni dan DKV. Kalau mengambil jurusan seni gelarnya S.Sn. alias Sarjana Seni. Kalo DKV gelarnya S.Ds. alias Sarjana Desain. Semoga bermanfaat #cmiiw :)

Berkarir Dalam Dunia Desain Grafis

    Buat kamu yang lulusan DKV atau yang ingin terjun ke dunia desain grafis, secara garis besar ada dua pilihan dalam berkarir, yaitu menjadi Freelancer Designer atau InHouse Designer. Apa sih perbedaan keduanya? lalu apa kelebihan dan kekurangannya?


Freelancer Designer

    Memilih berkarir sebagai Freelancer Designer artinya bekerja berbasis project dimana Desainer memiliki kontrak dengan Klien dan menyerahkan pekerjaannya kepada Klien dalam jangka waktu tertentu. Desainer mendapatkan bayaran sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan sebelumnya. Tentu saja memutuskan untuk menjadi Freelancer Designer memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut aku coba sharing berdasarkan pengalaman ya.

Kelebihan Freelancer Designer

1. Flexibilitas Dalam Pekerjaan

    Hal ini terkait dengan waktu pengerjaan, jenis pekerjaan yang ingin digarap dan banyaknya project yang ingin dikerjakan. Kamu bisa mengerjakan kapanpun dan dimanapun kamu mau. Kamu gak dipaksa untuk mengambil pekerjaan yang kamu merasa itu bukan jalur kamu dan kamu gak sanggup. Misalnya kamu seorang Freelancer Designer dengan spesialisasi di bidang illustrasi buku anak, ya kalau ada tawaran desain pembuatan logo yang datang, gak ada yang memaksa kamu untuk mengambil dan mengerjakan project itu. Kamu bisa fokus untuk mengambil project yang memang berhubungan dengan illustrasi buku anak-anak sesuai dengan portofolio dan personal branding yang ingin kamu bangun. Kamu bebas menentukan ingin mengambil berapa project dalam sebulan asal disesuaikan dengan kesanggupan ya. Tetap jaga kesehatan :)

2. Bebas Memasang Charge Project

    Kamu bebas mengatur tarif atau harga dari jasa desain yang kamu tawarkan. Tetapi harus berdasar ya hitungannya. Kamu bisa menghitung dengan beberapa metode. Misalnya mulai dari modal kamu keluarkan untuk membeli peralatan untuk menunjang menyelesaikan project yang ditawarkan, biaya sehari-sehari seperti listrik dan internet, waktu dan biaya yang kamu habiskan untuk menempuh pendidikan dan biaya-biaya lainnya. Semakin tinggi jam terbang dan kemapuan seorang Freelancer Designer, semakin mahal charge yang ditawarkan ke Klien.

Kekurangan Freelancer Designer

1. Pendapatan yang Tidak Pasti

    Karena bekerja berdasarkan berapa banyak project yang digarap dan dengan harga yang berbeda-beda, jadi pendapatan dalam sebulan bervariasi. Kadang naik dan kadang turun. Tidak sepeti gajian karyawan kantoran yang bekerja full time yang sudah ditetapkan perbulannya. Walaupun bisa jadi nilai dari satu project senilai lebih dari satu bulan gajian Desainer yang bekerja di perusahaan dan di bulan itu kamu bisa mendapatkan 2 sampai 3 project, tetap harus memilah milih dalam hal pengeluaran ya karena tidak ada jaminan tunjangan kesehatan, transportasi dan makan. Belum lagi jika ada biaya tidak terduga lainnya. Jadi kamu sendiri yang mengaturnya.

2. Tuntuan Profesionalitas yang Tinggi

    Pekerjaan seroang Freelancer Designer bergantung pada kepuasaan Klien. Jika Klien puas dengan hasil yang diberikan dengan uang yang sudah dia keluarkan, Klien akan terus menggunakan jasa kita karena sudah merasa cocok dan bisa juga dia merekomendasikan ke Koleganya untuk menggunakan jasa kita. Hehe. Jadi siap sedia dan fast response ketika klien membutuhkan. Selalu berikan yang tebaik.

3. Dituntut Memiliki Banyak Kemampuan

    Maksudnya di sini adalah tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam hal desain. Tetapi diperlukan kemampuan pendukung lainnya seperti marketing, public relations, administrasi, keuangan dan lain-lain. Hal ini karena seorang Freelancer Designer tidak hanya mengeksekusi tampilan visual sebuah project, tetapi juga harus menjadi pemasar jasanya, mengelola project dan keuangannya sendiri. Hehe.

    Nah kita sudah membahas kelebihan dan kekurangan menjadi Freelancer Designer. Sekarang kita akan membahas tentang kelebihan dan kekurangan InHouse Designer. Masih panjang nih. Siapin cemilan dulu. Hehe.

InHouse Designer

    Memilih berkarir menjadi InHouse Designer artinya memilih bekerja sebagai Desainer tetap di suatu perusahaan seperti layaknya pekerja kantoran lainnya. InHouse Designer dibagi lagi menjadi bekerja di perusahaan non agency dan agency atau studio.

    Untuk perusahaan non agency, Desainer Grafis menggarap project desain khusus untuk kebutuhan desain sebuah perusahaan. Misalnya dimulai dari mendesain logo, brand guidelines, banner, backdrop, marketing kit dan lain-lain yang perusahaan butuhkan.

    Untuk perusahaan agency atau studio, Desainer Grafis mengerjakan proyek-proyek dari klien-klien yang berbeda. Misalnya mengerjaakan project A, B dan C untuk brand A dan satu Desainer Grafis bisa memegang lebih dari satu project dan brand. Jadi deadline-nya juga sangat padat dibandingkan InHouse di sebuah perusahaan non agency. Seringnya yang bekerja di sini jarang pulang kayak Bang Toyib. Rumah bagaikan kos-kosan. Hehe.

Berikut merupakan kelebihan dan kekurangan bekerja sebagai InHouse Designer.

Kelebihan InHouse Designer

1. Pendapatan Tetap

    Kamu akan mendapatkan pendapatan yang pasti per bulannya dengan tanggung jawab pekerjaan yang kamu harus selesaikan. Selain gaji, juga mendapatkan fasilitas lainnya seperti tunjangan kesehatan, transportasi, makan, uang lembur dan yang lainnya. Tergantung kebijakan masing-masing perusahaan ya. Ini cocok buat kamu yang mencari stabilitas.

2. Fasilitas Kerja

    Perusahaan biasanya menyediakan fasilitas kerja untuk menunjang pekerjaan karyawannya. Seperti laptop, aplikasi desain berbayar, alat komunikasi dan lain sebagainya. Ini juga tergantung bagaimana kebijakan perusahaan tempat bekerja.

3. Fokus Pada Kemampuan Dalam Hal Desain

    Kita tidak wajib menguasai banyak kemampuan pendukung di luar desain seperti halnya Freelancer Designer karena kita tidak perlu marketing untuk mempromosikan jasa kita, pekerjaan sudah datang dari kantor, gaji kita sudah ditanganin di bagian finance, administrasi dan kebutuhan lainnya juga sudah ditangani oleh bagian lainnya di perusahaan tempat kita bekerja.

4. Karir

    Jika kamu merupakan tipe seseorang yang mengejar karir, memilih menjadi InHouse Designer bisa menjadi pertimbangan. Jika bekerja di agency advertising atau studio secara struktural posisi dari paling bawah adalah visualizer, kemudian di atasnya ada Art Director lalu yang paling tinggi adalah Creative Director. Diantara ketiga struktur itu ada level junior, middle dan senior. Tetapi struktur ini tergantung kebijakan masing-masing agency atau studio juga ya karena tergantung juga berapa banyak klien dan brand yang ditangani.

Kekurangan InHouse Designer 

1. Terikat Dengan Sistem Kerja

    InHouse Designer pada umumnya bekerja dengan sistem kerja yang rutin layaknya jam kerja kantoran dan datang fisik ke kantor, yaitu dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Bahkan jika di agency atau studio bisa dari pagi sampai pagi lagi. Hal ini cenderung membosankan sih dengan rutinitas sehari-hari karena ada juga tipe Desainer yang night owl, baru bisa bekerja dan berkonsentrasi pada malam hari. Jadi tidak bisa flexible seperti Freelancer Designer.

2. Struktur Kerja Hierarki

    Setelah selesai mengerjakan project desain, tentu harus approval atau minta persetujuan apakah ada revisi atau tidak. Di perusahaan, InHouse Designer menjadi bagian dalam sistem hierarki. Hasil desain di forward sampai ke posisi orang yang memegang jabatan paling tinggi dan memberikan keputusan. Lalu ketika belum ada yang approve dari bebagai alternatif desain, alasannya “belum sreg aja gak tau kenapa”. Hehe. Wah ini sih bukan revisi lagi, tetapi redesain dan bikin beberapa alternatif lagi deh. Hehe.

    Nah, jadi kamu ingin berkarir di jalur mana? Baik Freelancer Designer maupun InHouse Designer tidak ada pilihan yang sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Selamat datang di dunia kreatif. Semoga bermanfaat #cmiiw :)

Hal-hal yang Dikira Bikin Hemat Tetapi Sebenernya Boros

    Mungkin kita sudah merasa melakukan penghematan pengeluaran dalam keuangan yang kita kira “Wah hemat banget nih. Jadi bisa irit. Bisa nabung” Tetapi kalau diperhitungkan lagi, ternyata kok masih banyak bocornya ya? Pemasukan segitu-gitu aja, tabungan kok gak nambah-nambah? Gimana bisa menyisihkan dana darurat juga kalo gini terus. wkkwkwk. Memangnya kamu yakin sudah merasa hemat? Yuk kita coba bahas bareng-bareng hal-hal yang kita kira bikin memat sebenarnya malahan bikin kita boros.

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

1. Tergoda dengan Diskon

    Siapa sih gak yang gak suka diskon? Pasti semua suka dong, apalagi para wanita nih. Ketika jalan-jalan ke Mall, mata tertuju pada sebuah tulisan besar-besar di depan sebuah toko baju, Diskon 70 persen, Diskon 50 persen, hari senin harga naik. Wkwkwk.  Kamu berpikir bahwa, wah mumpung diskon nih beli ah baju. Kamu berpikir kamu telah melakukan penghematan dengan membeli beberapa item baju diskon. Tapi coba dipikir lagi, kamu bener-bener butuh bajunya? Padahal baju dilemari juga numpuk. Ada yang baru dipakai sekali bajunya lalu sudah mengendap dilemari bersama teman-temannya yang lain atau malah berakhir di lemari tanpa pernah dipakai sama sekali dan masih ada tag harganya. Hehe. Kalau gak tergoda dengan diskon itu, kamu bisa simpan uangnya. Barang diskonan belum tentu kamu perlukan.

    Begitupun kalau misalnya ada promo beli skincare beli dua gratis satu, padahal di rumah masih ada. Tetapi mumpung beli dua gratis satu sikat aja lah. Untuk menghabiskan satu skincare saja mungkin memerlukan waktu yang lama karena hanya diperlukan sekali atau dua kali dalam seminggu. Sayang kan kalau sampai kadaluarsa dan akhirnya kebuang. Hehe. Yakin sudah hemat? coba dipikir lagi sebelum memutuskan membeli.

2. Membeli dengan Menggunakan Kartu Kredit atau Paylater

    Banyak banget kan promo menggiurkan kalau kita memilih metode pembayaran menggunakan kartu kredit atau paylater. Ini membuat kita secara tidak langsung menjadi konsumtif jika tidak digunakan dengan bijak. Ingat ya, kartu kredit atau paylater itu hutang. Uang yang kita pinjam dan harus kita bayar, bukan milik kita. Jadi gunakanlah secara bijak, bukan untuk konsumtif memuaskan keinginan. Apalagi untuk membeli barang-barang yang mengalami “depresiasi”. Demi bisa menggunakan smartphone terbaru, dibela-belain menggunakan kartu kredit atau paylater. Belum juga lunas, barangnya bisa jadi sudah rusak secara tidak sengaja atau dicuri, kamu masih harus membayar cicilannya tetapi barangnya sudah gak ada. Padahal smartphone yang ada sekarang masih bisa digunakan dan baik-baik aja dan gak perlu-perlu banget smartphone terbaru.

3. Membeli Sesuatu dengan Harga Semurah Mungkin

    Di sini bukan bermaksud harus membeli sesuatu yang branded atau dengan harga yang wow ya. Ada harga ada kualitas. Membeli barang semurah mungkin membuat kita berpikir bahwa wah bisa hemat nih beli aja yang paling murah. Tetapi barang itu cepat rusak gak? Akan awet dipakai berapa lama? Tentunya dengan membeli barang dengan harga sedikit lebih mahal dengan kualitas yang lebih baik membuat kita lebih hemat karena akan bisa digunakan dengan jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan barang dengan harga paling murah tetapi cepat rusak dan tidak awet. Kita jadi harus mengeluarkan uang untuk membelinya lagi kan?

    Percaya gak? Orang tuaku membelikan jaket pink ini saat aku kelas 6 Sekolah Dasar dan masih baik aku gunakan sampai sekarang. Teman-teman SD sampai aku kuliah pasti pada tahu jaket legend ini yang sering aku pakai kalau cuaca hujan dan dingin. Hehe.


 

4. Sering jajan-jajan “kecil”

    Jajan-jajan “kecil” ini sering kita gak sadari, tetapi bikin bocor keuangan. Padahal habis makan siang, lalau iseng buka aplikasi karena gabut, ah jajan kopi kekinian ah, jajan boba ah, ke minimarket depan jajan ciki sebungkus ah dan jajan-jajan lainnya. Kelihatannya jumlahnya kecil kalau sekali jajan-jajan “kecil” ini. Terapi jumlahnya akan membesar kalau dilakukan secara intens. Sudah coba kamu akumulasi dalam sebulan? hehe.

    Jadi kemungkinan uang yang kamu miliki "bocor" di beberapa poin tadi. Hemat itu ketika kamu bisa bijak dalam melakukan pengeluaran dan uangnya jelas untuk apa. Tidak membeli secara berlebihan selalu lebih hemat daripada membeli. Hehe. Sama-sama masih belajar ya. Semoga bermanfaat :)

Mengapa Produk Apple Sangat Diminati Walaupun Harganya Mahal?

    Ketika kita melihat logo apel ‘kroak’ di PC, laptop ataupun smartphone kita langsung tahu itu adalah brand Apple. Lalu kenapa sih produk-produk dengan logo apel ‘kroak’ itu harganya mahal? Padahal desainnya juga monoton dan jarang berubah. Apalagi, kita susah melakukan kustomisasi tampilan antarmukanya. Tetapi tetap saja ada yang mau beli. Bahkan ada customer loyal-nya dengan sebutan Apple Fanboy (sebutan untuk fans laki-laki) dan Apple Fangirl (sebutan untuk fans perempuan) yang rela antre sejak pagi demi bisa mendapatkan produk terbaru yang diluncurkan brand tersebut. Aku pribadi bukan termasuk Apple fangirl. Aku hanya menggunakan beberapa produknya saja yang sesuai kebutuhan. Berikut beberapa alasannya menurut perspektif pribadi.


1. Mudah Digunakan dan Sederhana

    Orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan produk-produk Apple lebih tertarik pada experience yang ditawarkan produk-produk ini. Banyak orang berpendapat bahwa perangkat Apple sangat mudah untuk digunakan. Perusahaan tersebut tahu bagaimana membuat sebuah produk yang tidak akan membuat pusing penggunanya. Hehe.

    Apple juga selalu berusaha berbenah untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Siri salah satu contohnya. Aku suka menggunakan siri. Siri adalah asisten pribadi pintar yang membantu kita dengan memerintahkannya menggunakan suara kita. Siri tidak terdapat di produk brand lain manapun. Hanya ada di produk Apple.

    Desain minimalis telah menjadi ciri khasnya sejak lama. Desain di sini bukan hanya perangkat keras saja, tetapi juga perangkat lunaknya. Desain Apple banyak diikuti oleh produsen smartphone lainnya, walaupun sempat diremehkan di awal kemunculan produk terbarunya, seperti desain iPhone yang menggunakan poni dan letak kameranya. Kemudian, untuk sistem operasinya biasanya menjadi trendsetter tersendiri. Menjadikan acuan para UI/UX designer untuk mendesain website, aplikasi mobile, seperti desain skemuorphism dan neumorphism.

2. Build Quality

    Produk Apple terkenal awet. Secara build quality produk Apple menggunakan komponen berkualitas, sebut aja aluminum body dan layar retina. Jika kita melihat kedalamnya mesinnya, seperti letak komponen board, baterai, kabel, chip dan lainnya sangat rapi. Jadi Apple tidak hanya memperhatikan kualitas bagian luarnya namun sampai kedalam mesinnya. 

    Baterai laptop MacBook bisa tetap konsisten digunakan untuk rentang waktu antara 5 sampai 8 jam meskipun sudah digunakan selama lima tahun. iPhone yang digunakan bisa bertahan selama bertahun-tahun sebelum melambat.

3. Ekosistem Apple

    Secara ekosistem, integrasi antar perangkat Apple sangat seamless. Kita bisa dengan mudah mengoneksikan iPhone kita ke MacBook. Begitupula Apple Watch dan AirPods pun bisa dengan mudah terhubung ke perangkat Apple kita. Kemudahan integrasi antar perangkat ini susah ditemukan pada kompetitornya.

4. Perangkat Lunak yang Eksklusif

    SoC Apple dan sistem operasi iOS nya dibuat sendiri. Jadi mudah bagi Apple untuk mengoptimalkan perangkat lunak nya dengan hardware nya. iOS cuma bisa di-install di perangkat iPhone. Hasil video dan foto di Instagram sangat bagus menggunakan iPhone. 

    Tidak hanya eksklusif, dukungan update sistem operasinya pun sampai 5 tahun ke atas. Berbeda dengan Android yang hanya maksimal 3 tahun, itupun untuk smartphone flagship.

    Secara kurasi, aplikasi di iOS sangat berkualitas dan minim bugs. Dibandingkan dengan Android aplikasinya bisa terbit hanya dalam satu hari dan memungkinkan kamu meng-install APK sendiri yang mungkin tidak aman.

5. Tingkat Keamanan

    iPhone ataupun MacBook masih bisa diserang oleh peretas dan terkena virus, namun kemungkinannya jauh lebih kecil dari smartphone Android atau OS Windows. Apple juga sering menjadi yang pertama dalam membuat sistem keamanan canggih di produk-produknya, mulai dari Touch ID hingga Face ID.

6. Brand

    Brand Apple merupakan brand paling bernilai tahun 2020 menurut Forbes. Jadi untuk beberapa penggunanya, menggunakan produk Apple menaikkan prestise dan memiliki kebanggaan sendiri. 

10 besar brand paling bernilai tahun 2020 menurut Forbes

    Produk Apple juga terkenal memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan para kompetitornya. Harga second-nya aja masih bisa buat beli laptop atau smartphone baru. Hehe.

    Jadi, sebenarnya apapun brand gadget kamu, kembali ke kebutuhan masing-masing ya. Ada kekurangan dan kelebihannya juga. Jika dinilai dari overpriced-nya itu sangat subjektif. Semoga bermanfaat :)

Review Kamera Sony Z-V1, Kecil-kecil Cabe Rawit

    Oke deh karena lumayan banyak minta spill kamera yang aku gunakan untuk merekam video, aku akan sharing di kesempatan kali ini ya. Btw, kalau kalian ingin membeli kamera pertama kali, kalian tentukan dulu fungsi kamera yang kalian akan gunakan akan lebih banyak digunakan untuk foto dan video karena gak ada kamera yang sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Aku pribadi sampai riset selama berbulan-bulan sebelum membelinya karena aku memang tidak menekuni dunia fotografi atau videografi dan juga bukan merupakan hobi. Akhirnya pilihanku jatuh pada kamera Sony Z-V1 karena aku juga akan lebih banyak menggunakannya untuk kebutuhan videografi yang amatir tapi rasa profesional. Wkwkwk.

    Aku gak akan membahasnya secara teknis, tetapi dari segi user experience aja. Jadi ini opini pribadi ya. Kalian bisa lihat spek lengkapnya di websitenya Sony klik di sini. Aku juga pernah membuat video tentang tips merawat kamera di channel youtube aku dan objeknya menggunakan kamera ini klik di sini untuk melihat videonya. Kamera Sony Z-V1merupakan kamera yang diluncurkan sekitar bulan juli tahun 2020 di Indonesia (cmiiw). Berikut merupakan pertimbangan aku memutuskan untuk membeli kamera ini.


1. Simple dan Praktis

    Aku bukan seorang profesional dalam bidang fotografi maupun videografi yang membutuhkan kamera high spec seperti kamera DSLR atau mirrorless, jadi aku gak mau ribet untuk mengatur exposure, aperture, iso, shutter speed, white balance dan lain-lainnya itu tapi aku mau hasilnya bagus. wkwkwk. Aku mau yang automatic aja gitu gak setting manual. Dan si Sony Z-V1 ini mulai dari tombol-tombolnya, pengaturan kameranya dan juga penggunaannya itu mudah banget dipelajari sekalipun oleh orang awam yang baru pegang kamera. Padahal kalau secara keseluruhan dari produk kamera yang dikeluarkan Sony, UI (User Interface) dari kamera Sony lumayan sulit dipahami. Ini karena kebiasaan aja kali ya. Hehe.

    Ada tombol “Background Defocus”, tinggal diaktifkan aja langsung bokeh atau blur latar belakangnya ketika kita merekam video. Ada juga tombol untuk product showcase jika kita ingin memfokuskan pada object yang ingin kita perlihatkan. Seperti yang sering dilakukan para Beauty Vloger.

    Layar LCD nya juga variangle, artinya layar bisa diputar ke segala arah. Jadi lebih flexible ketika kita ingin mengambil foto tau video, gak perlu sampe tiarap. Wkwkwk.

    Tersedia hot shoe dan port mikrofon jika ingin menambahkan audio eksternal yang gampang banget buat dibongkar pasang.

2. Ringan dan Ringkas

    Kamera Sony Z-V1 ini adalah kamera compact. Ukurannya kecil, ringkas dan gak butuh banyak ruang  kalau mau di bawa kemana-mana dan juga gak terlalu mencolok kalau dibawa ke tempat umum. 

    Sony juga merilis sebuah aksesoris yang dibuat khusus untuk Sony ZV-1, yaitu GP-VPT2BT Shooting Grip. Ini adalah grip tambahan, tanpa efek stabilisasi. Tetapi grip tersebut dilengkapi sebuah remote khusus untuk kontrol kamera dari jarak jauh.

 

3. Mudah perawatannya

    Gak seperti kamera DSLR atau mirrorless yang membutuhkan dry box yang diletakan silica gel untuk tempat penyimpan kamera supaya lensa gak berjamur dan menjaga suhu kamera supaya tetap stabil, kamera pocket ini cukup dimasukin ke dalam kardusnya aja kalau gak dipake. Tetapi pastikan ruangannya gak lembab ya. Tetap kering.

4. Kualitas Foto dan Video yang Dihasilkan Bagus dan Tajam 

    Walaupun kecil,  autofokusnya sangat cepat. Kamera ini mampu merekam video hingga resolusi 4K 24/30fps, juga opsi untuk merekam video slow motion hingga 960fps. Tersedia juga opsi interval shooting untuk video time-lapse. 

5. Mudah Transfer Data 

    Setelah selesai mengambil gambar atau merekam video, kita bisa langsung transfer file-nya ke smartphone melalui wifi menggunakan aplikasi imaging edge mobile. Aplikasi punya Sony yang bisa diunduh di App Store dan Google Play. Jika ingin transfer data ke laptop, bisa menggunakan kabel microUsb yang didapat juga ketika pembelian atau menggunakan memory card reader.

    Tentu saja kamera ini juga punya kekurangan. Tetapi buat aku gak terlalu masalah. Selain ukuran baterainya yang kecil, kapasitas baterainya juga kecil. Jadi paling bisa merekam maksimal 30 menit aja dan tentunya kita memerlukan baterai cadangan, aku membeli 2 baterai cadangan lagi. Tetapi aku gak pernah lama juga sih menggunakannya dan di dalam ruangan aja. Jadi cukup-cukup aja. Paling repot ketika ganti baterai ketika menggunakan tripod. Harus dibongkar dulu tripod-nya karena letak baterainya berdampingan dengan lubang untuk menaruh tripod di bawah.

    Mic audio internalnya bisa mendeteksi arah suara dan membuat audio lebih bagus dan nyaman didengar, terutama di saat kita merekam video di tempat yang berisik. Tetapi tetap perlu mic eksternal supaya bisa maksimal. Kalau aku pribadi menggunakan dubbing sih gak ngomong langsung. Jadi gak masalah juga. Wkwkwk.

    Oh iya, layarnya juga belum touch screen. Paling touch screen-nya hanya ketika kita ingin memfokuskan dan membidik objek, jadi untuk memilih setting-an ya menekan-nekan tombolnya dan di kamera ini juga gak ada viewfinder atau jendela bidik kamera. Jadi objek dilihat melalui LCD aja.

    Mungkin segitu aja review-nya. Aku pribadi cukup banget dengan feature yang ditawarkan kamera ini dan cocok banget buat yang gak mau ribet. Hehe. Semoga bermanfaat ya.

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers