Hello, I’M Nana

Welcome to My World

About Me

Graphic Designer

Assalamu'alaikum. Perkenalkan namaku Nana Rosdiana. Kalian bisa memanggilku Nana. Aku adalah seorang Graphic Designer, UI Designer dan Content Creator yang masih akan terus belajar. Website ini adalah catatan belajarku. Semoga bermanfaat ya untuk siapapun yang membacanya.

Mungkin bisa dibilang aku berkripadian ambivert yang merupakan gabungan kepribadian dari ekstrovert dan introvert dimana cenderung lebih fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi.

Udah gitu aja perkenalan dirinya sepertinya. Hehehe.

Nana Graphic Designer

My Services

WHAT I CAN DO

Graphic Design

UI Design

Writing

Kreativitas bisa lahir di manapun, tak terkecuali di kamar tidur. Untuk mempermudah pekerjaanku sehari-hari, aku dibantu oleh aplikasi desain dari Adobe seperti Adobe Photoshop, Adobe Illustrator dan Adobe XD.

Terimakasih sudah mengunjungi rumahku ini. Silakan kunjungi portofolio aku di www.behance.net/nanarosdiana atau Instagram nanarosdiana dan untuk video-video seputar desain grafis silakan mampir ke Youtube Channel Nana Rosdiana . Semoga kita bisa berkolaborasi ke depannya. Salam kenal :)

  • Graphic Design 95%
  • UI Design 80%
  • Illustration 70%
  • Writing 80%

My Blog

MY BEST WORKS
Bisa Gak Sih Kuliah Jurusan DKV Sambil Kerja?

    Judul tulisan di atas terinsipirasi dari beberapa orang yang sering menanyakan padaku, "Bisa Gak Sih Kuliah Jurusan DKV Sambil Kerja?" Aku akan sharing berdasarkan pengalaman dan opiniku aku ya.

    Kalau jawaban aku pribadi bisa-bisa aja kuliah jurusan DKV sambil kerja, tetapi akan lebih berat daripada yang memang fokus kuliah saja tidak disambi kerja karena memang mata kuliah di jurusan DKV itu unik-unik apalagi nirmana. Hehe. Ketika aku kuliah D3, saat semester awal masuk, aku menjalaninya sambil mengajar bimbel kelas 12 SMA dan juga ikut organisasi ketika itu. Aku mengajar mata pelajaran matematika, fisika, kimia dan bahasa inggris. Jadi pagi sampai siang aku kuliah. Lalu siangnya pulang kuliah aku mengajar bimbel. Aku bisa mengajar 3-4 kali dalam seminggu. Di hari lain yang tidak ada jadwal mengajar, aku pergi ke sekret untuk mengikuti beberapa organisasi di kampus. Kalau mengajar dan organisasi jadwalnya sedang berbarengan, aku harus memilih mana yang menjadi prioritas dan izin ketika aku tidak bisa menjalani keduanya. Malamnya dan weekend aku mengerjakan tugas. Tidak ada waktu kongkow. jadi polanya kuliah-mengajar bimbel-organsisasi. Aku mengajar bimbel sampai aku semester 2. semester 3 ke atas sampai lulus aku fokus menyelesaikan kuliahku dan organisasi karena semester 3 ke atas kuliah dan organisasi semakin sibuk, jadi aku memutuskan berhenti dari mengajar bimbel. Lalu aku sekali dua kali mengambil beberapa job freelance yang berhubungan dengan desain sebagai pengganti uang gaji dari bimbel. Lumayan bisa buat beli cat air tanpa harus membebani orang tua yang sudah membiayai aku kuliah.

    Saat-saat libur semester pun aku menyibukan diri dengan mencari uang dan diselingi dengan organisasi. Ikut organisasi supaya dapet link teman-teman di luar jurusan. Hehe. Pernah saat menjelang semester akhir di tempat aku magang akan ada event pameran buku yang termasukan event besar di Senayan. Aku mengikuti seleksinya. Alhamdulillah aku lolos dan bekerja sebagai sales buku selama 10 hari. Aku naik motor bolak balik Depok-Senayan. Aku berdiri dari pagi sampai malam membantu orang-orang yang berkunjung ke stand mencari buku yang ditanyakan. Waktu break ketika makan siang, salat dan ke toilet. Itu pun secara bergantian dengan yang lain. Gini amat cari duit ya. Hahaha. Lumayan uangnya ditabung buat print tugas akhir nanti. Hehe. Alhamdulillah kuliah D3 aku bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang lumayan baik. Allah yang mempermudah segalanya.

    Setelah lulus dari D3, aku bekerja di sebuah perusahaan. Aku menabung dan berencana untuk melanjutkan S1. Alhamdulillah uang untuk kuliah terkumpul. Beberapa tahun setelahnya aku lanjut S1 dengan biaya kuliah full dari aku sendiri beserta untuk tugas-tugasnya. Aku bekerja dari pagi sampai sore dari hari senin sampai jumat. Lalu Aku kuliah malam ketika weekday dan juga hari sabtu. Hanya hari minggu aku bisa di rumah. itu pun mengerjakan tugas kuliah. Hehe. Aku sudah mengatakan pada perusahaan tempat aku bekerja bahwa aku akan bekerja sambil menjalani kuliah. Alhamdulillah kantor tempat aku bekerja mendukung. Diizinkan dengan mudah ketika ada urusan dengan kampus dengan catatan pekerjaan yang sedang aku handle tetap berjalan dengan baik. Capek pake banget sih pagi bekerja dan malam harus kuliah atau mengerjakan tugas, sabtu pun juga tersita. Ketika skripsi harus bolak balik ketemu dosen pembimbing. Tetapi tekad aku untuk lulus tepat waktu, segera wisuda ditambah aku sudah membiayai kuliahku dengan keringat aku sendiri lebih besar. Perjuangan yang melelahkan ini pasti ada ujungnya. Alhamdulillah atas izin Allah, aku bisa lulus S1 dan wisuda tepat waktu juga.

    Jadi, buat teman-teman yang ingin kuliah sambil bekerja atau ambil kelas karyawan itu bisa banget dengan catatan tekad dan semangat kalian harus kuat. Tetap opitimis dalam berusaha dan berdoa. InsyaAllah kalau ingin berbuat baik, Allah mudahkan jalannya. Semua kelelahan itu akan menjadi perjalanan manis yang ketika suatu saat nanti kita menengok ke belakang, kita akan mengingatnya dan berkata "aku bisa melalui itu semua". Tetap semangat! :)

Culture Shock Di Dunia Kerja

    Buat anak kelahiran 90-an, ketika sekolah mengalami UN (Ujian Nasional) kan? rasanya capek banget jadi pelajar. Haha. Belajar setiap hari, ke sekolah berangkat pagi pulang sore, mengerjakan PR yang soalnya beda banget sama contoh soal lalu pergi ke tempat les belajar lagi. Semua dilakukan supaya bisa lulus kalau bisa dengan nilai yang baik. Lalu setelah melewati UN, masih ada tes-tes untuk ujian masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Saingannya dari Sabang sampai Merauke. Gagal tes, coba lagi, lagi dan lagi. Setelah masuk PTN, masih harus berkutat dengan tugas2 kuliah. Syarat kelulusan adalah bikin tugas akhir atau skripsi. Masuk susah keluar susah pokoknya. Haha. Ketika masih pelajar rasanya pengen cepet-cepet kerja. Biarpun rasanya capek tapi ketika bekerja kan mendapatkan gaji. Hehe. 

    Setelah lulus dari dunia pendidikan, jalur hidup mainstream adalah mencari kerja. Wah enak nih gak usah ngerjain PR, gak ketemu Guru killer, gak ketemu pelajaran yang pake rumus-rumus, gak perlu panas-panasan upacara, pulang sekolah gak perlu bimbel dan beban berat sebagai pelajar lainnya. Tapi ternyata dunia kerja tidak menyelesaikan "rasa capek" ketika menjadi pelajar. Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Haha. 

    Saat aku masih menjadi pelajar dan mahasiswi, sebenernya aku juga sambil bekerja. Ketika SMA aku pernah menjadi reporter di warta kota dan ketika kuliah aku mengajar private. Tetapi hal itu berbeda sekali dengan bekerja sebagai karyawan kantoran dengan usia yang lebih matang. Mungkin terlihat keren dengan kemeja rapih, jalan sambil menelepon, sok sibuk dengan meeting, mendapat gaji tetap setiap bulan, kerjanya di depan laptop, di gedung tinggi, gak kepanasan, dan lain-lain. Tetapi di balik semua itu ada culture shock yang mewarnai hari-hari. Haha. 

    Aku pernah intenship dan bekerja di beberapa perusahaan, berikut beberapa culture shock yang aku alami yang mungkin juga kalian alami. Ini berdasarkan pengalaman dan opiniku ya.

1. Senioritas

    Senioritas ketika sekolah juga ada sih. Di dunia kerja yang aku rasakan lebih kepada orang yang lebih dulu atau lebih lama bekerja di perusahaan dengan jabatan yang sudah level di atas kita dan tentunya lebih berkuasa, lebih tahu segalanya, merasa paling benar, tidak mau menerima kritik dan saran, gila hormat, membutuhkan pengakuan dan bisa jadi mengakui pekerjaan orang lain. Mengakui pekerjaan orang lain di sini misalnya ketika si A yang sudah senior ini diperintahkan dengan orang yang levelnya berada di atasnya ini melempar pekerjaannya lagi kepada si B yang berada dalam satu teamnya dan levelnya berada di bawahnya. Lalu ketika pekerjaan yang diperintahkan telah di selesaikan si B, saat si A memberikan hasil pekerjaan kepada orang yang levelnya berada di atasnya, si A ini mengaku kalau pekerjaan ini dia yang mengerjakannya. Ada juga senior yang hobinya main game dan malas-malasan. Hehe. Juniornya yang diminta menyelesaikan tugas kerja rodi. 

2. Yang rajin dan pintar adalah yang bekerja lebih keras

    Kalau di sekolah anak yang pintar dan rajin adalah yang ngasih contekan dan juara kelas, kalau di dunia kerja hati-hati bisa jadi "dimanfaatkan". Kamu punya banyak skill? kamu bisa multitasking? Kamu cepat dalam mengesekusi sesuatu? Siap-siap kamu yang akan lebih sering menghabiskan waktumu untuk lembur dan di pingpong sana sini karena yang rajin apalagi ditambah pintar yang akan lebih bekerja keras dan menjadi andalan supaya pekerjaan cepat selesai daripada meminta tolong rekan kerja yang lain dan lebih lama menyelesaikan pekerjaannya bikin gemes. Hehe.

3. Semua benda di kantor bisa berbicara

    Semua benda mati di kantor seperti tembok, pintu, kursi, pulpen serasa punya mata, punya telinga, punya mulut. Jadi hati-hati kalau mau cerita apapun ke siapapun orang di kantor karena ketika kamu cerita ke satu orang, cerita kamu bisa menyebar saat itu juga ke seluruh kantor bahkan walaupun kamu belum cerita udah kesebar itu cerita saking horornya. Jadi, menurut aku paling bener kerja, ambil gaji lalu pulang. Hehe. Sangat hati-hati dalam mencari teman di lingkungan kantor.

4. Jangan terlalu menunjukan kemampuan kamu di luar bidang pekerjaan kamu

    Wah selain kamu bisa desain, kamu bisa edit video juga? bisa bikin ilustrasi juga? bisa bikin denah gedung juga? bisa hitung pajak juga? bisa bikin business plan juga? tolong bantuin kerjain ini dong, itu dong, ini juga tolong dicek ya. Bisa lah nanti sore udah jadi. Hehe. Kalau kamu terlalu menunjukan kemampuan kamu di luar bidang perkerjaanmu, siap-siap sekali seseorang minta tolong, akan menjadi habit dan itu secara tidak langsung akan menjadi jobdes kamu. Hehe. Jangan terlalu inisiatif juga karena nanti bisa dapet kerjaan lebih banyak dan jangan terlalu berharap mendapat appericate.

5. Status Cuti tapi harus standby

    Dulu ketika status masih pelajar atau mahasiswa, libur ya benar-benar libur. Dalam artian kita bebas sementara dari PR, tugas kuliah dan kepusingan lainnya sebagai pelajar sampai nanti waktu libur selesai dan memulai semester baru. Di dunia kerja, kita bekerja dari hari senin sampai jumat, hari sabtu dan minggu libur. Ini tergantung kebijakan kantor masing-masing ya. Kita memiliki hak cuti tahunan. Biasanya 12 kali dalam setahun yang bisa kita gunakan kapan saja selama setahun itu. Ini di luar cuti hamil dan melahirkan untuk perempuan, cuti menikah dan lainnya. Tetapi sayangnya ketika di dunia kerja, cuti ini tidak benar-benar kita terbebas dari kerjaan. Kita masih harus standby paling tidak melalui chat jika ada yang harus ditanyakan oleh rekan kerja atau yang lebih menakutkan dikerjakan saat itu juga dan itu adalah project atau pekerjaan yang sedang kita handle sehari-hari. Apa itu cuti, tanggal merah, weekend? kalendar serasa hitam semua. Hehe.

    Mungkin segitu aja culture shock yang aku alami selama di dunia kerja. Kalau kalian apa saja nih? yuk sharing di kolom komentar. Hehe.

Service MacBook harganya jutaan. Masih mau pakai MacBook?

    Hallo semuanya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Senang sekali rasanya bisa menulis lagi setelah sekian lama hiatus. Hehe. Di kesempatan kali ini aku ingin sharing pengalaman service laptop MacBook. Jadi, untuk membantu pekerjaanku dalam mendesain sehari-hari aku dibantu oleh dua laptop. Laptop yang pertama adalah MacBook Pro keluaran tahun 2015 yang masih menggunakan processor intel dan yang kedua adalah MacBook Pro keluaran tahun 2020 yang sudah menggunakan processor M1. Yang mengalami kerusakan adalah yang MacBook Pro tahun 2015. Setelah digunakan selama kurang lebih 7 tahun dia tumbang juga. Hehe.

    Kejadiannya bermula ketika aku ingin charger laptopku karena baterainya tinggal 10 persen-an. Pertama-tama semua terasa normal dan baik-baik saja. Tetapi beberapa detik kemudian indikator baterai ketika di-charge tidak berjalan lagi. Segera aku save file-file desain yang sedang aku kerjakan. Aku kira hanya longgar saja charger-nya. Aku cabut colok untuk memastikan. Lampu pada charger berjalan dengan normal. Tetapi tidak mengisi daya baterai. Aku diamkan beberapa saat, kemudian aku coba cabut colok lagi di stop kontak yang berbeda-beda. Tetapi tidak berpengaruh sama sekali. Baterai kemudian habis dan laptop mati total. Beberapa jam kemudian, Aku tetap berusaha charger laptop dalam keadaan baterai habis dan screen mati hingga kurang lebih setengah jam lamanya. Ketika aku mencoba menekan tombol power-nya, screen tidak mau menyala. Seharusnya kalau terisi baterainya kan menyala. Aku berpikir untuk mencobanya lagi besok. Mungkin laptopnya perlu healing dulu. Hehe.

Kondisi lampu charger menyala tetapi screen sudah mati kehabisan baterai

    Keesokan harinya aku mencoba kembali tetapi hasilnya masih dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Mungkin karena aku terlalu kencang menancapkan charger-nya ke stop kontak, duckhead pada charger jadi ikut rusak. Ini menambah masalah lagi. Haha. Aku mencoba membeli duckhead baru di online shop. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi sampai duckhead-nya tiba di rumah.

duckhead yang rusak

    Esoknya, ketika barang yang ku pesan datang, aku langsung menggantinya. Tetapi masih tidak ada perubahan. Dengan kesotoyan, aku mencoba mencari-cari video cara mengatasi masalah ini di YouTube. Aku sudah ikuti step-step yang dikatakan beberapa video. Tetapi nihil. Mungkin ini ada hardware yang rusak pikirku. Aku segera menghubungi temanku yang pernah service MacBook-nya dan memang satu kampus denganku dulu, tetapi beda kelas. Ternyata, dia service MacBook-nya dengan teman kuliah kami yang masih satu jurusan, tetapi beda kelas. Hahaha. Dunia selebar daun kelor. Sudah bertahun-tahun berlalu ternyata dia tidak menjadi Desainer Grafis lagi dan mendirikan usaha sendiri jasa service MacBook. Aku baru tau update-nya. Aku segera meminta kontaknya agar laptopku segera diperbaiki. 

    Aku prefer service dengan orang yang aku kenal sih. Menurutku lebih aman dan terpercaya. Banyak juga kan tempat service laptop yang tidak amanah. Ntah ada yang diambil atau dituker komponennya. Kasihan untuk orang awam yang tidak tahu. Semasa kuliah aku juga selalu meminta temanku untuk memeriksa jika ada hal-hal aneh pada laptopku.

    Oke balik lagi ke cerita service MacBook. Setelah aku kontak temanku, kami janjian di McD pagi hari ketika weekend. Aku datang lebih dulu kemudian aku memesan salah satu menu dan menunggunya, 15 menit kemudian temanku datang. Aku langsung memberikan laptopku dan aku menceritakan lagi kronologinya. temanku mengeluarkan semacam pouch yang berisi obeng-obeng dengan berbagai ukuran. Kemudian dia mulai memutar sekrup yang terdapat di bagian body belakang laptop satu persatu. Dia mulai menganalisa dan mengatakan kalau kemungkinan laptopku rusak bagian logic board. Dia menjelaskan yang intinya adalah logic board memiliki peranan penting dalam sebuah komputer termasuk pada MacBook atau iMac itu sendiri, karena hampir semua inti komponen ada pada logic board. Komponen inti pada logic board antara lain prosessor yang mempunyai fungsi mengontrol keseluruhan jalannya sebuah sistem komputer dan digunakan sebagai pusat atau otak dengan fungsi melakukan perhitungan dan menjalankan tugas. Setelah itu dia izin untuk membawa laptopku agar diperikasa lebih lanjut dan kembali memasang sekrup-sekrupnya. Kami sedikit bernostalgia saat di kampus dulu dan dia menceritakan bagaimana dia mendalami dunia Apple dan bisa menawarkan service MacBook sebelum akhirnya kami saling pamit dan kembali dengan urusan masing-masing.

    3 hari kemudian, temanku chat aku kembali dan bilang kalau benar logic board-nya yang rusak serta kabel chargeran-ku harus diganti dengan total biaya service semuanya 3 jutaan. Hehe. Tinggal tambahin 4 jutaan lagi sudah dapat laptop windows yang baru nih. Laptop yang di-service ini banyak sejarahnya. Aku membelinya saat laptop ini dilelang di kantor tempat aku bekerja dengan harga yang miring. Kebetulan aku yang menggunakan laptop ini kurang lebih selama 3 tahun-an. Masih bagus banget kondisinya. Mungkin sudah usia juga dan dia lelah jadi ada beberapa komponen yang perlu diganti. Aku sendiri lebih suka desain MacBook yang dulu dibanding yang sekarang. MacBook yang dulu logo apple-nya menyala sedangkan yang keluaran 2015 ke atas sudah tidak menyala lagi. Lalu juga soal usb. MacBook yang dulu tidak perlu dongle. Yang versi setelahnya menggunakan usb type c, jadi mau gak mau perlu membeli aksesoris tambahan yang harganya menurutku lumayan. Hehe.

    Setelah menyetujui biayanya, temanku akan memprosesnya. Kurang lebih service-nya menghabiskan waktu 2 mingguan karena temanku ini sedang banyak antrian laptop yang harus di-service dan aku tidak terlalu terburu-buru juga. 

    Setelah service selesai, kami janjian di McD lagi. Hobi banget ya ke McD. Temanku kemudian menyerahkan laptopnya kepadaku dan kemudian aku diminta memeriksanya. Setelah aku periksa semuanya dan laptopku kembali normal, temanku memberi tips-tips agar laptop yang digunakan lebih awet. Garansi yang diberikan 60 hari. Semoga awet setelah diperbaiki nih. Aksesoris dan harga service-nya buat aku waw banget nih apple groak soalnya. Hehe. Jadi, kalau MacBook kalian ada komponen yang rusak, kalian lebih pilih service atau beli baru aja? Semoga bermanfaat :)

Terjebak dalam Toxic Productivity

    Kalian pernah gak sih merasa bersalah kalau terlalu banyak waktu luang tapi kalian merasa tidak mempergunakannya dengan baik? sayang aja gitu kalau waktu terlewatkan hanya untuk digunakan rebahan, scrolling sosmed, nonton netflix dan kegiatan-kegiatan yang dirasa sia-sia. Aku sering merasa seperti itu semenjak WFH (Work From Home) dua tahun belakangan ini. Kegiatanku lebih banyak dihabiskan di rumah. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Yang ada di pikiranku setiap hari adalah "Habis ini ngapain lagi ya?" mencari-cari kegiatan yang menurut aku kegiatan itu adalah "produktif" seperti aku bikin konten di sosial media, aku ambil pekerjaan freelance di luar jam kerja, aku belajar hal-hal baru untuk upgrade skill. Semua berulang setiap hari. Setelah aku browsing dan mencari tahu, aku rasa, aku terjebak dalam toxic productivity

    Menurut Dr. Julie Smith - seorang psikolog klinis dari Hampshire, Inggris -, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan merasa selalu bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Ada keinginan tidak normal untuk menjadi produktif setiap saat. Bisa dibilang "overworking" atau "workaholic". Padahal sesuatu yang berlebihan bisa berdampak buruk, bukan menjadi lebih baik.

    Aku tersadar bahwa aku terjebak dalam toxic productivity ketika aku sakit seminggu yang lalu. Aku memforsir diriku. Setelah di waktu weeekend aku membersihkan rumah dari pagi hingga sore, empat hari berikutnya aku begadang menyelesaikan pekerjaan secara terus menerus. Padahal pekerjaan itu masih bisa dikerjakan keesokan harinya. Tetapi, ntah mengapa aku merasa bersalah dan tidak bisa tidur kalau tidak bisa menyelesaikannya hari itu juga. Selama sakit, aku hanya terbaring. Aku berusaha memaksimalkan waktu istirahat. Aku menahan diri dari keinginan untuk melakukan kegiatan lain. Pertama-tama aku merasa bersalah. Tapi, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat sebentar. Mungkin dengan sakitku ini, Allah ingin aku supaya beristirahat. Aku bahkan  mengurangi intensitasku dari memegang gadget. Membuka chat yang sekiranya perlu cepat aku balas dan aku juga tidak membuka social media. Yang aku pikirkan saat itu adalah aku ingin sehat kembali. Mungkin aku terlalu dzalim pada diriku sendiri. Butuh 10 hari untuk recovery tubuhku. Aku mengalami burnout atau stres berat yang berdampak pada kesehatan baik mental maupun fisik.

    Jadi, setelah tubuhku sehat kembali, aku tersadar agar tidak terjebak dalam toxic productivity lagi, aku membuat batasan-batasan pada diriku seperti harus tidur cukup selama 8 jam, mengobrol face to face dengan anggota keluarga di jam sekian sampai jam sekian, membuat prioritas kegiatan yang dilakukan, tidak apa-apa jika ada satu hari dalam seminggu rebahan atau bermalas-malasan untuk charge energi kembali menghadapi hari berikutnya. Tidak memaksakan diri jika memang dirasa tubuh dan pikiran sudah merasa lelah.

    Pada akhirnya, produktivitas yang baik adalah produktivitas yang memberimu waktu untuk beristirahat, dan pada saat yang bersamaan, mendorong kamu untuk mencapai tujuan dengan cara yang sehat. Semoga bermanfaat.

“overworking” dan “workaholic”.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanda Anda Terjebak Toxic Productivity", Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2021/10/13/050000468/tanda-anda-terjebak-toxic-productivity?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Ariska Puspita Anggraini

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
“overworking” dan “workaholic”.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanda Anda Terjebak Toxic Productivity", Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2021/10/13/050000468/tanda-anda-terjebak-toxic-productivity?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Ariska Puspita Anggraini

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Pengalaman Aku Mengalami Anosmia

    Anosmia mulai populer ketika pandemi covid 19 melanda dunia. Ya, salah satu ciri terkena covid 19 adalah mengalami anosmia. Anosmia adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk mencium bau.  Virus covid 19 di awal kemunculannya adalah varian delta dan sekarang berkembang lagi ada yang varian omicron. Aku terkena anosmia sekitar seminggu yang lalu semenjak tulisan ini aku publish. Aku tidak tahu apakah aku terkena virus salah satu varian covid 19 atau tidak karena aku juga tidak mengecekan diri, hanya isolasi mandiri. Yang aku baca di beberapa artikel, varian omicron yang terbaru ini juga tidak menyebabkan anosmia. Hanya seperti flu biasa.


    Aku akan menceritakan awal mula aku mengalami anomsia dan usaha aku untuk menyembuhkannya. Di tulisan sebelumnya dengan judul Kebiasaan Baru Selama Pandemi Covid 19, aku beberes rumah di waktu weekend pada tanggal 19 dan 20 februari 20222. Aku membereskan rumah dari pagi sampai sore di kedua hari itu. sampai gudang penuh debu aku bereskan. Di hari senin berikutnya, aku harus overtime karena pekerjaan sedang hetnic dan itu berlangsung selama 4 hari. jadi selama 4 hari aku begadang hingga pagi. Aku baru tidur sekitar jam 2 pagi selama 4 hari itu. Yang menurutku ikut andil  aku sakit adalah selain kecapean, aku minum air es selama 4 hari begadang itu. Badanku terasa lemas. Aku juga tidak melakukan olahraga sama sekali. Ketika hari jumat malam, aku merasa demam, flu dan sedikit batuk. Badanku panas sekali, aku hanya tidur saja menggunakan selimut dan aku menghirup dan mengoleskan minyak aromaterapi. Keesokan paginya, ibuku membelikan aku obat yang mengandung paracetamol dan juga obat untuk radang tenggorokan karena aku merasa sulit sekali menelan makanan. Kalau menelan makanan atau minuman terasa sakit sekali. Seharian aku hanya minum obat dan bed rest. setelah makan malam dan minum obat, ketika aku ingin menghirup minyak aromaterapi, tiba-tiba aku tidak bisa mencium sama sekali. Aku mencoba mencium bawang putih, sabun, shampo yang ada di kamar mandi pun tidak tercium bau apa-apa. Aku panik malam itu. 

    Aku berusaha tetap positif thinking. Aku melakukan isolasi mandiri. jadi aku tidak kemana-mana. Aku minum obat paracetamol, radang tenggorokan dan obat batuk secara bergantian. aku juga meminum madu dan wedang uwuh. Wedang uwuh adalah minuman khas Jogja dengan bahan-bahan yang berupa dedaunan mirip dengan rempah. Dalam bahasa Jawa, wedang berarti minuman yang diseduh, sedangkan uwuh berarti sampah. Wedang uwuh disajikan panas atau hangat memiliki rasa manis dan pedas dengan warna merah cerah dan aroma harum. Alhamdulillah di minggu itu ada 2 tanggal merah yaitu isra miraj dan juga nyepi. jadi aku bisa beristirahat dengan lebih optimal.

    Anosmia yang kualami berlangsung selama kurang lebih 3 hari. Di dalam kepasrahan dan ketidakberdayaan sebagai manusia, aku hanya bisa berusaha dan berdoa. Ini hanyalah satu dari sekian nikmat yang aku lupakan, yaitu bisa mencium bau. Betapa tidak enaknya tidak bisa mencium bau apapun. Makan pun jadi kurang berselera. Usaha yang aku lakukan agar indera penciumanku kembali adalah dengan bergantian mengendus minyak kayu putih, minyak aromaterapi, bawang putih, parfum yang aku gunakan, sabun dan shampo setiap kali aku membersihkan diri. Sambil aku mengendus, sambil aku mengingat bagaimana aromanya. Alhamdulillah perlahan demi perlahan indera penciumanku kembali dan tubuhku sedikit demi sedikit mulai membaik. Terimakasih Allah telah mengembalikan nikmat ini lagi padaku. Semoga aku bisa senantiasa selalu bermuhasabah diri dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga yang sedang sakit Allah angkat penyakitnya dan bisa sehat kembali. Aamiin.

Kebiasaan Baru Selama Pandemi Covid 19

    Kalian selama pandemi punya kebiasaan baru gak sih? kalau aku ada. salah satunya kebiasaan bersih-bersih rumah. Padahal sebelum pandemi aku termasuk orang yang cuek soal kebersihan. Bukan cuek yang gak peduli atau jorok banget. Tapi biasa aja. Menaruh barang di sembarang tempat. Debu nempel di meja ruang tamu, pajangan rumah, kaca buffet, dan lain-lain juga dibersihinnya paling sebulan sekali. Kalau sekarang setelah pandemi risih kalau rumah berantakan, setelah selesai menggunakan barang, langsung dikembalikan ke tempat asalnya. biar gak lupa juga sih. Terus lap meja, kaca, buffet juga hampir setiap hari. Padahal sebelumnya males banget. Hehe.

 

    Rumah yang bersih, rapih dan wangi bikin mood bagus ternyata. Ibadah juga menjadi semakin nyaman dan jadi makin betah di rumah. Barang-barang yang tertata rapih jadi lebih mudah mencarinya. Kalau sebelumnya aku selalu bertanya pada Ibu, "Bu, lihat gunting kuku dimana nggak?" atau "Bu, pisau dapur diletakan dimana ya?". Hehe. Sekarang, sudah ada tempat masing-masingnya. Rumah yang bersih juga mencegah penyakit datang dan tamu yang berkunjung juga merasa lebih nyaman.

    Selain kebersihan rumah, aku juga jadi care dengan kebersihan diri. Aku termasuk orang yang suka makan menggunakan tangan. Nikmat aja gitu apalagi menggunakan sambal. Hehe. Bukan berarti sebelum pandemi aku gak cuci tangan sebelum makan, tetapi aku jadi lebih care cara mencuci tangan dengan baik dan benar. Hehe.

    Oh iya dengan bersih-bersih rumah jadi tersadar ternyata banyak banget barang yang tidak terpakai. Saat minggu lalu aku merapihkan kembali pakaianku di lemari, banyak banget baju yang tidak aku gunakan lagi padahal selama pandemi aku juga tidak membeli baju, saat lebaran juga menggunakan baju lamaku. Selama 2 tahun pandemi, pekerjaan aku lakukan dari rumah. Bahasa kerennya sih WFH (Work From Home) jadi lebih sering tidak menggunakan baju formal. Hehe. Baju-baju yang jarang aku pakai atau hanya sekali dua kali pakai saja karena waktu itu membelinya untuk acara tertentu, aku masukin ke dalam kardus dan aku kirimkan untuk orang yang membutuhkan. Lumayan jadi bikin lemari lebih ringkas dan lega, yang tadinya butuh tiga lembari baju, sekarang satu lemari cukup untuk gamis, kemeja, rok bawahan dan kerudung yang memang benar-benar masih aku pakai dan itu sudah cukup. Baju banyak-banyak untuk apa? padahal yang dipakai itu-itu lagi. Hehe.

    Begitupun dengan sepatu. Dulu beli sepatu pantofel hanya untuk ikut tes CPNS. Habis itu tidak terpakai lagi karena memang aku kurang nyaman menggunakan sepatu seperti itu. Lalu aku juga membeli beberapa sepatu heels, rencananya sih mau belajar jadi wanita yang lebih anggun. Tapi ternyata sakit ketika digunakan lama. Hehe. Jadi, cuma sekali dua kali saja aku pakai. Aku lebih suka menggunakan sepatu sport. Lebih nyaman aja kalau jalan jauh, naik turun tangga stasiun, berlari mengejar kereta. Hehe. Jadi untuk sepatu atau sandal yang aku tidak gunakan lagi, aku masukan ke dalam kardus siapa tahu nanti ada tetangga atau siapapun yang membutuhkan bisa aku kasih. Rak sepatu jadi lebih rapih dan tidak banyak debu. Hehe. 

    Mungkin segitu aja cerita aku dengan kebiasaan baru selama pandemi. Kalau kalian ada kebiasaan baru apa? Semoga bermanfaat :)

Pengalaman Dighosting Project Desain

    Secara istilah, ghosting adalah keadaan dimana gebetan/orang yang kita taksir tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan padahal sebelum-sebelumnya sering berkomunikasi. Eits, tapi aku gak mau bahas cinta-cintaan. Hehe. Pada tulisan kali ini aku ingin sharing pengalamanku yang pernah dighosting soal project desain. Bukan cuma sekali, tetapi beberapa kali. Gak belajar dari pengalaman nih karena aku orangnya memang "people pleasure" alias gak enakan. Hehe. Ya, project beserta orang yang memberi project tiba-tiba menghilang, cancel tanpa pemberitahuan padahal sedang dalam proses pengerjaan, boro-boro dapet uang, yang ada rugi waktu, tenaga dan pikiran. Hehe. Berprofesi sebagai Freelancer Desainer Grafis tidak selalu mulus. Menawarkan jasa juga sama seperti halnya berdagang yang pasti pernah mengalami rugi.

    Aku beberapa kali mendapatkan tawaran project desain dari teman-teman yang memang aku mengenalnya dengan baik. Pengalaman pertama, project desain yang aku terima ini terjadi pada bulan april 2021 dari salah satu temanku yang berprofesi sebagai Desainer Grafis juga. Project-nya adalah redesain website salah satu perusahaan yang bisa dibilang cukup besar. Dia mendapatkan project ini dari salah satu Agency dan dia tidak sanggup mengerjakannya sendiri karena sedang banyak deadline juga. Akhirnya, dia menawarkannya padaku untuk membantunya menangani project ini. Ini bukan project "harga teman" atau "minta tolong" tetapi memang ada budget-nya dimana setelah aku menyelesaikan project-nya, aku mendapatkan fee sesuai kesepakatan di awal dengan deadline yang telah ditentukan. 

    Aku menyanggupinya. Ini adalah pertama kali aku bekerjasama dengan temanku ini dan karena memang dia adalah teman yang sudah lama aku kenal, jadi sudah saling percaya dan tidak ada perjanjian hitam di atas putih dan aku pun tidak meminta down payment atau uang muka. Fee akan aku dapatkan setelah aku menyelesaikan project-nya. Brief aku terima dan aku mulai mengerjakannya, kami berkoordinasi beberapa kali untuk laporan progress sudah sampai mana pengerjaannya. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari deadline, si pemberi project ini berkata akan di follow up kepada kliennya. Aku pun mengiyakan saja. 

    Koordinasi awal-awal masih lancar, masih ada revisi dan aku pun sudah mengerjakannya. Kalau Klien biasanya yang sering menanyakan progress, ini aku yang lebih sering nanya "masih ada revisi gak?". Tetapi selalu dibilang, belum ada feedback lagi. Karena takut dikira "kebawelan" menanyakan terus, yasudah aku tidak pernah menanyakannya lagi sampai lebaran haji pun lewat. Hahaha. Dan suatu ketika, temanku yang memberi project ini chat yg intinya project sama kliennya itu batal karena agency-nya tutup dan desain yang sudah aku kerjakan katanya gak kepake. Aku udah begadang woiii ngerjain project itu dengan segenap jiwa dan raga. haha. Mungkin karena efek pandemi covid juga kali ya. Terus dia nanya gimana enaknya. Ya, aku gak mungkin minta bayaran dong. Project-nya juga dia bilang batal. Yaudah intinya aku tidak mendapatkan apapun.

    Lalu pengalaman berikutnya, project yang aku terima ini terjadi sekitar bulan januari 2020. Temanku yang memberi project ini sudah beberapa kali bekerjasama denganku. pekerjaan dan bayaran semua lancar. Jadi, aku pun sudah percaya. Dia memintaku untuk mendesain untuk keperluan sebuah event seperti poster, medali, banner sosial media, dll. Kalau sama temanku yang ini aku memang sudah biasa mengerjakan pekerjaannya semuanya dulu baru aku mendapatkan fee-nya. Pekerjaan sudah aku selesaikan dan sudah dipakai juga desain-desain yang aku buat tetapi fee belum aku terima alasannya belum pembubaran panitia karena masih covid. Project sebelumnya belum dibayar, ketika bulan mei dia kontak aku lagi dan memintaku untuk mendesain event virtual lomba lari. Dia bilang nanti dibayar barengan sama project yang sebelumnya sudah aku kerjakan. Aku masih percaya aja tuh, dia kan orang yang sudah aku kenal dan project-project sebelumnya lancar-lancar aja. aku masih positif thinking. Yasudah aku kerjakanlah semua request desainnya. Dua project sebelumnya belum dibayar, dia masih sering chat aku dong minta tolong desain ini dan itu yang memang untuk keperluan dia. Karena memang teman, sekali dua kali aku bantu. Tapi lama-lama tuman. Sudah termasuk "mengganggu". Setiap aku tanya hak aku, dia selalu berdalih belum pembubaran panitia. sampai tulisan ini dibuat, dia masih suka chat minta desain ini itu, aku sudah gak percaya lagi dan aku menolaknya. Bukannya gak mau bantuin ya. Tetapi, ini sudah gak baik, dia memanfaatkan kebaikanku. Aku lebih baik menjaga jarak.

    Selain pengalaman project-project di atas, sering juga teman yang diskusi tentang desain lalu menayakan harga, ketika dikasih harga, hilang tanpa kabar. Hehe. Aku termasuk idealis, kalau harga gak masuk, silakan cari Desainer lain dan gak apa-apa banget buat aku. Peralatan desain, ide, waktu, pengalaman itu juga tidak diraih dalam semalam Besite. Hehe. Beberapa kali juga ada yang minta tolong tapi terkesan maksa. "minta tolong bikinin vector logo ini dong, mau dicetak pecah nih. Besok jadi ya". Di logonya ada gambar sepasang ondel-ondel betawi yang resolusinya kecil banget. lol. Kalau aku bilang nggak bisa, dibilang kejam, kalo aku mengiyakan tapi itu juga tidak bisa dikerjakan dalam semalam. Hehe. kan "minta tolong" ya. Ada juga yang sudah ditolongin, tapi revisinya naudzubillah ngalah-ngalahin yang bayar. hehe.

    Ya begitulah sharing pengalaman aku. Jadi, mau kalian kenal bahkan sudah seperti saudara, mau kalian gak kenal kliennya, biasakan untuk menuliskan perjanjian hitam di atas putih sebagai penguat perjanjian, tempel materai sekalian dan minta uang muka biar gak sembarangan tiba-tiba di-cancel yang terjadi seperti aku. Lalu ketika kasih preview ke Klien desainnya kasih watermark yang banyak biar gak "dicurangi". Dan soal permintaan desain-desain atas nama "minta tolong". Yang namanya minta tolong, kalau bisa menolongnya, gak apa-apa ditolongin. Kalau gak bisa, ya gak harus maksa diri kita buat mengerjakannya. Teman kamu jadi jarang kontak kamu karena kamu lagi gak bisa bantuin dia dan dia gak bisa maksa kamu? ya gak apa-apa juga. Itu berarti dia gak tulus temenan sama kamu.

    Btw, project-project desain aku yang kena "ghosting" itu diganti sama Allah kok dengan nilai yang sama bahkan ada yang lebih. Allah pasti ada maksud mempertemukan kita dengan seseorang. Ntah menjadi pengalaman hidup, ntah hanya sementara atau selamanya. Semoga bermanfaat.

How to Create Cut Out Effect with Text in Illustrator

 Di kesempatan kali ini aku ingin share tutorial cut out effect pada teks di adobe illustrator. Trik ini bisa kalian gunakan kalau kalian ingin membuat logo dari inisial brand atau untuk inisial nama mempelai di undangan pernikahan. Kalian bisa tonton full videonya di youtube channel aku. Link videonya KLIK DI SINI. Semoga bermanfaat :)


 

Mudahnya Nge-judge

    Dalam hidup, pasti kalian pernah dong nge-judge (menghakimi) secara sadar maupun tidak sesuatu hanya karena dengar dari mayoritas opini orang lain, nge-judge orang lain padahal nggak kenal juga, nge-judge kejadian atau kondisi yang kita lihat di depan mata kita padahal kita juga belum mencari tahu kebenarannya. Padahal apa yang kita judge, sebenarnya belum tentu seperti itu.

    Aku pernah nge-judge sebuah aplikasi hanya karena dengar dari penilaian kebanyakan orang lain. Kalian pasti tau aplikasi yang isinya khusus konten-konten video berisinal "T". Karena mendengar opini-opini buruk, aku jadi berpikir bahwa aplikasi itu aplikasi yang buruk. Isi kontennya joget-joget gak jelas dan unfaedah. Padahal aku juga belum install dan menggunakannya. Stigma buruk aplikasi "T" itu berubah  ketika aku meet up dengan teman lamaku yang dulu satu sekolah denganku, dia adalah seorang ibu rumah tangga. Saat main ke rumahnya, aku dibuatkan makanan batagor dan menurut aku enak banget rasanya. Aku yang orangnya curious bertanya "beli dimana batagornya? enak banget".Terus dia jawab "Wah beneran enak? itu gue bikin kok". Selama aku berteman dengannya, yang aku tahu dia itu gak suka masak. "Sejak kapan suka masak? bukannya males ya masak?"Aku nyengir. Terus dia menjawab "Gue suka liat resep-resep di aplikasi "T" pas gue nyoba ternyata gak sesusah itu masak. Seru ternyata masak. Apalagi orang yang nyobain bilang enak". Lalu aku mengutarakan pendapatku yang selama ini tahu dari orang-orang bahwa aplikasi itu isinya "sampah". Temanku bilang, gak semua kontennya gitu kok. Ada tutorial masak, sharing pengalaman orang lain, tutorial make up, tips keuangan, dan lain-lain. "Coba deh install dulu" begitu saran temanku. 

    Begitu pulang ke rumah, aku penasaran dong sama pendapat temenku ini karena dia aja yang berpendapat berbeda dari kebanyakan opini orang lain. Aku install dan aku lihat konten-kontennya. Ternyata gak seburuk itu. Banyak juga konten-konten yang bermanfaat. Content Creator-nya mempunyai latar belakang yang beragam. Dari orang biasa sampai profesional. Aku tidak tahu bagaimana alogaritma aplikasi itu bekerja. Tetapi konten video yang sering FYP di timeline homepage aku menurut aku kebanyakan bermanfaat. Paling hanya satu dua yang menurutku unfaedah. FYP adalah singkatan dari "For Your Page", yaitu halaman rekomendasi pada aplikasi "T" yang akan muncul pertama kali setiap membuka aplikasi "T". Kalau aku ingin mencari informasi atau insight tertentu, terkadang aku juga membuka aplikasi itu gak cuma dari aplikasi video yang berlogo play berwarna merah.

    Selain dari pengalamanku judgment sebuah aplikasi, aku jadi memprogam ulang pikiranku untuk tidak langsung judgment sebelum aku benar-benar membuktikannya sendiri. Termasuk dalam kehidupan sehari-hari, aku berusaha tidak mudah judgment terhadap seseorang. Misalnya, ketika ada seseorang yang mengatakan padaku si A yang belum aku kenal begini dan begitu perilakunya, aku hanya akan berhati-hati dan menjaga jarak ketika memang harus berkomunikasi. Tidak langsung judgment. Bukan karena orang lain tidak suka atau membencinya dan membicarkan hal-hal yang tidak baik tentangnya, kita juga lantas menyimpulkan hal yang sama dan ikut membecinya. Padahal ketika kita berkomunikasi langsung dengannya, belum tentu buruk seperti yang dikatakan. Bisa jadi kondisi si A sedang tidak baik dan tidak mood tetapi lawan bicaranya tidak mengerti itu, jadi responnya seperti kurang baik. Bisa jadi ketika kita mengenalnya, kemungkinan dia sudah berubah menjadi lebih baik, hanya saja citranya sudah terlanjur buruk.

    Begitupun ketika melihat kejadian dan kondisi di depan kita. Misalnya, ketika di rumah sakit, kita melihat seorang Ibu yang sibuk dengan gadget-nya. Sedangkan anaknya yang masih balita berlarian di koridor rumah sakit. Kita bisa mudah nge-judge bahwa dia bukan ibu yang baik. Gadget lebih penting dari anaknya. Tetapi bisa jadi dia sedang berkomunikasi dengan keluarganya yang lain untuk mencari  pendonor darah untuk suaminya yang baru mengalami kecelakaan. 

    Pada kondisi yang lain, ketika kita tahu pasangan yang sudah lama menikah belum juga memiliki momongan dengan mudah kita nge-judge ke perasangka yang tidak baik "kok nikah bertahun-tahun belum punya anak sih?" kalau anak seperti barang yang tersedia di online shop, sudah dibeli kali. Padahal pasangan ini juga sudah berusaha untuk mendapatkan momongan. Tetapi, dibalik semua usaha dan doa, ada Allah yang mempunyai kuasa dan Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat.

    Judgment memang tidak butuh lama. kalau butuh lama skripsi dong. Hehe. Seringnya kita dengan mudah nge-judge meski hanya di dalam hati. Padahal sesuatu yang kita hakimi, hanya setitik kecil dari hal yang kita dengar dan informasi yang kita dapatkan dari orang lain tetapi sudah merasa benar-benar tahu dan menyimpulkannya. Semoga bermanfaat.

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers

Featured Post

Bisa Gak Sih Kuliah Jurusan DKV Sambil Kerja?

     Judul tulisan di atas terinsipirasi dari beberapa orang yang sering menanyakan padaku, "Bisa Gak Sih Kuliah Jurusan DKV Sambil Ker...

Contact Me

Get in touch