Hello, I’M Nana

Welcome to My World

About Me

Graphic Designer

Assalamu'alaikum. Perkenalkan namaku Nana Rosdiana. Kalian bisa memanggilku Nana. Aku adalah seorang Graphic Designer, UI Designer dan Content Creator yang masih akan terus belajar. Website ini adalah catatan belajarku. Semoga bermanfaat ya untuk siapapun yang membacanya.

Mungkin bisa dibilang aku berkripadian ambivert yang merupakan gabungan kepribadian dari ekstrovert dan introvert dimana cenderung lebih fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi.

Udah gitu aja perkenalan dirinya sepertinya. Hehehe.

Nana Graphic Designer

My Services

WHAT I CAN DO

Graphic Design

UI Design

Writing

Kreativitas bisa lahir di manapun, tak terkecuali di kamar tidur. Untuk mempermudah pekerjaanku sehari-hari, aku dibantu oleh aplikasi desain dari Adobe seperti Adobe Photoshop, Adobe Illustrator dan Adobe XD.

Terimakasih sudah mengunjungi rumahku ini. Silakan kunjungi portofolio aku di www.behance.net/nanarosdiana atau Instagram nanarosdiana dan untuk video-video seputar desain grafis silakan mampir ke Youtube Channel Nana Rosdiana . Semoga kita bisa berkolaborasi ke depannya. Salam kenal :)

  • Graphic Design 95%
  • UI Design 80%
  • Illustration 70%
  • Writing 80%

My Blog

MY BEST WORKS
Apakah Logo Harus Selalu Memiliki Filosofi?

    Sebagai seorang Desainer Grafis, detail sekecil apapun yang dibuat memiliki pertimbangannya tersendiri. Dimulai dari warna, bentuk, tipografi, ukuran, dan lain-lain. Detail-detail kecil dibuat sedemikian rupa sehingga enak dilihat, menarik, tetapi tidak berlebihan, simple dan juga memiliki makna. Tetapi apakah dalam mendesain logo harus memiliki filosofi sekalipun bentuknya abstrak?

    Oke sebelum ke pertanyaan itu, siapa yang peduli akan nilai filosofi dalam pembuatan logo? Apakah kamu sebagai pengguna produk apple misalnya peduli dengan filosofi logo dibalik logo apple? Aku rasa nggak. Hehe. Yang kamu tahu dan kamu ingat dalam pikiran kamu, ketika melihat gambar apple tergigit kamu langsung teringat bahwa itu adalah logo apple. Lalu siapa yang peduli? Yang peduli akan filosofi logo hanya dua pihak, yaitu Desainer Logo dan Kliennya. Masyarakat umum? sepertinya tidak terlalu peduli. Hehe.

    Apakah kamu membeli produk Xiaomi karena logonya berarti "mobile internet" atau "mission impossible”? Atau apakah para Sosialita membeli membeli produk brand Louis Vuitton karena logonya terinspirasi dari motif Japonism? Pertimbangan seseorang dalam membeli sebuah brand tertentu lebih kepada karena persepsi/citra dari brand tersebut. Bisa jadi terhadap kualitas, fungsi, gengsi dan sebagainya bukan karena arti dari logonya. Logo diingat sebagai identitas seperti nama kita. 

    Jadi, Apakah logo harus selalu memiliki filosofi? menurut aku, jawabannya tergantung. Jika kita memiliki usaha berbentuk perusahaan, maka idealnya menyematkan value dan makna tertentu dalam logo perusahaan agar terkesan profesional, simple, unik, mudah diingat dan terpercaya seperti brand apple tadi. Tetapi, jika usaha kita masih dalam lingkup UMKM, filosofi atau makna logo tidak terlalu diperlukan. Yang terpenting logo menarik, mudah dipanami dan mudah diingat. Misalnya kita membuka usaha keripik singkong, bisa dibuat logonya dengan membuat sebuah character bentuk singkong yang sedang menggigit keripiknya dan tangannya mengacungkan jempol. Lalu diberi tipografi dari nama brand-nya menggunakan bahasa inggris supaya naik value-nya misalnya “Cassava Chips Mang Udin”. Hehe.

    Ingin membuat logo untuk usaha? Yuk aku bantu, silakan kontak aku, KLIK DI SINI. Semoga sharing-nya bermanfaat :)

Self Healing Tanpa Perlu Travelling

    Menjelang akhir tahun 2021 kemarin, explore Instagram-ku banyak banget orang yang bikin video reels recap 2021 dalam durasi beberapa detik. Rata-rata memperlihatkan liburannya dari awal hingga akhir tahun. Wah kayaknya enak banget ya hidup orang-orang traveling terus gak ada susahnya. Susahnya gak dilihatin lah. Hehe. 


    Katanya, yang lagi hits nih, alasan travelling salah satunya untuk self healing alias sebuah upaya yang dilakukan oleh masing-masing pribadi untuk menyembuhkan luka secara mandiri. Padahal mau travelling dengan alasan healing mau sampai ke lubang cicak sekali pun gak akan berguna kalau yang diingat bukan Allah. Ya, gak apa-apa sih kalau memang ada budget-nya, uangnya juga uang kamu. Asal jangan maksa sampai harus kredit segala apalagi kalau hanya untuk pamer di sosial media. Setelah selesai travelling, bukan self healing jadinya. Tapi pusing bayar cicilannya. Hehe.

    Buat kamu yang memang low budget, self healing gak harus dengan travelling kok. Berikut beberapa hal yang bisa kamu coba :

1. Me Time

    Menurut aku, me time ini bisa kamu isi dengan melakukan hobi atau apapun yang kamu suka. Kalau hobinya travelling coba cari alternatif hobi lainnya deh. Hehe. Misalnya buat yang suka nonton, bisa menonton serial drama yang disukai, yang hobi baking atau cooking bisa cobain resep baru, yang hobi olahraga, bisa coba yoga, yang hobi membaca coba dilihat di lemari bukunya, berapa buku yang masih terbungkus rapi di plastik? yuk diselesaikan membacanya :)

2. Olahraga

Olahraga selain bisa membuat tubuh sehat, bisa meningkatkan mood juga lho. Pikiran juga menjadi lebih fresh dan membuat kita rileks. Olahraga murah meriah? jalan kaki keliling komplek atau Taman dekat rumah. Kalau mau meluapkan amarah, coba muay thai :)

3. Menulis

    Kalau kamu orangnya cenderung introvert, Kamu bisa menyalurkan apa yang kamu rasakan dan kamu pikirkan melalui tulisan. Kamu bisa sharing melalui media online seperti blog pribadi atau kamu juga bisa menuliskannya di buku diary jika kamu ingin menyimpannya sendiri. Kalau ingin sharing ke media online perhatikan etikanya ya :)

4. Menggambar atau Mewarnai

    Gak harus jago gambar kok. Kamu bisa membuat bentuk abstrak sekalipun. Hehe. Selain itu, Kamu juga bisa coba untuk mewarnai. Banyak dijual buku-buku mewarnai untuk orang dewasa (adult coloring book) :)

5. Mendengarkan Kajian

    Seperti halnya fisik yang perlu makan dan minum, ruh juga harus diisi. Kita bisa mengikuti kajian. Selain menambah pengetahuan, bisa membuat pikiran damai dan hati tentram seperti Sabda Rasulullah SAW: “Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika maka rusaklah seluruh anggota, ketahuilah itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Gak perlu iri sama apa yang orang lain posting di sosial media. Tidak upload story di sosial media bukan berarti tidak bahagia dan self healing tidak harus travelling. Semoga bermanfaat :)

Memilih Circle Pertemanan

    Circle pertemanan bisa terbentuk karena beberapa hal. Misalnya kesamaan nasib, memiliki hobi yang sama, memiliki barang-barang koleksi yang sama, profesi yang sama, punya mimpi yang sama atau kesamaan dalam hal lainnya. Semakin kita dewasa, circle pertemanan akan semakin mengerucut sebanyak apapun teman ketika kamu sekolah, kuliah, bergorganisasi, ikut komunitas dan darimanapun asal muasal perkenalannya. Ada yang tadinya lumayan dekat, sekarang terasa jauh sekali. Ada yang tadinya jarang berkomunikasi, eh malah menjadi dekat. Ternyata sefrekuensi ketika ngobrolin banyak hal. Bagaimana circle pertemananmu saat ini? apakah masih mereka yang mengisi hari-harimu sama seperti bertahun-tahun yang lalu atau sekarang lebih banyak diisi oleh orang-orang baru?


    Siapa teman kita adalah cerminan diri kita. “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).

    Ya, sepenting itu untuk memilih circle pertemanan dan dampaknya bisa sangat besar. Bisa berdampak positif atau negatif. Misalnya, ketika kita berteman dengan orang-orang yang produktif dan aktif, tanpa disadari kita juga akan menjadi orang yang produktif dan aktif walaupun itu hanya sedikit. Jika kita berteman dengan orang-orang yang hedon, kita juga bisa terbawa menjadi hedon karena tuntutan sekitar.

    Aku pribadi mulai membatasi pertemanan, bukan berarti menjadi orang yang anti sosial. Aku mengurangi interaksi dengan orang-orang yang menurut aku berdampak kurang baik untukku. Seiring berjalannya waktu, akan terseleksi sendiri dan akan terlihat kok. Pilihlah circle pertemanan yang selalu mengingatkan kebaikan, kita bisa menjadi diri sendiri dan tidak dituntut untuk bisa sesuai dengan keinginan orang lain supaya bisa diterima, circle pertemanan yang di dalamnya kita merasa nyaman dan aman, saling menghargai, saling mendukung, saling menghargai batasan privasi masing-masing, tidak memaksakan kehendak dan menghargai perbedaan, tidak saling merendahkan, yang tulus dan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain, juga saling bisa menjaga rahasia. Semoga bermanfaat.

Menghabiskan Akhir Tahun di Jogja

    Aku menghabiskan akhir tahunku di Jogja. Aku tidak merencakan perjalanan kali ini sebelumnya. Hanya ke-random-an ku sudah lama tidak ke Jogja karena adanya pandemi covid-19. Aku berangkat menggunakan bus dari Terminal Jatijajar, Depok. Harga tiketnya 160 ribu rupiah sudah dapat makan malam satu kali. Alasan aku memilih menggunakan Bus adalah karena tidak perlu swab. Hehe. Walaupun perjalanan akan lebih lama daripada menggunakan kereta atau pesawat. Bus berangkat pukul lima sore. Aku memilih kursi paling depan dekat dengan pintu supaya aku bisa melihat pemandangan jalan dari kaca depan. Bus ini berbeda dari bus-bus sebelumnya yang pernah aku naiki. Kursinya terdiri dari 3 baris. Jadi ada dua jalur. Duduknya sendiri-sendiri. Mungkin bus ini menyesuaikan keadaan saat pandemi. Hehe. Tetesan air turun dari langit yang berwarna kelabu. Ini pertama kalinya aku berangkat ke jogja untuk mengunjungi saudara tanpa Bapak dan Ibu.


    Sekitar pukul 9 malam, bus tiba di Subang dan kemudian menepi ke sebuah rest area yang terdapat restauran. Aku mencari toilet dan mushola. Setelah itu aku mengantri untuk mengambil makan malam. Menu yang disediakan terdiri dari nasi putih, sayur kol, ayam goreng, lalapan dan air teh manis hangat. Cuaca lumayan dingin karena turun hujan juga. Aku tidak terlalu nafsu makan, aku meminta porsi nasinya setengah. Lalu aku mencari meja untuk makan. Setelah selesai, aku kembali ke bus dan bus melanjutkan perjalanan. Aku tertidur. 

    Tepat ketika adzan subuh, aku tiba di tempat transit Pool Bus Kutoarjo. Aku kemudian turun dan mencari mushola untuk salat subuh. Ketika selesai salat, aku berpindah bus. Barang-barang dipindahkan dibantu oleh Kondektur. Sekitar pukul 6 pagi aku tiba di Pedes, ini bukan rasa makanan. Tetapi nama daerah di Jogja. Hehe. Aku menunggu Lik (sebutan Om dalam bahasa jawa) menjemputku. 

    Begitu sampai di rumah Lik, aku disambut Bulik (Sebutan Tante dalam bahasa Jawa). Aku kemudian membersihkan diri lalu sarapan. Sepupu-sepupuku sedang libur kuliah dan sekolah. Aku mengobrol dengan mereka. Semenjak pandemi Covid 19 yang mengharuskan mereka sekolah dan kuliah dari rumah, terbitlah generasi mager-an. Hehe.

    Aku kemudian bersepeda menyusuri jalan aspal di pinggir sawah, mengelilingi kampung. Kulihat bebearapa petani sedang menggarap sawahnya. Jogja adalah kota yang sangat familiar untukku. Kota yang akan selalu aku rindukan. Sepanjang mata memandang terlihat hamparan sawah, semilir angin yang membelai kerudungku, udara sejuk yang kuhirup, senyum ramah yang menyapa dan hal-hal lain yang tidak aku dapatkan ketika aku berada di Jakarta. 

    Aku berhenti di Pasar Tradisional. Jajanan di sini murah-murah, enak dan mengenyangkan. Aku jajan makanan tradisional. Jalanan yang kulalui sudah semakin bagus dan ada sebuah masjid besar dan bagus yang masih dalam pembangunan. 

    Aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk mengunjungi saudara-saudara dan Mbah-mbah (Mbah adalah sebutan untuk Nenek dalam bahasa Jawa) di sini. Beberapa sudah meninggal. Tangan yang menggenggam tanganku semakin keriput, tubuh yang memelukku semakin ringkih, rambutnya kian memutih. Aku yang semakin dewasa dan mereka yang semakin menua.

    Hal yang selalu aku suka di sini adalah kesederhanaan. Hidup memaksamu untuk menjadi kuat apapun kondisi yang sedang dialami. Manusia selalu merasa kurang, padahal Allah selalu memberi kecukupan. Banyak hal yang seharusnya disyukuri. Banyak di sekeliling kita yang masih kekurangan. 

    3 hari aku menghabiskan waktuku di Jogja. Aku kembali pulang dengan menaiki bus dari Terminal Jombor. Aku menaiki bus tambahan karena semua bus yang menuju ke Jakarta sudah terisi penuh dan tidak ada alternatif kendaraan lain karena sudah penuh juga. Bus berangkat pukul 4 lewat 15 sore. Harga busnya 230 ribu dan tidak mendapat makan malam karena ini bus tambahan. Aku diantar oleh Lik dan sepupuku ke Terminal. Aku membawa sekitar lima 'tentengan' sementara tanganku cuma dua. Sampai cabai panen di sawah Lik, aku dibawain juga. Hehe. Tradisi orang jawa memang seperti itu. Membawa 'tentengan' ketika pulang itu wajib. Hehe.

    Aku berkenalan dengan teman baru di Bus yang duduk di sebelahku. Dia tinggal di Bekasi dan bekerja di daerah Cikarang. Dia harus masuk pukul 7 pagi esok harinya. Dia agak was-was takut terlambat. Dia pernah kuliah di Jogja dan dia menghabiskan tahun barunya dengan teman-temannya semasa kuliah dulu. Ketika aku bertanya kenapa dia memilih kuliah di Jogja? dia bilang, kuliah di Jogja bisa meringkankan orang tuanya. Biaya hidup di Jogja termasuk murah untuk UMR Jakarta. Lalu kami melanjutkan dengan mengobrol hal-hal random lainnya.

    Bus berhenti di Cikarang sekitar pukul 6 lewat 20 menit. Aku berpisah dengan teman seperjalan. Semoga dia tidak terlambat sampai di tempat kerjanya. Aku tiba di Juanda Depok pukul setengah delapan pagi. Aku meminta sepupuku menjemputku karena barang bawaan yang lumayan banyak. Hehe. 

    Mungkin segitu aja cerita akhir tahunku di Jogja. Kalau kamu menghabiskan akhir tahun kemana? semoga ada yang bisa diambil manfaatnya. Hehe.

5 Kebiasaan dalam Mengelola Gaji yang Bikin Cepet Bokek

    “Perasaan baru kemarin gajian ya. Kok belum pertengahan bulan tapi sudah bokek? Makan mie instan sama obat maag aja deh sampe akhir bulan nih!”. Hehehe. Jika kita tidak mengelola keuangan dengan baik, salah satu dampaknya gaji yang kita terima cepat habis sebanyak apapun nominalnya. Jangankan untuk bisa menabung, untuk kebutuhan sehari-hari yang basic saja terasa kurang. Kok bisa? Dari hasil mewawancari beberapa narsum dan pengamatanku, mungkin kamu sering melakukan kebiasaan-kebiasaan berikut ini :


1. Kebiasaan Nongki

    Hampir setiap hari makan siang di luar, keluar masuk restauran, gak lupa foto makanan lalu upload ke sosmed. Pulang kerja mampir ke Cafe beli secangkir kopi seharga 50 ribuan plus cemilannya lalu upload ke sosmed. Weekend teman-teman ngajakin jalan, tanpa pikir panjang, ikut. Kan uangnya masih banyak. Gak lupa juga upload ke sosmed biar eksis. Coba kalau dikalkulasi, kebiasaan-kebiasaan nongki, makan di luar dan kumpul-kumpul demi eksistensi ini, berapa uang yang sudah kamu habiskan? Akhir bulan pasang muka melas pinjam uang teman :)

2. Mindset Belanja

    Ketika akhir bulan atau menjelang gajian, mulai scroll online shop “Gaji bulan ini mau dibelanjain apa ya?”. Begitu hari H gajian, liat saldo di rekening bertambah, karena merasa masih punya banyak uang, langsung check out list di keranjang. Ending-nya membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan tidak berguna juga. Hanya lapar mata. Kewajiban-kewajiban yang harus dibayar belum dibayarkan, pake kartu kredit atau paylater aja lah. Utang lagi :)

3. Ambil Kredit di Luar Kemapuan Demi Gengsi

    Melihat si A beli mobil baru, melihat si B beli sepatu branded limited edition, melihat si C ambil kredit rumah di lokasi yang strategis, melihat si D beli handphone baru, hati jadi panas dan takut kalah saling. Akhirnya lagi-lagi demi gengsi, mengambil kredit di luar kemampuan. Ending-nya gak bisa bayar dan barang ditarik :)

4. Tidak Mau Upgrade Ilmu Money Management

    Sudah tahu gaji cepat sekali habis, tetapi tidak mau evaluasi dan tidak upgrade ilmu money management seperti kita harus punya dana darurat, tabungan untuk masa depan, mengelola uang dengan metode 50, 30, 20 atau metode-metode yang lainnya yang bisa kita gunakan setiap kali kita menerima gaji :)

5. Tidak Memulai Kebiasaan Menabung dan Invest

    Sudah kerja lama, tapi kok gak ada peningkatan kualitas hidup? Gimana bisa meningkatkan kualitas hidup, kalau dari pertama menerima gaji tidak memulai kebisaan menabung dan juga mencoba untuk berinvestasi. Yang ada dipikiran hanyalah misi "Bagaimana menghabiskan uang yang aku punya saat ini" :)

    Dari kelima poin di atas ada gak kebiasaan yang kamu lakukan sehingga gaji lewat begitu saja? Semoga bermanfaat :)

Review Tempat : Alun-alun Kota Depok

    Akhirnya Depok punya alun-alun. Hehe. Alun-alun itu apa sih? Alun-alun diambil dari bahasa jawa yaitu aloen-aloen yang memilki arti lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan yang dapat digunakan oleh masyarakat berkegiatan. Dari awal diresmikannya Alun-alun Kota Depok ini pada awal tahun 2020, aku belum pernah ke sini padahal lokasinya tinggal kepeleset dari rumah. Hehe. Karena pandemi covid19, Alun-alun sempat ditutup untuk menghindari kerumunan dan Alhamdulillah, pada tanggal 22 desember 2021 sudah dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan. Apa saja sih fasilitas dan peraturan untuk bisa masuk ke sini? Yuk kita review :)


 

    Alun-alun Kota Depok berada di kawasan Grand Depok City (GDC), tepatnya di Jalan Boulevard GDC No. 25, Jatimulya. kec. Cilodong, Depok 16413. Tidak ada kendaraan umum menuju ke lokasi. Jadi, lebih baik naik kendaraan sendiri atau taksi/ojek online. Kalau lewat pintu masuk GDC dari arah Jalan Kartini, jaraknya kurang lebih 4 km. Tidak begitu jauh dari Stasiun Depok Lama. 

    Alun-alun ini dibangun di atas lahan dengan luas nyaris 4 hektar. Aturan berkunjung ke sini menyesuaikan dengan kondisi pandemi, pengunjung diwajibkan menggunakan masker standar medis, sudah vaksin minimal satu kali, membawa hand sanitizer pribadi, untuk anak usia di bawah lima tahun dan lansia wajib didampingi. Jadwal buka Alun-alun dari hari selasa sampai dengan hari minggu. Hari senin ditutup untuk umum. Untuk libur hari besar, disesuaikan dengan aturan pemerintah. Jam operasional dibagi menjadi dua sesi. Untuk hari selasa sampai dengan hari sabtu jam operasional sesi pertama dari jam 07.00-11.00 WIB dan untuk sesi kedua dimulai pukul 13.00-17.00 WIB. Khusus hari minggu, untuk sesi pertama dibuka lebih awal yaitu pukul 06.00 WIB. Setiap sesi dibatasi maksimal 500 orang. Di sini juga disediakan tempat parkir untuk kendaraan mobil dan motor, tetapi terbatas. Jadi, disarankan sih kalau ke sini naik motor saja atau taksi/ojek online. Kalau parkiran mobil penuh, repot cari parkiran. Hehe.

    Untuk memasuki Alun-alun Depok tidak dipungut biaya, FREE alias GRATIS. Sebelum memasuki gerbang, kita diminta scan QR code untuk check in menggunakan aplikasi peduli lindungi. Jika kesulitan untuk scan, bisa juga menunjukan kartu vaksin kamu yang ada di menu aplikasi peduli lindungi. Begitu memasuki gerbang, kita akan melalui jembatan putih yang besar, lalu ada air mancur di depannya dan ada sebuah pendopo yang berfungsi sebagai panggung acara. Di sebelah kiri Pendopo, seperti ada arena Labirin dengan pagar berwarna putih yang di bawahnya ada sungai. kita bisa berjalan santai atau hanya sekedar untuk berfoto. Berjalan ke belakang lagi, ada fasilitas Taman Anak-anak, lalu Co-working Space dan Menara Pandang. Selain itu, yang paling aku suka adalah fasilitas olahraganya. Ada lapangan basket, lapangan futsal, jalur sepeda BMX, outdoor gym, arena skateboard, wall climbing dan jogging track. Di sisi lapangan basket ada tribun penonton. Di sini juga disediakan Mushola yang di sampingnya ada kolam. Jadi, untuk yang muslim bisa salat di sini. Lalu ada keran air siap minum seperti di Jepang gitu. Hehe. Tapi aku belum coba juga. Ada ATM Bank BJB dan juga Toilet. Berikut foto-foto yang aku ambil ya.

 

Lapangan Basket dan tribun di sampingnya

Menara Pandang

Co-working space

Labirin

Mushola

Pendopo

Taman bermain anak-anak

Lapangan Futsal

Toilet

Air minum keran

Outdoor gym

Jalur sepeda BMX

Masyarakat mengantri di luar gerbang sebelum masuk

    Jika lapar dan tidak membawa bekal, ada fasilitas food court, yaitu deretan tenda berwarna merah yang diisi oleh UMKM Depok yang menjual berbagai makanan dan minuman. Di sekitar Alun-alun juga banyak pedagang dan ada minimarket. 

    Menurut aku fasilitas yang ditawarkan di sini lumayan lengkap dan cocok untuk refreshing di akhir pekan. Oh iya, di sini selalu dihimbau untuk tidak duduk-duduk di atas rumput dan buanglah sampah pada tempatnya. Ayo yang tertib ya menjaga fasilitas umum supaya tetap bersih dan nyaman. Semoga bermanfaat :)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers

Featured Post

Apakah Logo Harus Selalu Memiliki Filosofi?

     Sebagai seorang Desainer Grafis, detail sekecil apapun yang dibuat memiliki pertimbangannya tersendiri. Dimulai dari warna, bentuk, tip...

Contact Me

Get in touch