Showing posts with label Cerita Fiktif. Show all posts
Showing posts with label Cerita Fiktif. Show all posts
Senin Pukul 8 Pagi (Part 14: Ketawa Masih Bisa, Logika Mulai Pergi)

 

Pagi itu dimulai dengan hal sederhana:

bos bilang, “Ini harusnya gampang.”

Kalimat paling berbahaya di kantor.

Yang katanya “gampang” itu datang dengan 12 poin revisi, 3 deadline berbeda, dan satu kalimat penutup: segera, ya.

Kami saling pandang. Tidak ada yang tertawa. Tapi semua tahu, ini serius.

“Gampang kok,” bisikku ke tim.
“Gampang bikin stres,” balas mereka.

Kami mulai kerja cepat. Terlalu cepat. Kopi dingin. Chat internal panas.

Jam makan siang lewat tanpa sadar. Tidak ada yang bergerak. Hanya mata yang semakin lelah.

Tapi entah kenapa, candaan tetap muncul.

“Kalau aku hilang, tolong cari aku di bawah meja,” kata seseorang.
“Kalau aku hilang, aku sengaja,” sahut yang lain.

Aku tertawa, lalu menguap.

Meeting susulan muncul. Dadakan. Tanpa agenda jelas.

Bos bicara panjang. Nada naik. Kami mengangguk.

Di dalam kepala, aku sudah hitung berapa kali hari ini aku ingin resign.

Angkanya dua digit.

Sore hari, pekerjaan hampir selesai. Hampir.

Bos lewat dan berkata, “Ini masih bisa lebih baik.”

Kalimat itu seperti Ctrl + Z untuk seluruh tenaga.

Kami saling pandang lagi. Kali ini lelahnya nyata.

Di pantry, kami berdiri tanpa banyak bicara. Tidak ada tawa keras. Hanya senyum kecil.

“Capek, ya,” kataku.

“Iya,” jawab mereka serempak.

Aku pulang dengan kepala penuh. Masih bisa bercanda. Masih bisa ketawa.

Tapi aku tahu
tekanannya naik.

Dan komedi… mulai jadi cara bertahan, bukan sekadar lucu.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 13: Aku Benci Senin, Tapi Kok Ketawa)

Aku tetap benci Senin.

Ini prinsip hidup.

Tapi Senin pagi itu… aku ketawa.

Bukan tertawa bahagia.
Lebih ke ketawa bingung, kok bisa ya?

Alarm berbunyi. Aku bangun tanpa drama. Tidak mengutuk kalender. Tidak menawar waktu.

Ini mencurigakan.

Di kantor, rapat pagi tetap ada. Bos tetap ngomel. Slide tetap membosankan.

Tapi entah kenapa, aku dan tim saling lempar ekspresi kocak. Mata berbicara. Alis naik-turun. Senyum kecil tanpa suara.

Aku hampir tertawa keras.

Di tengah meeting, aku mencatat sesuatu yang sama sekali tidak penting:

“Senin ini nggak seburuk itu.”

Aku langsung mencoret kalimat itu.

Jangan manja.

Selesai meeting, kami bergerak ke pantry seperti zombie yang baru dilepas dari penjara.

“Aku survive Senin,” kataku.

“Dengan luka batin minimal,” sahut seseorang.

Kami tertawa lagi.

Rasya lewat, menyelipkan komentar ringan, “Rekor baru?”

Aku mengangkat bahu. “Jangan dibiasakan.”

Sore hari, aku menyadari satu hal mengkhawatirkan:

aku menunggu jam istirahat bukan untuk kabur,
tapi untuk ngobrol.

Dan saat pulang, aku tidak menghitung menit.

Aku berhenti sejenak di lift, menatap bayanganku sendiri.

Aku masih benci Senin.
Tapi sekarang… aku tidak sendirian.

Dan mungkin itu yang bikin aku ketawa.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 12: Gosip Kantor Lebih Cepat dari Email Resmi)

 


Ada dua sistem komunikasi di kantor:

  1. Email resmi

  2. Gosip

Dan yang kedua… selalu lebih cepat.

Aku baru duduk di meja ketika suasana terasa berbeda. Terlalu banyak senyum. Terlalu banyak lirikan.

Ini mencurigakan.

Di pantry, aku mendengar bisikan pelan.

“Eh, kamu lihat nggak kemarin?”
“Iya, duduknya deket banget.”

Aku hampir menjatuhkan sendok.

Duduk bersebelahan sekarang jadi bahan diskusi?

Aku menuang kopi sambil pura-pura tuli. Padahal telingaku kerja lembur.

“Kayaknya cocok.”
“Ah, masa sih?”

Aku tersedak. Batuk kecil. Pura-pura wajar.

Saat kembali ke meja, grup chat tim ramai.

“Guys, gosip hari ini rame.”
“Ada yang baru nih.”
“Bukan aku, ya.”

Aku menatap layar. Jantungku ikut update.

Rasya lewat. Santai. Tidak terlihat panik. Tidak sadar.

“Kenapa semua orang aneh hari ini?” tanyanya.

Aku menatapnya lama. “Kamu beneran nggak tahu?”

“Tahu apa?”

Aku menyerah. “Nggak jadi.”

Siang hari, gosip naik level.

Ada yang “nggak sengaja” duduk di dekat kami. Ada yang pura-pura lewat. Ada yang terlalu sering senyum.

Kami seperti episode baru sinetron kantor. Tanpa skrip. Tanpa izin.

“Kalau kita batuk barengan, besok dikira jadian,” kataku pelan.

Rasya tertawa. “Berarti jangan batuk.”

Sore hari, gosip mulai basi. Target baru muncul. Hidup kantor lanjut seperti biasa.

Aku menghela napas lega.

Kesimpulan hari ini:
di kantor, gosip lebih cepat dari deadline.
Dan duduk bersebelahan bisa jadi isu nasional.

Aku pulang dengan satu tekad:
besok aku duduk di ujung ruangan.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 11: Duduk Bersebelahan, Masalah Baru)

 

Semua bermula dari satu keputusan sepele:

Aku salah pilih kursi.

Ruang meeting hari itu penuh. Kursi yang biasa kutempati sudah diisi. Aku melirik kanan-kiri, lalu duduk di kursi kosong terdekat.

Di sebelah Rasya.

Aku baru sadar setelah pantat menyentuh kursi.

Terlambat.

Aku membuka laptop lebih cepat dari biasanya. Pura-pura sibuk. Padahal layar masih halaman kosong.

Rasya menoleh sebentar. “Hai.”

“Hai,” jawabku terlalu cepat.

Meeting dimulai. Bos bicara. Aku mencatat. Tulisan tanganku aneh. Terlalu besar. Terlalu semangat.

Tiba-tiba, Rasya mendorong post-it ke arahku.

“Tenang. Ini bukan ujian hidup.”

Aku menahan tawa. Menutup mulut. Mengangguk serius seolah mencatat poin penting.

Bos melirik ke arah kami. Aku langsung duduk lebih tegak. Fokus palsu maksimal.

Di tengah rapat, laptopku hampir kehabisan baterai. Aku panik kecil. Rasya menyodorkan charger tanpa bicara.

Pahlawan tanpa jubah.

Aku mencolokkan charger itu sambil berbisik, “Makasih.”

Dia mengangguk. Seolah ini kejadian biasa.

Meeting selesai. Kami berdiri bersamaan. Sedikit canggung.

“Kayaknya duduk di sini bahaya,” kataku.

“Kenapa?”
Distraksi.”

Dia tertawa. “Setuju.”

Aku kembali ke meja dengan satu kesadaran mengkhawatirkan:

hal-hal kecil di kantor mulai terasa… menyenangkan.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada Senin.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 10: Aku Mulai Menunggu Hari Kerja (Ini Berbahaya))

 


Ada fase dalam hidup kantor yang sangat berbahaya.

Bukan saat ingin resign.
Tapi saat mulai… betah.

Aku menyadarinya pada Selasa pagi.
Bukan Senin.
Selasa.

Hari yang biasanya netral, tapi kali ini terasa… dinanti.

Aku datang ke kantor dengan langkah yang tidak terlalu berat. Bahkan sempat mikir, eh, cepet juga sampainya.

Itu red flag.

Di meja kerja, aku langsung membuka laptop tanpa mendesah. Tangan bergerak otomatis. Otak ikut kerja sama.

Ini makin bahaya.

Pagi itu kami bercanda di grup tim. Candaan receh. Meme jelek. Tapi cukup bikin senyum.

“Aku nggak benci hari ini,” kataku pelan ke diri sendiri.

Kalimat itu lebih mengerikan daripada lembur.

Di pantry, aku ikut nimbrung obrolan yang biasanya kulewati. Ikut tertawa. Ikut mengeluh. Ikut merasa bagian dari sesuatu.

“Kamu kok betah?” celetuk seseorang.

Aku refleks jawab, “Nggak betah, kok. Cuma… terbiasa.”

Pembelaan klasik.

Sore hari, pekerjaan selesai tepat waktu. Aku tidak buru-buru pulang. Duduk sebentar. Mengobrol hal-hal random.

Dan di situlah aku sadar:
aku mulai menunggu hari kerja.

Bukan karena pekerjaannya.
Tapi karena suasananya.

Karena rasa “kita bareng-bareng”.
Karena tawa kecil di sela stres.
Karena hari-hari yang tidak selalu menyenangkan, tapi bisa dilewati.

Aku pulang dengan perasaan aneh:
takut.

Takut aku lupa alasan kenapa dulu ingin pergi.
Takut betah membuatku diam terlalu lama.

Karena betah itu nyaman.
Dan kenyamanan… sering bikin orang lupa kapan harus pergi.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 9: Bos Marah, Kami Kompak)

 


Bos marah itu biasa.

Yang luar biasa adalah saat kami semua… kompak.

Pagi itu dimulai dengan email panjang. Terlalu panjang untuk dibaca sebelum kopi.

Subject-nya netral.
Isinya emosional.

Aku baru sampai meja ketika satu per satu notifikasi bermunculan. Bukan dari bos, tetapi dari grup internal tim.

“Baca emailnya pelan-pelan.”
“Jangan dibalas dulu.”
“Tarik napas.”

Kami sudah seperti unit penanggulangan bencana.

Meeting dadakan dijadwalkan. Semua orang datang dengan wajah serius, tapi mata saling bertanya: siapa yang kena duluan?

Bos bicara dengan nada tinggi. Kata-katanya cepat. Kalimatnya panjang. Intinya satu: tidak puas.

Kami mengangguk serempak. Sinkron. Terlatih.

Tidak ada yang menyela. Tidak ada yang defensif. Semua tahu, ini bukan soal solusi, ini soal meluapkan.

Begitu rapat selesai, kami bubar rapi.

Dan saat pintu tertutup…

Pantry penuh.

Ada yang langsung nyeduh kopi. Ada yang buka camilan. Ada yang cuma berdiri sambil menatap dinding.

“Gue tadi hampir jawab,” kata seseorang.
“Syukurlah enggak,” sahut yang lain. “Itu akan memperpanjang meeting.”

Kami tertawa.

Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau tidak, kami bisa menangis.

Siang itu, kerja terasa lebih ringan. Bukan karena beban berkurang, tapi karena kami tahu, kami tidak sendirian.

Ada yang bantu cek file. Ada yang nawarin take over sebagian kerjaan. Tanpa diminta.

Solidaritas kantor itu aneh.
Tidak dirayakan.
Tidak difoto.

Tapi sangat terasa.

Sore hari, aku menatap timku dan berpikir:
kalau aku masih bertahan sejauh ini,
itu bukan karena kantor ini baik…

tapi karena orang-orangnya.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya,
aku pulang dengan perasaan:
setidaknya, kami kompak.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 7: Lembur, Niat Pulang, dan Kebohongan Kolektif)


Jam lima sore adalah konsep.

Bukan fakta.

Pukul 16.55, semua orang mulai gelisah. Mouse digerakkan lebih aktif. Excel dibuka lebih sering. Padahal isinya masih sama sejak siang.

“Kayaknya hari ini bisa pulang tepat waktu,” bisik seseorang.

Kebohongan pertama.

Pukul 17.02, email masuk.

Subject: Quick Update
Isi: tiga paragraf.
Lampiran: empat file.

Quick.

Aku menatap layar. Menghela napas. Membuka file. Menutup lagi. Membuka lagi.

Lembur?” tanya seseorang.

“Enggak,” jawab orang lain. “Cuma… nyampe rumah agak malam.”

Kebohongan kedua.

Pukul enam, pantry penuh. Bukan untuk makan. Tapi untuk saling menguatkan.

“Aku nggak lapar,” kata seseorang sambil makan gorengan ketiga.

“Aku cuma mau minum,” kata yang lain sambil menyeduh kopi paling kental.

Aku duduk di meja dengan tekad palsu:
Habis ini kelar, pulang.

Pukul tujuh lewat.

Ada yang memutar lagu pelan. Ada yang memesan makan online “sekalian aja”. Ada yang mulai curhat tentang hidup, bukan kerjaan.

Aku menatap sekeliling.

Kami tidak dekat. Tapi kami senasib.

Lembur membuat orang jujur.
Dan sedikit lebih lucu.

Pukul delapan, seseorang berkata, “Besok aku cuti.”

Semua orang menatapnya dengan iri yang tulus.

Pukul sembilan, akhirnya selesai.

Kami berdiri. Mengemasi tas. Tanpa sorak sorai. Tanpa bangga. Hanya lega.

Di lift, kami diam. Lelah.

Aku sadar satu hal:
kantor ini mungkin melelahkan,
tapi di balik semua kebohongan kolektif tentang “sebentar lagi pulang”,
ada rasa kebersamaan yang aneh.

Bukan romantis.
Bukan indah.

Tapi cukup untuk membuatku bertahan… untuk hari ini.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 6: Coworker, Spesies Aneh di Habitat Bernama Kantor)


Selama bekerja di sini, aku menyimpulkan satu hal:
kantor adalah kebun binatang.

Bukan karena hewannya.
Tapi karena tiap orang punya perilaku khas yang muncul di jam tertentu.

Ada tipe Datang Paling Pagi Tapi Pulang Paling Awal.
Ada Ngopi Lima Kali Tapi Kerjanya Tetap Sama.
Ada juga Suka Bilang “Santai” Tapi Deadline-nya Hari Ini.

Aku?
Tipe Masih Bingung Kenapa Aku di Sini Tapi Tetap Datang Tepat Waktu.

Pagi itu, grup chat kantor sudah ramai sebelum jam delapan.

“Reminder ya, hari ini follow up yang kemarin.”
Follow up yang mana?
Yang kemarin hari apa?

Aku baru saja membuka laptop ketika suara dari belakang menyapa,
“Kalau kamu bertahan tiga bulan di sini, nanti dapat skill baru.”

Aku menoleh. Rasya.

Skill apa?” tanyaku.

Skill pura-pura ngerti,” jawabnya santai.

Aku tertawa. Keras. Terlalu keras. Tapi jujur.

Di kantor ini, ada aturan tak tertulis:
jangan terlihat terlalu pintar, nanti ditambah kerjaan.
Jangan terlihat terlalu santai, nanti dibilang tidak niat.

Jadi semua orang memilih aman, terlihat sibuk.

Aku sempat mengamati rekan kerja di sekeliling.
Mouse digerakkan tanpa klik.
Excel dibuka tanpa disentuh.
Wajah serius, padahal lagi mikirin makan siang.

“Ini normal?” bisikku ke Rasya.

“Normal kantor,” katanya. “Bukan normal manusia.”

Siang hari, bos lewat dengan aura tidak mengundang percakapan. Semua orang mendadak mengetik lebih cepat.

Aku ikut-ikutan. Tidak tahu apa yang kuketik.

“Ini juga skill,” kata Raka pelan. “Survival.”

Aku mengangguk penuh pengertian.

Mungkin aku belum cinta pekerjaan ini.
Mungkin aku masih membuka folder resign tiap Senin.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu:
aku tidak sendirian di kebun binatang ini.

Dan di antara semua spesies aneh itu,
ada satu coworker yang membuat hari-hari absurd ini… bisa ditertawakan.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 5: Folder Resign yang Selalu Kubuka (Tapi Tak Pernah Kukirim))


Aku punya satu folder rahasia di laptop kantor.

Namanya sederhana. Tidak mencurigakan. Tidak dramatis.

Misc.

Isinya?
Draft resign.
Versi satu sampai versi entah keberapa.

Setiap hari Senin, folder itu terasa memanggil-manggil.

“Buka aku,” katanya.
“Hanya lima menit,” katanya lagi.

Siang itu, setelah meeting lanjutan yang seharusnya email saja, aku membuka folder itu. Sekadar melihat. Bukan niat mengirim. Cuma… memastikan aku masih punya jalan keluar.

Versi pertama sangat emosional.
Versi kedua sok dewasa.
Versi ketiga terlalu jujur.

Yang terbaru bahkan cuma satu kalimat:

Saya lelah.

Itu saja.
Jujur.
Tapi tidak sopan.

Aku menutup folder itu cepat-cepat saat ada bayangan muncul di meja.

Rasya.

“Kamu lagi kerja atau bengong?” tanyanya.

“Kerja keras,” jawabku refleks. “Secara mental.”

Dia tertawa. “Senin lagi, ya?”

Aku mengangguk. “Aku sudah mempertimbangkan resign sejak jam sembilan.”

“Rekor baru,” katanya. “Biasanya jam sebelas.”

Aku tertawa kecil. Entah kenapa, bercanda tentang resign terasa lebih aman daripada benar-benar melakukannya.

“Aku belum berani,” kataku pelan. “Takut nyesel.”

Rasya menatapku sambil menyandarkan siku ke meja. “Kadang yang bikin capek bukan kerjaannya, tapi perasaan terjebak.”

Aku menoleh. “Kamu selalu ngomong kayak quotes LinkedIn, tapi entah kenapa masuk.”

Dia tersenyum. “Pengalaman.”

Sore itu, aku tidak membuka folder resign lagi. Bukan karena aku tidak lelah.

Tapi karena hari ini, setidaknya, aku bisa tertawa.

Dan untuk ukuran Senin… itu sudah pencapaian besar.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 8: Senin Tidak Terlalu Menyebalkan (Sedikit))

 

Senin pagi biasanya datang dengan niat jahat.

Tapi Senin ini… agak bingung.

Aku bangun dengan alarm yang sama, kopi yang sama, dan wajah yang sama lelahnya. Tapi entah kenapa, perutku tidak langsung protes.

Mungkin karena aku sudah pasrah.

Di kantor, suasana tidak langsung tegang. Tidak ada undangan meeting pagi. Itu sendiri sudah keajaiban.

Orang-orang saling menatap curiga.

“Ini beneran nggak ada meeting?”
“Jangan-jangan ditunda.”

Aku memilih percaya pada keajaiban kecil.

Pukul sembilan lewat lima, aku masih di meja. Tidak dimarahi. Tidak dipanggil. Laptopku belum trauma.

Aku mulai bekerja dengan perasaan aneh: fokus.

Bahkan aku sempat menyelesaikan satu tugas tanpa distraksi. Satu. Tapi itu rekor.

Di pantry, aku bertemu beberapa rekan kerja. Wajah mereka tidak sekusut biasanya.

“Senin ini kok jinak, ya?” kata seseorang.

“Awas,” sahut yang lain. “Biasanya yang jinak gini… jebakan.”

Kami tertawa. Tertawa versi orang kantor: pendek, hati-hati, tapi tulus.

Siang hari, bos lewat tanpa komentar. Semua orang pura-pura sibuk ekstra keras, padahal memahami satu hal: jangan merusak momen.

Sore datang tanpa drama. Tidak ada email “urgent”. Tidak ada revisi dadakan.

Jam lima lewat sepuluh, aku berdiri.

Tidak ada yang menghentikan.

Aku keluar kantor dengan perasaan ganjil.

Senin tidak menyenangkan.
Tapi juga tidak menghancurkan.

Dan untuk ukuran hidup kantor
itu sudah prestasi.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 4: Pantry Adalah Tempat Paling Jujur)

 

Begitu pintu ruang rapat tertutup, aku langsung mencari satu hal:
pantry.

Bukan kopi.
Tapi keselamatan.

Pantry adalah satu-satunya tempat di kantor yang jujur. Semua orang datang ke sana tanpa topeng. Mata panda, bahu turun, napas panjang, tidak ada yang bisa disembunyikan.

Aku menuang kopi dengan tangan masih sedikit gemetar. Kopi pertama hari Senin selalu terasa seperti obat.

“Kamu kelihatan selamat,” suara itu datang dari belakang.

Rasya.

“Aku hampir KO,” jawabku jujur. “Itu meeting atau uji nyali?”

Dia tertawa kecil sambil mengambil gelas. “Kalau kamu bisa bertahan di meeting itu, kamu bisa bertahan di mana aja.”

Aku meneguk kopi. “Kenapa nggak ada pelatihan mental sebelum masuk kantor ini?”

“Kita semua belajar dari trauma,” katanya santai.

Kami berdiri berdampingan. Tidak bicara. Tapi tidak canggung. Hanya dua orang yang sama-sama masih hidup setelah Senin pagi.

“Aku benci hari ini,” kataku tiba-tiba.

Rasya menoleh. “Hari ini atau pekerjaannya?”

Aku berpikir sebentar. “Bosnya.”

Dia mengangguk pelan. “Valid.”

Aku tertawa kecil. Rasanya lega bisa mengeluh tanpa dihakimi.

“Tenang,” katanya. “Senin selalu paling kejam. Habis ini masih ada empat hari buat pura-pura kuat.”

Aku menatap kopi di tanganku. “Kamu kok santai banget.”

“Bukan santai,” katanya. “Aku sudah berdamai.”

Aku menggeleng. “Aku belum sampai tahap itu.”

Dia menatapku sebentar. “Nggak apa-apa. Nanti juga.”

Kami kembali ke meja masing-masing. Tapi entah kenapa, langkahku lebih ringan.

Pantry tidak menyelesaikan masalah.
Tapi kadang, cukup tahu ada tempat aman untuk bernapas… sudah lebih dari cukup.

Dan Senin ini, walaupun masih menyebalkan, tidak sepenuhnya buruk.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 3: Ruang Meeting, Ruang Trauma)

 

Aku percaya satu hal:
tidak ada yang benar-benar pagi di hari Senin.

Jam masih menunjukkan 08.29 ketika aku sudah duduk di ruang meeting. Laptop terbuka. Notes siap. Mental? Tidak.

Ruang meeting itu selalu dingin. AC terlalu niat. Kursi terlalu keras. Dan papan tulis… saksi bisu dari semua revisi yang tidak masuk akal.

Satu per satu orang masuk dengan wajah setengah hidup.

Lalu pintu terbuka.

Bos masuk.

Aura ruangan langsung berubah. Seperti WiFi, tidak terlihat, tapi semua orang langsung terganggu.

“Mulai,” katanya singkat.

Tidak ada good morning. Tidak ada senyum. Hanya nada yang bikin bahu otomatis naik satu sentimeter.

Presentasi dimulai. Slide pertama muncul. Slide kedua. Slide ketiga.

“Ini kenapa begini?”
“Kenapa bukan begitu?”
“Siapa yang bikin?”

Pertanyaan dilempar tanpa jeda. Seperti kuis dadakan tapi tanpa hadiah.

Aku mencatat. Bukan karena semuanya penting, tapi karena tanganku perlu sibuk agar tidak gemetar.

Di tengah rapat, perutku berbunyi pelan. Aku menunduk. Malu. Trauma meeting ini selalu datang lengkap: lapar, dingin, dan rasa ingin menghilang.

Seseorang di seberang meja menyenggolku pelan. Aku menoleh.

Rasya.

Dia menggeser botol minumnya sedikit ke arahku. Tanpa bicara. Tanpa melihat.

Aku meneguk air itu pelan. Sepele. Tapi rasanya seperti diselamatkan.

Meeting berakhir dengan kalimat sakti:
Kita bahas lagi nanti.”

Kalimat paling menakutkan di kantor.

Saat keluar ruangan, kakiku terasa lemas. Aku bersandar sebentar di dinding.

“Meetingnya selalu sehoror ini?” tanyaku ke Rasya.

Dia tertawa kecil. “Ini versi singkat.”

Aku mendesah. “Aku benci Senin.”

“Semua orang di sini begitu,” katanya. “Tapi kamu cepat belajar.”

Aku menatap ruang meeting yang kini kosong.

Ruang itu bukan cuma tempat diskusi.
Ia ruang trauma.
Tempat aku belajar bahwa bekerja tidak selalu tentang kemampuan, tapi juga tentang bertahan.

Dan entah kenapa… Senin ini terasa sedikit lebih bisa dilewati.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 2: Bos Mood Swing dan Deadline Dadakan)


Hari Selasa seharusnya lebih baik dari Senin.
Itu teori.

Praktiknya, Selasa hanyalah Senin yang belum move on.

Aku baru duduk sepuluh menit di meja kerja ketika email masuk. Subjeknya pendek, padat, dan mengandung ancaman terselubung.

URGENT.

Dari: Ibu Melinda.

Aku membuka email itu pelan-pelan, seperti membuka hasil medical check-up.

Mohon update laporan minggu lalu. Ditunggu hari ini.

Hari ini.

Aku melirik kalender.
Hari ini bukan akhir minggu.
Hari ini juga bukan keajaiban.

Padahal laporan itu sudah kukirim Jumat sore. Lengkap. Dengan attachment. Dengan cc yang benar. Dengan doa.

Aku membalas email itu dengan bahasa paling sopan yang kupunya.
Baik Ibu, kami update.

Kami. Selalu kami.
Karena kata “saya” terasa terlalu berani.

Belum sempat kopi kedua, suara kursi Bos bergeser dari ruangannya. Itu suara khas. Semua orang di divisi kami hafal. Seperti soundtrack film horor versi kantor.

“Mas, Mbak, sebentar ya.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Kami berkumpul. Lagi. Tanpa undangan kalender. Tanpa waktu persiapan. Tanpa mental.

“Kenapa saya baru dapat ini sekarang?” katanya sambil menunjuk layar.

Aku menatap dokumen yang sama persis dengan yang kukirim Jumat lalu. Bahkan nama filenya pun sama.

Aku ingin berkata, Ibu sebenarnya sudah dapat.
Tapi aku memilih berkata, “Baik Bu, nanti kami perbaiki.”

Padahal tidak ada yang perlu diperbaiki.

Bos menghela napas panjang.
Jenis napas yang membuat satu ruangan merasa bersalah, walaupun tidak tahu salahnya di mana.

“Ke depan, saya mau semua lebih proaktif,” katanya.

Aku mengangguk. Semua mengangguk.
Kami terlihat seperti mainan dashboard mobil.

Rapat dadakan itu selesai tanpa solusi, tanpa kejelasan, dan meninggalkan satu hal: deadline baru.

Hari ini. Jam lima.

Aku kembali ke meja dengan perasaan seperti habis dimarahi padahal tidak ketahuan salah apa.

Rasya menaruh secangkir kopi di mejaku tanpa berkata apa-apa.

Aku menoleh.
“Kamu dukun ya?” tanyaku.

Dia tersenyum kecil. “Ekspresi kamu barusan kayak orang butuh kafein, bukan motivasi.”

Aku tertawa pelan.
Itu tawa kecil yang bikin dada agak longgar.

Sore itu kami bekerja dalam diam. Bukan karena fokus, tapi karena capek. Sesekali aku melirik jam. Jarumnya bergerak lambat, seperti sengaja menguji kesabaran.

Pukul 16.58.

Aku mengirim email laporan versi tidak berubah dengan subject baru yang lebih panjang dan lebih sopan.

Mohon izin menyampaikan update laporan sesuai arahan.

Aku menatap layar beberapa detik setelah menekan send.

Tidak ada balasan.

Jam lima lewat.
Bos pulang tanpa komentar.

Entah itu berarti cukup… atau badai ditunda.

Aku menutup laptop.
Hari Selasa selesai.

Besok Rabu.
Masih ada Senin berikutnya.

Dan entah kenapa, di antara capek dan kesal, aku bersyukur ada kopi hangat dan coworker yang tidak banyak tanya tapi selalu paham.

Mungkin itu alasan kenapa aku belum resign.

Belum.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat )

Sinopsis

Setiap hari Senin, pukul delapan pagi, aku duduk di kursi yang sama, menatap slide yang sama, dan mendengar suara bos yang mood-nya selalu datang lebih dulu daripada aku.

Katanya ini rapat.
Bagiku, ini latihan kesabaran.

Bosku mudah marah, sulit ditebak, dan selalu punya cara membuat satu minggu terasa seperti sebulan. Sementara aku, bawahan biasa dengan kopi dingin dan senyum profesional hanya ingin bertahan sampai jam makan siang tanpa menuliskan surat resign di kepala.

Cerita ini bukan tentang karier gemilang atau cinta kantor yang dramatis.
Ini tentang lelah yang disembunyikan, tawa kecil di balik notulen, dan doa pendek setiap Senin pagi: “Semoga hari ini bosnya nggak marah.”

Sebuah cerita tentang bekerja, bertahan, dan keinginan resign yang selalu muncul… tapi entah kenapa, tak pernah benar-benar dikirim.

 

Bab 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat 

Aku benci hari Senin.
Bukan karena pekerjaannya.
Bukan juga karena bangun pagi.

Aku benci Senin karena pukul delapan tepat, aku harus duduk rapi di ruang rapat, berpura-pura siap, sambil menunggu satu hal yang selalu datang tanpa aba-aba: mood bosku.

Namanya Ibu Melinda.
Di kalender kantor, jabatannya Head Division.
Di kepalaku, beliau adalah penentu nasib mingguan.

Kadang beliau datang sambil tersenyum, yang artinya kami aman.
Kadang beliau diam, yang artinya kami harus hati-hati.
Kadang beliau meletakkan tas terlalu keras di meja, yang artinya… berdoa saja.

“Baik, kita mulai ya,” katanya pagi itu.

Jam di dinding menunjukkan pukul 08.01.
Kopiku baru dua teguk.
Mental belum hadir.

Slide pertama muncul.
Slide kedua.
Slide ketiga.

Aku mencatat, bukan karena rajin, tapi karena takut. Takut tiba-tiba namaku dipanggil, lalu ditanya sesuatu yang jawabannya sudah ku kerjakan minggu lalu, tapi hari ini entah kenapa terasa salah.

“Ini kenapa bisa seperti ini?”

Nada suaranya naik setengah oktaf.
Ruangan mendadak hening.
Aku menelan ludah.

Bukan aku yang ditanya.
Tapi aku tetap deg-degan.

Di kantor ini, marah itu menular.

Aku melirik jam. 08.17.
Masih lama.

Di kepalaku, ada folder khusus berjudul Surat Resign yang Tidak Pernah Dikirim. Isinya selalu sama: versi paling sopan dari rasa capek yang sudah terlalu lama dipendam.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan…
Dengan berat hati…
Saya ingin mengundurkan diri…

Tapi setiap kali jam menunjukkan pukul lima sore, folder itu kututup lagi.

Karena entah kenapa, aku masih di sini.

Rapat berakhir pukul 10.00.
Kami keluar satu per satu, membawa sisa-sisa semangat yang sudah dipakai terlalu pagi.

Di pantry, aku menuang kopi lagi.

“Senin banget ya,” kata seseorang di belakangku.

Aku menoleh.
Itu Rasya, rekan satu tim yang selalu datang tepat waktu, pulang sering lembur, dan entah bagaimana masih terlihat waras.

Aku tersenyum kecil.
“Senin memang hobi nyakitin orang.”

Kami tertawa pelan.
Tertawa yang bukan karena lucu, tapi karena sama-sama paham.

Dan di situ aku sadar:
aku tidak sendirian.

Mungkin aku belum berani resign.
Mungkin besok aku masih akan datang lagi.
Mungkin Senin akan tetap menyebalkan.

Tapi selama masih ada kopi hangat, teman seperjuangan, dan sedikit humor untuk bertahan…
aku akan mencoba melewati satu Senin lagi.

Untuk sekarang.

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers