Aku tetap benci Senin.
Ini prinsip hidup.
Tapi Senin pagi itu… aku ketawa.
Bukan tertawa bahagia.
Lebih ke ketawa bingung, kok bisa ya?
Alarm berbunyi. Aku bangun tanpa drama. Tidak mengutuk kalender. Tidak menawar waktu.
Ini mencurigakan.
Di kantor, rapat pagi tetap ada. Bos tetap ngomel. Slide tetap membosankan.
Tapi entah kenapa, aku dan tim saling lempar ekspresi kocak. Mata berbicara. Alis naik-turun. Senyum kecil tanpa suara.
Aku hampir tertawa keras.
Di tengah meeting, aku mencatat sesuatu yang sama sekali tidak penting:
“Senin ini nggak seburuk itu.”
Aku langsung mencoret kalimat itu.
Jangan manja.
Selesai meeting, kami bergerak ke pantry seperti zombie yang baru dilepas dari penjara.
“Aku survive Senin,” kataku.
“Dengan luka batin minimal,” sahut seseorang.
Kami tertawa lagi.
Rasya lewat, menyelipkan komentar ringan, “Rekor baru?”
Aku mengangkat bahu. “Jangan dibiasakan.”
Sore hari, aku menyadari satu hal mengkhawatirkan:
aku menunggu jam istirahat bukan untuk kabur,
tapi untuk ngobrol.
Dan saat pulang, aku tidak menghitung menit.
Aku berhenti sejenak di lift, menatap bayanganku sendiri.
Aku masih benci Senin.
Tapi sekarang… aku tidak sendirian.
Dan mungkin itu yang bikin aku ketawa.
