Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebenernya ini tulisan lama di blog aku. Tapi karena blog itu sudah aku hapus, jadi aku repost di sini ya. Kali ini aku mau sharing pengalaman aku terkena telinga berjamur. Dalam Bahasa medisnya otomikosis. Apakah kalian ada yang pernah dengar? Atau pernah mengalami? Atau sedang mengalami? Menurut aku ini hal yang penting banget buat di-sharing karena aku jarang banget menemukan info pengalaman orang lain pas terkena penyakit ini ketika berselancar di internet dan gimana sih pengobatan yang tepat ketika terkena penyakit ini.

    Jadi pertama kejadiannya itu tanggal 27 september 2020 telinga aku yang sebelah kiri terasa gatal. Ya karena ku pikir gatal biasa kan ya telinga suka gatal. Aku diemin aja. Lalu besoknya pas malem kupingku makin gatal dan agak panas dan nyeri gitu lho. Kaya terasa bengkak. Tragus (anak telinga) dipencet kaku dan kupingku terasa budeg sebelah. Kayak ada sesuatu yang nutup di dalam. Yaudah aku penasaran dong ada apa di dalam. Lalu ku korek lah dengan cotton bud. Pas aku korek ada cairan warna kuning muda gitu di cotton bud-nya dan pas aku korek agak dalam ada bintik2 hitam di cotton bud-nya. Tapi aku gak simpan fotonya nih. Maaf ya. Bintik-bintik hitam itu gak biasa dong. Besoknya aku putuskan buat ke Dokter THT.

    Besoknya tanggal 29 september 2020 karena masih pandemi covid19 nih aku maju mundur mau ke RS. Ini telingaku udah budeg sebelah. pagi-pagi aku putuskan buat install salah satu aplikasi konsultasi sama dokter sekitar jam 6 pagi. Dokter wawancara gejala-gejala yang aku alami kan dan Dokter tersebut menyimpulkan bahwa ada kotoran telinga tersumbat yang mengeras di dalam dan dia meresepkan tetes telinga supaya mudah melunakan si kotoran telinga itu. Dalam Bahasa medis kotoran telinga ini disebut serumen. Tapi aku gak percaya diagnosisnya gitu aja karena kan hanya melalui wawancara chat aja. Dia tidak memeriksa langsung ke dalam telingaku. Yasudah tetap aku putuskan ke RS akhirnya.

    Aku pergi jam 7 pagi dari rumah sendiri naik motor ke salah satu Rumah Sakit di Depok. Wkwkwk. Udah telinga budeg sebelah naik motor lagi berasa terganggu banget keseimbangannya. Begitu sampai di Rumah sakit pertama ini, ternyata untuk cek ke Poliklinik Spesialis cuma ada hari Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan aku ke sana hari selasa. Mana parkirannya jauh. Wkwkk. Yasudah aku putuskan ganti Rumah Sakit. Di rumah sakit kedua ini ternyata Dokter THT nya baru ada jam 12 siang. Oke, berarti belum jodoh, akhirnya aku memutuskan buat ke Rumah Sakit ketiga, di Rumah sakit ketiga ini ternyata Dokter THT paginya sedang cuti. Harus menunggu Dokter THT jadwal sore. Ya Allah, kupingku udah makin budeg ini. Yasudah aku putuskan untuk pergi ke RS yang keempat. Di RS keempat aku sampe jam 10 pagi, Alhamdulillah ada Dokter THT. Begitu mau masuk aku disuruh ganti masker medis kalo mau periksa sedangkan masker yang aku gunakan adalah masker kain dan mereka gak menyediakan masker medis buat aku beli dong. Jadi aku harus keluar Rumah Sakit dan mencari apotek untuk membeli masker medis. Masker medis satunya seharga 3000. Tadinya aku mau beli sekotak. Ternyata 150 rb. Yaudah jadinya 2 aja. Setelah ganti masker medis, aku kembali ke Rumah sakit keempat tadi lagi. Setelah cek suhu aku ke lantai 4 untuk pendaftaran karena aku sebelumnya belum pernah berobat di Rumah Sakit keempat ini. Setelah pendaftaran selesai, aku diminta untuk tensi dan timbang berat badan, lalu aku diminta menunggu panggilan. Rumah sakit keempat ini lumayan nyaman untuk menunggu.

    Sekitar 30 menit menunggu, aku dipersilakan masuk ke dalam ruang Dokternya. Dokternya pake APD lengkap beserta asistennya seperti astronot yang siap ke bulan jadi aku tidak bisa melihat rupanya kayak apa. Setelah aku menceritakan keluhan telingaku, Dokter kemudian menyuruh aku duduk di sebuah kursi untuk diperiksa. Dia memasukan alat otoskopi (ada kamera di ujungnya) ke telinga kiriku dan di dalam telingaku ada cairan kuning muda kental seperti susu kental manis. Akhirnya Dokternya menyedot cairan itu dari telingaku dua kali. Alhamdulillah bisa mendengar lagi kuping kiri. Dokter ini mendiagnosis bahwa ada bisul di dalam telingaku yang pecah lalu ada cairan itu. Tapi aku masih merasa agak aneh dengan telinga ini. Dokternya rempong sekali dengan APD nya. Dia menuliskan resep obat untuk ditebus dan memintaku meminumnya dan memberikan kartu namanya padaku jika masih ada keluhan. Di situ ada nomer HP yang bisa aku hubungi. Yasudah setelah menebus obat aku pulang. Biaya ke THT di RS keempat ini sekitar 400 ribu sudah dengan obat.

    Dokter itu memberikan resep satu obat lalu aku diminta minum obatnya 3 kali sehari. Aku meminumnya saja. Lalu semakin hari telingaku terasa penuh lagi. Seperti ada cairan kuning kental itu lagi yang membuat telingaku budeg. 3 hari tak kunjung membaik, tepat hari jumat, 2 oktober 2020 aku chat Dokternya dan mengatakan telingaku belum membaik dan aku bertanya, apakah aku harus menghabiskan obat yang Dia berikan dulu baru aku kontrol ke Rumah Sakit keempat itu lagi? Dia mengatakan aku harus menghabiskan obat itu dulu kalo aku tidak tahan maka aku dipersilakan untuk ke Dokter THT lainnya. Padahal Dokter itu ada jadwal praktek pada hari itu. Sudahlah, aku coret nama Dokter THT di rumah sakit keempat itu dari daftar Dokter versi baik menurutku. Padahal cuma ada satu Dokter terbaik dalam list menurut versiku dan itu Dokter Mata.

    Pada hari jumat itu juga aku memutuskan pindah Dokter dan pindah Rumah Sakit. Aku cek jadwalnya ketika browsing ada Dokter THT yang praktek dari jam 11-14 di Rumah Sakit kelima yang akan ku kunjungi. Hal ini untuk mengantisipasi kejadian seperti sebelumnya sudah datang ke Rumah Sakit tetapi Dokter THT nya sedang tidak standby. Aku baru jalan jam setengah satu setelah selesai salat. Habis waktunya tanggung banget kan. Jadi aku putuskan salat di rumah dulu. Rumah sakit kelima ini tidak jauh dari rumah sekitar 15 menit. Begitu sampai di RS kelima ini suster di meja masuk memeriksa suhuku dan menuliskan keperluanku di selembar kertas formulir lalu aku harus daftar dulu. Di Rumah Sakit ini pendftaran mandiri menggunakan komputer. Ada 4 komputer yang tersedia di sana. Semua sistem sudah terintegrasi dari mulai pendaftaran hingga pembayaran. Ketika aku mendaftar sudah memasukan semua data, ternyata komputernya error pemirsah. Lalu aku harus mengulang lagi. Cukup memakan waktu pendaftaran ini ya hingga 15 menit aku habiskan. Lalu setelah mendaftar, aku harus cek suhu dan berat badan kepada suster yang berjaga di meja untuk mendapatkan nomer antrian ke Dokter THT. Saat itu waktu menunjukan pukul 13.00 wib dan suster-suster itu mengatakan bahwa poli spesialis sudah tutup. Baru bisa buka sore lagi. Lalu aku dimasukan nomer antrian pertama untuk jam sore yang baru buka jam 16.00 wib. Di websitenya dibilangnya sampe jam 14 sungguh tidak konsisten. Aku nekat saja menaruh nomer antrian itu di depan pintu Dokter spesialis itu. Setelah aku menaruhnya, tidak lama suster di dalam ruangan Dokter Spesialis THT itu membuka pintu dan mengambil kertas antrianku lalu memanggilku. Alhamdulillah, aku dipermudah. Lalu aku masuk dan aku kembali menceritakan keluhanku. Lagi-lagi aku terpukau dengan kecanggihan Rumah Sakit ini, Dokternya mengetik di komputer semua keluhanku, tidak ditulis tangan seperti rumah sakit pada umumnya. Lalu aku diperiksa Dokter spesialis THT itu. Lagi-lagi menggunakan APD aku tidak bisa melihat bagaimana rupa orang yang akan memeriksa aku ini. Tapi usianya sudah sekitar 60 tahunan. Dokter di rumah sakit yang keempat sebelumnya sekitar 42 tahunan. Dokter THT di rumah sakit kelima ini lebih pengalaman dong pikirku. Setelah Dokter memasukan alat otoskopi ke dalam telingaku, dia mendiagnosis bahwa di telingaku terdapat kolaborasi antara jamur dan bakteri. Hitam-hitam gitu kepala jamurnya dan ada cairan kental kuning muda itu. Lalu Dokter membersihakan telingaku. Dokter membersihakan telingaku dengan larutan hidrogen peroksida (untuk melunakan kotoran) lalu menghisap jamurnya (seperti vacum cleaner menghisap debu aja ini rasanya. Tapi ditelinga). Lalu kupingku dimasukan dengan cairan yang aku gak tau namanya apa ya. Warnanya seperti betadine dan dimasukan ke dalam jarum suntik besar. Tapi diujungnya bukan jarum tapi lubang kecil untuk mendorong air itu ke dalam kupingku lalu semua kotoran itu keluar. Setelah itu dokter mengoleskan alcohol di kapas yang dibentuk bulat di besi menyerupai cotton bud untuk mengeringkan telingaku. Setelah itu Dokter menguret kulit telingaku katanya sih biar akar-akar jamur yang ada di kulit ikut terangkat. Lalu tahap terakhir telingaku dioleskan salep oleh Dokternya. Dokter di rumah sakit kelima ini tidak memberiku obat minum atau tetes. Dia bilang treatment telinga berjamur tidak ada obat minum atau tetes jadi harus treatment seperti itu terus hingga telingaku benar-benar bersih. Tidak menggunakan obat tetes karena takut telingaku lembab nanti jamurnya makin tumbuh subur dan Dokter bilang telingaku jangan terkena air sama sekali. Aku diminta kontrol lagi besoknya hari sabtu. Yasudahlah aku percaya saja. Setelah itu aku membayar ke kasir dan habis 500 rb an untuk penangan tadi.


Jamur pada telinga berwarna hitam yang dilingkarin merah

    Besoknya aku datang dan kontrol lagi lalu Dokternya treatment aku cara yang sama seperti kemarin. Hari-hari berikutnya aku terus kontrol. Jadi seminggu aku kontrol 2-3 kali tergantung saran Dokternya. Wudhu cuma sebelah telinga untuk menghidari air. Keramas harus diakalin supaya gak kena air. Aku takut jika aku tidak bisa mendengar normal lagi dan harus bergantung kepada Dokter. Hingga akhir Oktober aku sudah kontrol 13 kali di Rumah sakit kelima itu. Ini adalah rekor buatku berurusan dengan Rumah sakit sampai sebulanan. Alhamdulillah kalopun sakit aku bisa sembuh dengan obat warung. Aku sebenarnya sudah ingin ganti Dokter dan Rumah sakit lagi pada kontrol ke enam kali.  Aku sudah berselancar di internet lagi. Tapi Ibuku bilang aku harus sabar dan ditelatenin saja berobat dengan Dokter itu Di Rumah Sakit itu. Btw, Rumah sakit kelima ini adalah Rumah Sakit yang bagus di Depok. 

 Jamur basah yang menutupi telinga

    Ketika kontrol yang ke 14 kali. Telinga kiriku bener-bener budeg sebelah lagi dan pertumbuhan si jamur terasa makin cepat. Cairan kuning muda kental itu sudah memenuhi telingaku hingga ingin menutup liang telingaku. Dokter segera membersihkan telingaku dengan treatment seperti biasanya. Dokternya pun terlihat bingung kenapa jamurku terus tumbuh dan telingaku lembab. Dia mengatakan agar berhati-hati ketika keramas. Tapi aku udah gak keramas dua minggu. Bagaimana telingaku bisa masih basah terkena air padahal aku sama sekali gak keramas selama dua minggu dan tiap mandi aku selalu hati-hati. Kali ini dia meresepkan aku obat minum antibiotik. Kenapa gak dari awal dia kasih obat minum kalo ujung-ujungnya sudah hari ke 14 kontrol dia memberikan obat minum dan obat antibiotik ini harganya mahal sekali 300 rb an dan satu lagi gak tau obat apaan 55 rb an. Ini rekor aku ke Rumah Sakit selama treatment menghabiskan uang 900 rb. Siang dan malam aku minum obat mahal itu berharap semoga membaik. Baru siang dibersihkan dokter cairan yg ada jamur dalam telingaku itu. Malamnya telingaku sudah mengeluarkan cairan itu lagi. Cepat sekali. Aku baru kontrol ke Dokter 2 hari setelah itu telingaku sudah ada jamurnya lagi. Ya Allah. Dokter itu melakukan treatment yang sama. Setelah itu dia meresepkan obat tetes otilon. Dia tidak menjelaskan sama sekali kepadaku fungsi obat itu untuk apa. Tapi tetap aku tebus obat itu dan aku cari info dengan berselancar di internet. Padahal di awal pemeriksaan aku dengan Dokter itu tidak perlu menggunakan obat tetes karena takut makin lembab lalu telingaku makin berjamur. Lalu sekarang Dia meresepkan aku obat tetes? Dia sedang bercanda apa gimana? Ini manusia yang Dia periksa bukan katak percobaan.

 Kondisi telinga setelah jamurnya dibersihkan menjadi merah

    Setelah pulang aku bilang dengan tegas sama ibuku bahwa aku mau pindah Dokter dan Rumah Sakit. Sudah 15 kali aku ke Dokter THT di Rumah Sakit yang menurut pandangan orang-orang rumah sakit bagus di Kota Depok. Omongannya yang tidak konsisten membuat aku meragukan kapabilitasnya. Akhirnya aku berselancar menggunakan internet lagi. Aku menemukan sebuah nama Profesor yang sudah sangat dikenal kapabilitasnya di dunia THT. Bahkan artis pun ada yang berobat ke sana. Aku mencari-cari info dimana Profesor itu membuka praktek. Lalu aku bookmark.

    Setelah itu Allah memberi pentunjuk dengan tiba-tiba aku teringat akan temanku yang pernah cerita adiknya pernah operasi telinga. Aku chat Dia dan kutanyakan siapa Dokternya, bagaimana kondisi adiknya sekarang, apakah masih kontrol atau tidak. Ternyata nama Dokter yang mengoperasi Adiknya itu sama dengan nama Profesor yang aku cari namanya di internet. Setelah itu aku menghubungi rumah sakit keenam tempat Prof itu praktek, untuk booking konsultasi dengan Prof itu harus menelpon pada hari yang sama. Pendaftaran dimulai jam 7 pagi  Sudah seperti ikutan kuis saja. Petugas resepsionis itu mengatakan Prof itu akan cuti selama 7 hari ke depan. Jadi kesempatan bertemu dengan Prof itu hanya tinggal besok Akhirnya aku meminta tolong sepupuku untuk bantu aku menelepon ke rumah sakit itu. Aku harus bisa bertemu dengannya. Alhamdulillah Allah mudahkan. Aku mendapat nomer antrian ke 10 sehingga estimasi bertemu Prof itu pada jam 17.30 wib. 

    Pada hari kamis tanggal 5 november 2020 aku berangkat jam 14 dari Rumah. Lokasi Rumah Sakitnya ada di Salemba, Jakarta Pusat. Cuaca sedang tidak menentu dan telingaku ini tidak boleh terkena air. Yasudah aku berangkat dengan menggunakan mobil dari Depok diantar oleh sepupuku. Perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit. Sampai dilokasi jam 15.30 wib. Lalu kami ke pendaftaran. Pendaftarannya pun masih manual menggunakan kertas tidak canggih menggunakan komputer seperti rumah sakit kelima. Setelah itu kami salat ashar terlebih dahulu di mushola. Lalu kembali menunggu di lobi rumah Sakit. Rumah Sakit ini tidak besar dan sepi. Lebih mirip klinik malah. Tapi Prof canggih itu praktek di sini. Namaku dipanggil tepat pukul 17.30 wib tepat sesuai estimasi. Profesor yang kutemui kuperkirakan usia 70 tahunan. Beliau masih sehat dan bugar. Dia tidak memakai APD ketat seperti dua Dokter yg memeriksaku. Tpi masker yang digunakanannya terlihat canggih. Setelah aku menceritakan keluhanku dan diagnosis Dokter sebelumnya Prof lalu memeriksa teligaku. Pengobatan yang diberikannya berbeda. Dia memasukan tampon (sejenis kain kasa) yang telah ditetesi obat-obatan ke dalam telingaku. Lalu aku diminta untuk kontrol lagi pada hari senin tanggal 9 November untuk diganti tamponnya dengan Dokter asistennya di Rumah Sakit itu juga karena Beliau mau cuti. Dan dia memberiku obat tetes racikan Rumah Sakit itu dengan kandungan acetid acid 25% 2 cc plus alcohol 96% 23 cc. Obat ini boleh diteteskan 3 hari setelah aku ganti tampon dengan Dokter asisten Prof ini yaitu setelah hari kamis. Sungguh menjadi Dokter itu harus mengerti kimia juga gaes. Wkwkwk.

    Rasanya menggunakan tampon dalam telinga pertama kali pendengaran berkurang. Besoknya telingaku terasa mengeluarkan cairan lagi. Tapi terserap oleh tampon dan tampon akan kering karena udara dari luar telinga lalu ketika cairan keluar diserap lagi oleh tampon begitu terus sampe kontrol berikutnya. Aku merasa lebih baik. Setelah aku pikir, metodenya masuk akal, supaya telingaku tidak lembab makanya diberi tampon untuk menyerap cairan di dalam dan udara yang masuk dari luar tidak membuat telingaku makin lembab.

    Senin, 9 november 2020 aku kembali ke Rumah Sakit di Salemba, Jakarta itu dan bertemu dengan Dokter asisten Prof itu. Dokternya perempuan. Cantik sekali walaupun mukanya tertutup masker dan sangat ramah. Dia sabar dan mau menjawab pertanyaan yang aku ajukan sebodoh apapun. Wkwkkw. Dokter itu lalu mengganti tamponku dengan yang baru. Setelah obat-obatan ditetesin di tampon itu, Beliau memasukannya ke dalam telingaku. Dia bilang tampon sebelumnya ada darah, berarti telingaku luka. Ya gimana gak luka, di Dokter sebelumnya telingaku dikuret tiap 2 hari sekali. Rasanya tampon yang beliau pasang ini lebih tipis dari yang dimasukan prof. Mungkin karena cairan dalam telingaku sudah berkurang. Jenis jamur yang tinggal ditelingaku ini jamur basah. Makanya adanya cairan kuning muda kental itu. Begitu aku tanya kenapa telinga manusia bisa berjamur? Intinya karena PH dalam telinga berubah dan menjadi lembab. Sebab telinga kita lembab hanya kita yang bisa menjawabnya. Bisa karena setelah berenang, air terjebak dalam telinga sehingga membuat lembab atau setelah keramas, langsung menggunakan kerudung, menggunakan helm yang lembab, sering mengorek telinga sehingga telinga terlalu bersih tidak ada serumen yang melindungi telinga dari jamur dan bakteri, dll. Setelah aku intropeksi diri, setiap habis kermas, aku biasa membersihkan telinga dengan cotton bud. Lalu setelah itu video call menggunakan headset sehingga kulit telinga yang sensitif tergores. Mungkin karena itu lah telingaku lembab dan tumbuh jamur. Kata Dokter telinga itu bisa membersihkan kotorannya sendiri. Jika menggunakan cotton bud malah akan mendorong kotoran makin ke dalam. Kotoran akan keluar dengan sendirinya dengan gerakan mengunyah, mengobrol atau tertawa dari pergerakan rahang kita. MasyaAllah. Jika kotoran telinga sudah sampai diujung lubang telinga, maka tinggal dilap saja menggunakan tisu. Tidak dikorek. Tapi ketika aku baca-baca lagi serumen manusia itu berbeda-beda. Ada yang tipe basah dan tipe kering. Kalo kering bisa mengeras di dalam jika tidak dibersihkan. Jadi gimana dong membersihkan telinga yang baik dan benar? Kunjungi THT tiap 6 bulan sekali buat cek. Hehe. Ya rezeki yang dititipkan Allah pada kita juga ada hak orang lain kan. 

    Kunjungan ketiga ke Dokter asisten Prof itu telingaku alhamdulillah sudah dinyatakan sembuh dan tidak perlu kontrol lagi. Aku merasa tidak gatal lagi dan aku bisa mendengar normal. Dokter asisten prof itu tidak menyuruhku menggunakan obat tetes yang dari Prof. Mungkin karena pemerikasaan pertama telingaku lembab sekali makanya diresepkan obat itu sama Prof. Aku bersyukur sekali. Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Jadi jangan berputus asa. Memang perjalan berobat aku ini berliku sekali. Allah mau aku belajar sabar. Mungkin kalo langsung Allah temukan dengan Prof itu aku tidak akan belajar sabar dan ikhlas. Aku pun jadi bertemu dengan orang-orang yang sakit di Rumah Sakit, berbincang dengan mereka. MasyaAllah, betapa nikmat sehat itu tiada duanya. Mensyukuri fisik kita, bisa mendengar, melihat, berbicara, merasakan nikmatnya rasa makanan, bernafas dengan gratis, berjalan dengan normal. Allahu Akbar.

    Hal yang aku rasakan berobat di Rumah Sakit ini Dokternya tulus ingin membantu. Selama ini di pikiran aku sudah melekat bahwa Rumah Sakit adalah lahan bisnis. Apa-apa harus operasi demi mendapatkan uang pasien. Padahal keadaan pasien pun tidak memungkinkan untuk operasi. Ini pengalaman waktu Almarhum ayahku dulu. Bagimana jika ada pasien yang tidak mampu dengan penyakit berat. Di rumah belum tentu bisa makan. Lapar ditahan-tahan. Tapi untuk menebus obat atau biaya Rumah Sakit sampe rela berhutang ke sana ke sini berharap agar orang yang disayanginya bisa sehat kembali. Aku tahu biaya belajar sebagai Dokter mahal. Kuliahnya lama. Pelajarannya sulit. Tapi Aku berharap orang-orang yang berprofesi sebagai Dokter tidak memperkaya dirinya dengan mengorbankan keselamatan pasien. Jika itu terjadi pada keluarga mereka bagaimana rasanya. 

    Hal yang ingin aku sampaikan lagi adalah Allah kasih penyakit atau ujian itu bukan berarti Allah gak sayang sama kita. Justru karena Allah sayang. Dia ingin kita semakin mengenalnya. Lebih lama berduaan degannya. Mengadahkan tangan kepadanya. Berdoa memohon ampun dan bertaubat atas dosa-dosa kita. Jika pada saat sehat tidak bisa membuat kita lebih taat padanya. Dengan dalam keadaan sakitlah kita selalu menyebutNya. Ketika sakit insyaAllah dosa-dosa kita berguguran sehingga ketika bertemu Allah lagi, kita ringan hisabnya. Bukankah jika kita mencintai harus membuktikannya? Allah ingin menguji cinta kita kepadaNya. Bersabar dan bersyukur. Demikian sharing dari aku. Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Dan semoga yang sedang sakit, Allah izinkan angkat penyakitnya dan sehat seperti sedia kala. Aaamiin

2 comments

  1. Nama dokternya siapa ya ? Saya juga otomikosis 3 kali konsul dan irigasi telinga enggak sembuh sembuh .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan chat di IG aku ya @nanarosdiana91 aku tidak menuliskan siapapun di sini supaya tidak terkesan mencemarkan nama baik atau mempromosikan pihak tertentu. Terimakasih :)

      Delete

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Popular Posts

Followers