Semua bermula dari satu keputusan sepele:
Aku salah pilih kursi.
Ruang meeting hari itu penuh. Kursi yang biasa kutempati sudah diisi. Aku melirik kanan-kiri, lalu duduk di kursi kosong terdekat.
Di sebelah Rasya.
Aku baru sadar setelah pantat menyentuh kursi.
Terlambat.
Aku membuka laptop lebih cepat dari biasanya. Pura-pura sibuk. Padahal layar masih halaman kosong.
Rasya menoleh sebentar. “Hai.”
“Hai,” jawabku terlalu cepat.
Meeting dimulai. Bos bicara. Aku mencatat. Tulisan tanganku aneh. Terlalu besar. Terlalu semangat.
Tiba-tiba, Rasya mendorong post-it ke arahku.
“Tenang. Ini bukan ujian hidup.”
Aku menahan tawa. Menutup mulut. Mengangguk serius seolah mencatat poin penting.
Bos melirik ke arah kami. Aku langsung duduk lebih tegak. Fokus palsu maksimal.
Di tengah rapat, laptopku hampir kehabisan baterai. Aku panik kecil. Rasya menyodorkan charger tanpa bicara.
Aku mencolokkan charger itu sambil berbisik, “Makasih.”
Dia mengangguk. Seolah ini kejadian biasa.
Meeting selesai. Kami berdiri bersamaan. Sedikit canggung.
“Kayaknya duduk di sini bahaya,” kataku.
“Kenapa?”
“Distraksi.”
Dia tertawa. “Setuju.”
Aku kembali ke meja dengan satu kesadaran mengkhawatirkan:
hal-hal kecil di kantor mulai terasa… menyenangkan.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada Senin.
