Ketika bermedia sosial akun apa saja yang kalian follow? mungkin sebagian besar adalah akun-akun yang menarik dan relate sama kalian kan? misalnya kalian suka dengan dunia desain, maka akun-akun yang kalian follow juga yang berhubungan dengan dunia desain dan kreativitas atau sosok Influencer tertentu. Lalu selebihnya adalah akun teman-teman yang memang dikenal di dunia nyata untuk saling follow di media sosial.

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels

    Sudah beberapa bulan ini aku jarang banget membuka beberapa akun medsos. Aku memang sengaja menyibukan diriku agar tidak 'gatal' membukanya karena aku tidak ingin menjadi kecanduan. Hidup terasa hampa tanpa medsos. Haha. Waktu tidak terasa ketika membuka medsos, scroll...scroll...niatnya cuma 10 menit jadi kebablasan sampai berjam-jam. Pertama-pertama mencoba untuk tidak membuka akun medsos rasanya aneh sekali seperti ada yang kurang. Tapi setiap kali ingin membukanya, aku mengalihkan perhatianku dengan membaca buku ataupun e-book, membersihkan rumah, menulis, mencari ide konten untuk video, menggambar, berolahraga, berkebun atau kegiatan apapun itu agar tidak terlalu sering menyentuh gadget.

    Setiap orang ingin menunjukan eksistensinya di media sosial. Ada yang memposting feed instagram sehari 5 kali yang berisikan foto selfie dirinya, liburannya, ootd-nya, flexing dan berbagai jenis postingan lainnya. Ada juga yang memposting story di instagram atau status whatsApp untuk memposting produk jualannya sampai panjang titik-titiknya. Ada juga yang curhat dan berkeluh kesah tentang persoalan pribadinya. Mengapa seseorang lebih mudah mengekspresikan perasaannya lewat media sosial? Bahkan orang yang bersifat pendiam di dunia nyata bisa menjadi pribadi yang bertolak belakang di media sosial. Mungkin karena sifat online dari dunia maya yang tidak mengharuskan penggunanya bertatap muka, sehingga pengguna media sosial lebih berani untuk berbicara atau berkomentar. Ya sah-sah saja sih memposting apa saja. Tetapi kalau setiap apa yang kita lakukan, apa yang kita rasakan selalu diposting, itu kurang bijak sih menurutku. Tidak semua orang peduli dengan apa yang kita lakukan dan yang terjadi dalam hidup kita.

    Seseorang yang memposting kehidupannya di media sosial bisa jadi bertolak belakang dengan kehidupan real-nya. Foto atau video sesorang yang kita lihat dengan visual yang sempurna bisa jadi adalah hasil editing atau menggunakan filter. Seseorang yang terlihat selalu ceria bisa jadi tidak memperlihatkan kesedihannya di media sosial. Turunkan ekspetasi kita terhadap 'kesempurnaan' seseorang atau kehidupan orang lain di media sosial.

    Media sosial juga sering bikin salah paham. Ada teman, saudara, tetangga yang memposting sesuatu disangka menyindir. Ada yang posting video liburannya dikira pamer, ada yang posting lagi sedih atau kegalauannya dikira gak bersyukur. Padahal mungkin yang memposting tidak bermaksud apa-apa, ya hanya ingin memposting saja tanpa bermaksud menyindir siapa-siapa. Bisa jadi hati kita yang berperasangka buruk.

    Aku pribadi jarang bahkan hampir tidak pernah membuka story atau status orang lain di medsos. Gak kepo aja sama apa yang sedang diposting orang lain dan gak ada waktu juga. Hehe. Kalau setelah posting story atau status di akun pribadi, langsung aku close tanpa pengen tahu siapa saja yang "seen". Menurutku gak penting aja. Aku membuka medsos hanya untuk mencari info dengan menonton atau membaca konten orang lain secara random yang tidak aku kenal dengan feature explore, memberi info melalui konten yang aku buat atau sekedar refreshing share video atau foto yang menurutku menarik atau bermanfaat dari konten orang lain. Kalian ada yang sama kayak aku gak?

    Setiap aku ingin memposting sesuatu atau share konten milik orang lain, aku memberi jeda dan berpikir berkali-kali terlebih dahulu "penting gak sih untuk aku posting atau share?" atau ini hanya "spam". Hehe. Hal lain yang mungkin tidak kita sadari ketika bermedia sosial adalah share data pribadi atau rahasia pribadi bahkan aib sendiri ke ranah publik. Misalnya curhat masalah rumah tangga atau konflik internal keluarga. Masalah yang kita unggah akan menjadi santapan publik dan orang lain akan menikmatinya layaknya tontonan. Bukannya solusi yang kita dapat, justru kemungkinan besar masalah akan bertambah runyam. Selain itu, sebaiknya kita berhati-hati untuk menyebarkan data, identitas, maupun foto-foto pribadi, supaya tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki niatan buruk karena media sosial sangat rawan dengan berbagai risiko penipuan dan kejahatan lainnya.

    Sebagai bagian dari produk teknologi masa kini, media sosia memiliki dua sisi mata pedang. Media sosial hanyalah sarana atau media yang bersifat netral, sedangkan pengguna yang akan memanfaatkannya menjadi sarana pembawa kebaikan atau justru sebaliknya. Semoga kita bisa bijak dalam bermedia sosial. Jarimu, harimaumu! Semoga bermanfaat.

No comments

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Popular Posts

Followers