Senin Pukul 8 Pagi (Part 10: Aku Mulai Menunggu Hari Kerja (Ini Berbahaya))

 


Ada fase dalam hidup kantor yang sangat berbahaya.

Bukan saat ingin resign.
Tapi saat mulai… betah.

Aku menyadarinya pada Selasa pagi.
Bukan Senin.
Selasa.

Hari yang biasanya netral, tapi kali ini terasa… dinanti.

Aku datang ke kantor dengan langkah yang tidak terlalu berat. Bahkan sempat mikir, eh, cepet juga sampainya.

Itu red flag.

Di meja kerja, aku langsung membuka laptop tanpa mendesah. Tangan bergerak otomatis. Otak ikut kerja sama.

Ini makin bahaya.

Pagi itu kami bercanda di grup tim. Candaan receh. Meme jelek. Tapi cukup bikin senyum.

“Aku nggak benci hari ini,” kataku pelan ke diri sendiri.

Kalimat itu lebih mengerikan daripada lembur.

Di pantry, aku ikut nimbrung obrolan yang biasanya kulewati. Ikut tertawa. Ikut mengeluh. Ikut merasa bagian dari sesuatu.

“Kamu kok betah?” celetuk seseorang.

Aku refleks jawab, “Nggak betah, kok. Cuma… terbiasa.”

Pembelaan klasik.

Sore hari, pekerjaan selesai tepat waktu. Aku tidak buru-buru pulang. Duduk sebentar. Mengobrol hal-hal random.

Dan di situlah aku sadar:
aku mulai menunggu hari kerja.

Bukan karena pekerjaannya.
Tapi karena suasananya.

Karena rasa “kita bareng-bareng”.
Karena tawa kecil di sela stres.
Karena hari-hari yang tidak selalu menyenangkan, tapi bisa dilewati.

Aku pulang dengan perasaan aneh:
takut.

Takut aku lupa alasan kenapa dulu ingin pergi.
Takut betah membuatku diam terlalu lama.

Karena betah itu nyaman.
Dan kenyamanan… sering bikin orang lupa kapan harus pergi.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 9: Bos Marah, Kami Kompak)

 


Bos marah itu biasa.

Yang luar biasa adalah saat kami semua… kompak.

Pagi itu dimulai dengan email panjang. Terlalu panjang untuk dibaca sebelum kopi.

Subject-nya netral.
Isinya emosional.

Aku baru sampai meja ketika satu per satu notifikasi bermunculan. Bukan dari bos, tetapi dari grup internal tim.

“Baca emailnya pelan-pelan.”
“Jangan dibalas dulu.”
“Tarik napas.”

Kami sudah seperti unit penanggulangan bencana.

Meeting dadakan dijadwalkan. Semua orang datang dengan wajah serius, tapi mata saling bertanya: siapa yang kena duluan?

Bos bicara dengan nada tinggi. Kata-katanya cepat. Kalimatnya panjang. Intinya satu: tidak puas.

Kami mengangguk serempak. Sinkron. Terlatih.

Tidak ada yang menyela. Tidak ada yang defensif. Semua tahu, ini bukan soal solusi, ini soal meluapkan.

Begitu rapat selesai, kami bubar rapi.

Dan saat pintu tertutup…

Pantry penuh.

Ada yang langsung nyeduh kopi. Ada yang buka camilan. Ada yang cuma berdiri sambil menatap dinding.

“Gue tadi hampir jawab,” kata seseorang.
“Syukurlah enggak,” sahut yang lain. “Itu akan memperpanjang meeting.”

Kami tertawa.

Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau tidak, kami bisa menangis.

Siang itu, kerja terasa lebih ringan. Bukan karena beban berkurang, tapi karena kami tahu, kami tidak sendirian.

Ada yang bantu cek file. Ada yang nawarin take over sebagian kerjaan. Tanpa diminta.

Solidaritas kantor itu aneh.
Tidak dirayakan.
Tidak difoto.

Tapi sangat terasa.

Sore hari, aku menatap timku dan berpikir:
kalau aku masih bertahan sejauh ini,
itu bukan karena kantor ini baik…

tapi karena orang-orangnya.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya,
aku pulang dengan perasaan:
setidaknya, kami kompak.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 7: Lembur, Niat Pulang, dan Kebohongan Kolektif)


Jam lima sore adalah konsep.

Bukan fakta.

Pukul 16.55, semua orang mulai gelisah. Mouse digerakkan lebih aktif. Excel dibuka lebih sering. Padahal isinya masih sama sejak siang.

“Kayaknya hari ini bisa pulang tepat waktu,” bisik seseorang.

Kebohongan pertama.

Pukul 17.02, email masuk.

Subject: Quick Update
Isi: tiga paragraf.
Lampiran: empat file.

Quick.

Aku menatap layar. Menghela napas. Membuka file. Menutup lagi. Membuka lagi.

Lembur?” tanya seseorang.

“Enggak,” jawab orang lain. “Cuma… nyampe rumah agak malam.”

Kebohongan kedua.

Pukul enam, pantry penuh. Bukan untuk makan. Tapi untuk saling menguatkan.

“Aku nggak lapar,” kata seseorang sambil makan gorengan ketiga.

“Aku cuma mau minum,” kata yang lain sambil menyeduh kopi paling kental.

Aku duduk di meja dengan tekad palsu:
Habis ini kelar, pulang.

Pukul tujuh lewat.

Ada yang memutar lagu pelan. Ada yang memesan makan online “sekalian aja”. Ada yang mulai curhat tentang hidup, bukan kerjaan.

Aku menatap sekeliling.

Kami tidak dekat. Tapi kami senasib.

Lembur membuat orang jujur.
Dan sedikit lebih lucu.

Pukul delapan, seseorang berkata, “Besok aku cuti.”

Semua orang menatapnya dengan iri yang tulus.

Pukul sembilan, akhirnya selesai.

Kami berdiri. Mengemasi tas. Tanpa sorak sorai. Tanpa bangga. Hanya lega.

Di lift, kami diam. Lelah.

Aku sadar satu hal:
kantor ini mungkin melelahkan,
tapi di balik semua kebohongan kolektif tentang “sebentar lagi pulang”,
ada rasa kebersamaan yang aneh.

Bukan romantis.
Bukan indah.

Tapi cukup untuk membuatku bertahan… untuk hari ini.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 6: Coworker, Spesies Aneh di Habitat Bernama Kantor)


Selama bekerja di sini, aku menyimpulkan satu hal:
kantor adalah kebun binatang.

Bukan karena hewannya.
Tapi karena tiap orang punya perilaku khas yang muncul di jam tertentu.

Ada tipe Datang Paling Pagi Tapi Pulang Paling Awal.
Ada Ngopi Lima Kali Tapi Kerjanya Tetap Sama.
Ada juga Suka Bilang “Santai” Tapi Deadline-nya Hari Ini.

Aku?
Tipe Masih Bingung Kenapa Aku di Sini Tapi Tetap Datang Tepat Waktu.

Pagi itu, grup chat kantor sudah ramai sebelum jam delapan.

“Reminder ya, hari ini follow up yang kemarin.”
Follow up yang mana?
Yang kemarin hari apa?

Aku baru saja membuka laptop ketika suara dari belakang menyapa,
“Kalau kamu bertahan tiga bulan di sini, nanti dapat skill baru.”

Aku menoleh. Rasya.

Skill apa?” tanyaku.

Skill pura-pura ngerti,” jawabnya santai.

Aku tertawa. Keras. Terlalu keras. Tapi jujur.

Di kantor ini, ada aturan tak tertulis:
jangan terlihat terlalu pintar, nanti ditambah kerjaan.
Jangan terlihat terlalu santai, nanti dibilang tidak niat.

Jadi semua orang memilih aman, terlihat sibuk.

Aku sempat mengamati rekan kerja di sekeliling.
Mouse digerakkan tanpa klik.
Excel dibuka tanpa disentuh.
Wajah serius, padahal lagi mikirin makan siang.

“Ini normal?” bisikku ke Rasya.

“Normal kantor,” katanya. “Bukan normal manusia.”

Siang hari, bos lewat dengan aura tidak mengundang percakapan. Semua orang mendadak mengetik lebih cepat.

Aku ikut-ikutan. Tidak tahu apa yang kuketik.

“Ini juga skill,” kata Raka pelan. “Survival.”

Aku mengangguk penuh pengertian.

Mungkin aku belum cinta pekerjaan ini.
Mungkin aku masih membuka folder resign tiap Senin.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu:
aku tidak sendirian di kebun binatang ini.

Dan di antara semua spesies aneh itu,
ada satu coworker yang membuat hari-hari absurd ini… bisa ditertawakan.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 5: Folder Resign yang Selalu Kubuka (Tapi Tak Pernah Kukirim))


Aku punya satu folder rahasia di laptop kantor.

Namanya sederhana. Tidak mencurigakan. Tidak dramatis.

Misc.

Isinya?
Draft resign.
Versi satu sampai versi entah keberapa.

Setiap hari Senin, folder itu terasa memanggil-manggil.

“Buka aku,” katanya.
“Hanya lima menit,” katanya lagi.

Siang itu, setelah meeting lanjutan yang seharusnya email saja, aku membuka folder itu. Sekadar melihat. Bukan niat mengirim. Cuma… memastikan aku masih punya jalan keluar.

Versi pertama sangat emosional.
Versi kedua sok dewasa.
Versi ketiga terlalu jujur.

Yang terbaru bahkan cuma satu kalimat:

Saya lelah.

Itu saja.
Jujur.
Tapi tidak sopan.

Aku menutup folder itu cepat-cepat saat ada bayangan muncul di meja.

Rasya.

“Kamu lagi kerja atau bengong?” tanyanya.

“Kerja keras,” jawabku refleks. “Secara mental.”

Dia tertawa. “Senin lagi, ya?”

Aku mengangguk. “Aku sudah mempertimbangkan resign sejak jam sembilan.”

“Rekor baru,” katanya. “Biasanya jam sebelas.”

Aku tertawa kecil. Entah kenapa, bercanda tentang resign terasa lebih aman daripada benar-benar melakukannya.

“Aku belum berani,” kataku pelan. “Takut nyesel.”

Rasya menatapku sambil menyandarkan siku ke meja. “Kadang yang bikin capek bukan kerjaannya, tapi perasaan terjebak.”

Aku menoleh. “Kamu selalu ngomong kayak quotes LinkedIn, tapi entah kenapa masuk.”

Dia tersenyum. “Pengalaman.”

Sore itu, aku tidak membuka folder resign lagi. Bukan karena aku tidak lelah.

Tapi karena hari ini, setidaknya, aku bisa tertawa.

Dan untuk ukuran Senin… itu sudah pencapaian besar.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 8: Senin Tidak Terlalu Menyebalkan (Sedikit))

 

Senin pagi biasanya datang dengan niat jahat.

Tapi Senin ini… agak bingung.

Aku bangun dengan alarm yang sama, kopi yang sama, dan wajah yang sama lelahnya. Tapi entah kenapa, perutku tidak langsung protes.

Mungkin karena aku sudah pasrah.

Di kantor, suasana tidak langsung tegang. Tidak ada undangan meeting pagi. Itu sendiri sudah keajaiban.

Orang-orang saling menatap curiga.

“Ini beneran nggak ada meeting?”
“Jangan-jangan ditunda.”

Aku memilih percaya pada keajaiban kecil.

Pukul sembilan lewat lima, aku masih di meja. Tidak dimarahi. Tidak dipanggil. Laptopku belum trauma.

Aku mulai bekerja dengan perasaan aneh: fokus.

Bahkan aku sempat menyelesaikan satu tugas tanpa distraksi. Satu. Tapi itu rekor.

Di pantry, aku bertemu beberapa rekan kerja. Wajah mereka tidak sekusut biasanya.

“Senin ini kok jinak, ya?” kata seseorang.

“Awas,” sahut yang lain. “Biasanya yang jinak gini… jebakan.”

Kami tertawa. Tertawa versi orang kantor: pendek, hati-hati, tapi tulus.

Siang hari, bos lewat tanpa komentar. Semua orang pura-pura sibuk ekstra keras, padahal memahami satu hal: jangan merusak momen.

Sore datang tanpa drama. Tidak ada email “urgent”. Tidak ada revisi dadakan.

Jam lima lewat sepuluh, aku berdiri.

Tidak ada yang menghentikan.

Aku keluar kantor dengan perasaan ganjil.

Senin tidak menyenangkan.
Tapi juga tidak menghancurkan.

Dan untuk ukuran hidup kantor
itu sudah prestasi.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 4: Pantry Adalah Tempat Paling Jujur)

 

Begitu pintu ruang rapat tertutup, aku langsung mencari satu hal:
pantry.

Bukan kopi.
Tapi keselamatan.

Pantry adalah satu-satunya tempat di kantor yang jujur. Semua orang datang ke sana tanpa topeng. Mata panda, bahu turun, napas panjang, tidak ada yang bisa disembunyikan.

Aku menuang kopi dengan tangan masih sedikit gemetar. Kopi pertama hari Senin selalu terasa seperti obat.

“Kamu kelihatan selamat,” suara itu datang dari belakang.

Rasya.

“Aku hampir KO,” jawabku jujur. “Itu meeting atau uji nyali?”

Dia tertawa kecil sambil mengambil gelas. “Kalau kamu bisa bertahan di meeting itu, kamu bisa bertahan di mana aja.”

Aku meneguk kopi. “Kenapa nggak ada pelatihan mental sebelum masuk kantor ini?”

“Kita semua belajar dari trauma,” katanya santai.

Kami berdiri berdampingan. Tidak bicara. Tapi tidak canggung. Hanya dua orang yang sama-sama masih hidup setelah Senin pagi.

“Aku benci hari ini,” kataku tiba-tiba.

Rasya menoleh. “Hari ini atau pekerjaannya?”

Aku berpikir sebentar. “Bosnya.”

Dia mengangguk pelan. “Valid.”

Aku tertawa kecil. Rasanya lega bisa mengeluh tanpa dihakimi.

“Tenang,” katanya. “Senin selalu paling kejam. Habis ini masih ada empat hari buat pura-pura kuat.”

Aku menatap kopi di tanganku. “Kamu kok santai banget.”

“Bukan santai,” katanya. “Aku sudah berdamai.”

Aku menggeleng. “Aku belum sampai tahap itu.”

Dia menatapku sebentar. “Nggak apa-apa. Nanti juga.”

Kami kembali ke meja masing-masing. Tapi entah kenapa, langkahku lebih ringan.

Pantry tidak menyelesaikan masalah.
Tapi kadang, cukup tahu ada tempat aman untuk bernapas… sudah lebih dari cukup.

Dan Senin ini, walaupun masih menyebalkan, tidak sepenuhnya buruk.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 3: Ruang Meeting, Ruang Trauma)

 

Aku percaya satu hal:
tidak ada yang benar-benar pagi di hari Senin.

Jam masih menunjukkan 08.29 ketika aku sudah duduk di ruang meeting. Laptop terbuka. Notes siap. Mental? Tidak.

Ruang meeting itu selalu dingin. AC terlalu niat. Kursi terlalu keras. Dan papan tulis… saksi bisu dari semua revisi yang tidak masuk akal.

Satu per satu orang masuk dengan wajah setengah hidup.

Lalu pintu terbuka.

Bos masuk.

Aura ruangan langsung berubah. Seperti WiFi, tidak terlihat, tapi semua orang langsung terganggu.

“Mulai,” katanya singkat.

Tidak ada good morning. Tidak ada senyum. Hanya nada yang bikin bahu otomatis naik satu sentimeter.

Presentasi dimulai. Slide pertama muncul. Slide kedua. Slide ketiga.

“Ini kenapa begini?”
“Kenapa bukan begitu?”
“Siapa yang bikin?”

Pertanyaan dilempar tanpa jeda. Seperti kuis dadakan tapi tanpa hadiah.

Aku mencatat. Bukan karena semuanya penting, tapi karena tanganku perlu sibuk agar tidak gemetar.

Di tengah rapat, perutku berbunyi pelan. Aku menunduk. Malu. Trauma meeting ini selalu datang lengkap: lapar, dingin, dan rasa ingin menghilang.

Seseorang di seberang meja menyenggolku pelan. Aku menoleh.

Rasya.

Dia menggeser botol minumnya sedikit ke arahku. Tanpa bicara. Tanpa melihat.

Aku meneguk air itu pelan. Sepele. Tapi rasanya seperti diselamatkan.

Meeting berakhir dengan kalimat sakti:
Kita bahas lagi nanti.”

Kalimat paling menakutkan di kantor.

Saat keluar ruangan, kakiku terasa lemas. Aku bersandar sebentar di dinding.

“Meetingnya selalu sehoror ini?” tanyaku ke Rasya.

Dia tertawa kecil. “Ini versi singkat.”

Aku mendesah. “Aku benci Senin.”

“Semua orang di sini begitu,” katanya. “Tapi kamu cepat belajar.”

Aku menatap ruang meeting yang kini kosong.

Ruang itu bukan cuma tempat diskusi.
Ia ruang trauma.
Tempat aku belajar bahwa bekerja tidak selalu tentang kemampuan, tapi juga tentang bertahan.

Dan entah kenapa… Senin ini terasa sedikit lebih bisa dilewati.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 2: Bos Mood Swing dan Deadline Dadakan)


Hari Selasa seharusnya lebih baik dari Senin.
Itu teori.

Praktiknya, Selasa hanyalah Senin yang belum move on.

Aku baru duduk sepuluh menit di meja kerja ketika email masuk. Subjeknya pendek, padat, dan mengandung ancaman terselubung.

URGENT.

Dari: Ibu Melinda.

Aku membuka email itu pelan-pelan, seperti membuka hasil medical check-up.

Mohon update laporan minggu lalu. Ditunggu hari ini.

Hari ini.

Aku melirik kalender.
Hari ini bukan akhir minggu.
Hari ini juga bukan keajaiban.

Padahal laporan itu sudah kukirim Jumat sore. Lengkap. Dengan attachment. Dengan cc yang benar. Dengan doa.

Aku membalas email itu dengan bahasa paling sopan yang kupunya.
Baik Ibu, kami update.

Kami. Selalu kami.
Karena kata “saya” terasa terlalu berani.

Belum sempat kopi kedua, suara kursi Bos bergeser dari ruangannya. Itu suara khas. Semua orang di divisi kami hafal. Seperti soundtrack film horor versi kantor.

“Mas, Mbak, sebentar ya.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Kami berkumpul. Lagi. Tanpa undangan kalender. Tanpa waktu persiapan. Tanpa mental.

“Kenapa saya baru dapat ini sekarang?” katanya sambil menunjuk layar.

Aku menatap dokumen yang sama persis dengan yang kukirim Jumat lalu. Bahkan nama filenya pun sama.

Aku ingin berkata, Ibu sebenarnya sudah dapat.
Tapi aku memilih berkata, “Baik Bu, nanti kami perbaiki.”

Padahal tidak ada yang perlu diperbaiki.

Bos menghela napas panjang.
Jenis napas yang membuat satu ruangan merasa bersalah, walaupun tidak tahu salahnya di mana.

“Ke depan, saya mau semua lebih proaktif,” katanya.

Aku mengangguk. Semua mengangguk.
Kami terlihat seperti mainan dashboard mobil.

Rapat dadakan itu selesai tanpa solusi, tanpa kejelasan, dan meninggalkan satu hal: deadline baru.

Hari ini. Jam lima.

Aku kembali ke meja dengan perasaan seperti habis dimarahi padahal tidak ketahuan salah apa.

Rasya menaruh secangkir kopi di mejaku tanpa berkata apa-apa.

Aku menoleh.
“Kamu dukun ya?” tanyaku.

Dia tersenyum kecil. “Ekspresi kamu barusan kayak orang butuh kafein, bukan motivasi.”

Aku tertawa pelan.
Itu tawa kecil yang bikin dada agak longgar.

Sore itu kami bekerja dalam diam. Bukan karena fokus, tapi karena capek. Sesekali aku melirik jam. Jarumnya bergerak lambat, seperti sengaja menguji kesabaran.

Pukul 16.58.

Aku mengirim email laporan versi tidak berubah dengan subject baru yang lebih panjang dan lebih sopan.

Mohon izin menyampaikan update laporan sesuai arahan.

Aku menatap layar beberapa detik setelah menekan send.

Tidak ada balasan.

Jam lima lewat.
Bos pulang tanpa komentar.

Entah itu berarti cukup… atau badai ditunda.

Aku menutup laptop.
Hari Selasa selesai.

Besok Rabu.
Masih ada Senin berikutnya.

Dan entah kenapa, di antara capek dan kesal, aku bersyukur ada kopi hangat dan coworker yang tidak banyak tanya tapi selalu paham.

Mungkin itu alasan kenapa aku belum resign.

Belum.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat )

Sinopsis

Setiap hari Senin, pukul delapan pagi, aku duduk di kursi yang sama, menatap slide yang sama, dan mendengar suara bos yang mood-nya selalu datang lebih dulu daripada aku.

Katanya ini rapat.
Bagiku, ini latihan kesabaran.

Bosku mudah marah, sulit ditebak, dan selalu punya cara membuat satu minggu terasa seperti sebulan. Sementara aku, bawahan biasa dengan kopi dingin dan senyum profesional hanya ingin bertahan sampai jam makan siang tanpa menuliskan surat resign di kepala.

Cerita ini bukan tentang karier gemilang atau cinta kantor yang dramatis.
Ini tentang lelah yang disembunyikan, tawa kecil di balik notulen, dan doa pendek setiap Senin pagi: “Semoga hari ini bosnya nggak marah.”

Sebuah cerita tentang bekerja, bertahan, dan keinginan resign yang selalu muncul… tapi entah kenapa, tak pernah benar-benar dikirim.

 

Bab 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat 

Aku benci hari Senin.
Bukan karena pekerjaannya.
Bukan juga karena bangun pagi.

Aku benci Senin karena pukul delapan tepat, aku harus duduk rapi di ruang rapat, berpura-pura siap, sambil menunggu satu hal yang selalu datang tanpa aba-aba: mood bosku.

Namanya Ibu Melinda.
Di kalender kantor, jabatannya Head Division.
Di kepalaku, beliau adalah penentu nasib mingguan.

Kadang beliau datang sambil tersenyum, yang artinya kami aman.
Kadang beliau diam, yang artinya kami harus hati-hati.
Kadang beliau meletakkan tas terlalu keras di meja, yang artinya… berdoa saja.

“Baik, kita mulai ya,” katanya pagi itu.

Jam di dinding menunjukkan pukul 08.01.
Kopiku baru dua teguk.
Mental belum hadir.

Slide pertama muncul.
Slide kedua.
Slide ketiga.

Aku mencatat, bukan karena rajin, tapi karena takut. Takut tiba-tiba namaku dipanggil, lalu ditanya sesuatu yang jawabannya sudah ku kerjakan minggu lalu, tapi hari ini entah kenapa terasa salah.

“Ini kenapa bisa seperti ini?”

Nada suaranya naik setengah oktaf.
Ruangan mendadak hening.
Aku menelan ludah.

Bukan aku yang ditanya.
Tapi aku tetap deg-degan.

Di kantor ini, marah itu menular.

Aku melirik jam. 08.17.
Masih lama.

Di kepalaku, ada folder khusus berjudul Surat Resign yang Tidak Pernah Dikirim. Isinya selalu sama: versi paling sopan dari rasa capek yang sudah terlalu lama dipendam.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan…
Dengan berat hati…
Saya ingin mengundurkan diri…

Tapi setiap kali jam menunjukkan pukul lima sore, folder itu kututup lagi.

Karena entah kenapa, aku masih di sini.

Rapat berakhir pukul 10.00.
Kami keluar satu per satu, membawa sisa-sisa semangat yang sudah dipakai terlalu pagi.

Di pantry, aku menuang kopi lagi.

“Senin banget ya,” kata seseorang di belakangku.

Aku menoleh.
Itu Rasya, rekan satu tim yang selalu datang tepat waktu, pulang sering lembur, dan entah bagaimana masih terlihat waras.

Aku tersenyum kecil.
“Senin memang hobi nyakitin orang.”

Kami tertawa pelan.
Tertawa yang bukan karena lucu, tapi karena sama-sama paham.

Dan di situ aku sadar:
aku tidak sendirian.

Mungkin aku belum berani resign.
Mungkin besok aku masih akan datang lagi.
Mungkin Senin akan tetap menyebalkan.

Tapi selama masih ada kopi hangat, teman seperjuangan, dan sedikit humor untuk bertahan…
aku akan mencoba melewati satu Senin lagi.

Untuk sekarang.

Pengalaman Naik Kereta Api Cepat Whoosh Ke Bandung Pertama Kali

    Hallo Gaessss. Assalamu'alaikum. Pada kesempatan kali ini, aku ingin bercerita pengalaman aku pertama kali menggunakan kereta api cepat whoosh ke Bandung. Perjalanan aku ini bukan untuk jalan-jalan, tetapi karena perjalanan dinas dari kantor. Aku harus menghadiri meeting yang menurut jadwal dimulai pada pukul 9 pagi sampai jam 4 sore.

    Perjalanan dimulai dari rumahku yang berada di Depok dan aku harus menuju ke stasiun halim terlebih dahulu. Aku menggunakan taksi online. Aku sudah membeli tiket kereta melalui aplikasi whoosh yang berangkat pada pukul 7 pagi. Jadi, dari rumah aku memutuskan untuk jalan pukul 05.30 WIB. Taksi online pun melaju melewati tol jagorawi. perjalanan cukup lancar. Aku tiba di stasiun halim jam 6 pagi. Aku menunggu temanku. Kami janjian bertemu di Stasiun. Sambil menunggu temanku datang, aku berjalan mengelilingi Stasiun. Ada banyak tenan makanan di sini, jadi buat teman-teman yang belum sempat sarapan bisa sarapan terlebih dahulu.

Stasiun Halim

    Aku duduk menunggu di Lobi Stasiun, Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Aku chat temanku sudah sampai dimana, namun tak kunjung dibalas. Lalu aku berusaha meneleponnya, tetapi tidak diangkat. Aku khwatir dia kesiangan. Waktu terus berjalan, terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan kami naiki sudah tiba, aku berusaha chat kembali temanku. Pukul 06.45 WIB dia baru membalas bahwa masih di jalan dan sudah dekat stasiun. Aku mulai panik. Aku adalah orang yang well prepared dan paling tidak suka jika harus terburu-buru. 

    Aku melihat temanku berlari ingin menaiki eskalator, kemudian aku memanggilnya. Enak saja aku yang sudah menunggunya daritadi mau dia tinggal naik duluan. Dia kira aku sudah naik ke atas. Tidak ada tampang rasa bersalah dan meminta maaf. Malah tersenyum tanpa dosa. Setelah aku ngomel-ngomel sebentar, kemudian kami naik ke atas barengan. Sebelum menaiki kereta, scan tiket terlebih dahulu di Gate. Selain scan, kita juga bisa print tiket terlebih dahulu. ada mesin print di stasiun. Jika kita memilih untuk mencetak tiketnya, maka scan qr tidak berlaku lagi.

    Aku dan temanku menaiki kelas bisnis. Jadi kami berada di gerbong pertama. Ada beberapa kelas untuk kereta whoosh, yaitu first class, bisnis class dan economy class. Untuk first class sendiri harganya 600 ribu rupiah, kelas bisnis 450 ribu rupiah dan kelas ekonomi 350 ribu rupiah. Menurut temanku yang sebelumnya sudah pernah naik kelas ekonomi, perbedaannya adalah jarak tempat duduk lebih luas, mungkin kalau kereta lokal, seperti kelas eksekutif. Lalu kami juga mendapatkan goody bag dari pramugarinya. Setelah aku buka, isinya ada satu buah roti, dua buah makanan ringan dan satu air mineral. Lumayan untuk sarapan. 

Goody Bag dari Whoosh 

    Perjalanan terasa cepat sekali, aku tidak sempat tidur. Pukul 7.30, kami sudah tiba di Stasiun Padalarang. Perjalanan dari stasiun halim ke padalarang memakan waktu setengah jam. Setelah itu, kami turun ke bawah untuk menunggu feeder datang. Feeder ini yang akan mengantarkan kita menuju ke Stasiun Bandung. Feeder ini berwarna hijau dan cukup nyaman menaikinya.

    Kami tiba di stasiun bandung pukul 07.45 WIB. Aku dan temanku segera memesan taksi online menuju ke lokasi meeting di Jalan Japati. Jalanan di Bandung pada pagi hari tidak terlalu padat seperti di Jakarta. Kami tiba di Jalan Japti pada pukul 8 pagi. Masih ada waktu sekitar satu jam. Kami menunggu di lobi dan menarik nafas terlebih dahulu.


Ruang Tunggu di Stasiun Bandung

    Meeting dimulai dari jam 9 pagi. Kami selesai pukul jam 17.30 WIB. Meleset dari jadwal. Rasanya lega sudah bisa melewati hari ini. Kami tidak sempat mampir ke tempat lain karena harus mengejar kereta. Pulangnya kami memutuskan untuk naik woosh dengan kelas bisnis lagi. Kami memesan taksi online dari Japati pukul 18.30 WIB karena menunggu sholat magrib terlebih dahulu. Kami tiba di stasiun Bandung pukul 19.00 WIB. Jalanan cukup padat. Kami segera memesan tiket whoosh untuk keberangkatan jam 19.53 WIB. Kami menunggu di ruang tunggu untuk menaiki feeder ke stasiun padalarang yang akan berangkat Pukul 19.23 WIB. Untuk penumpang first class dan business class dapat menaiki feeder terlebih dahulu, baru disusul economy class. Di feeder, untuk penumpang first class dan business class digabung sedangkan economy class dipisah. Tapi menurutku secara fasilitas sama saja. Hanya penumpang di first class dan business class tidak terlalu padat seperti di economy class.

    Kami tiba di stasiun padalarang pukul 19.45 WIB. Kami segera bergegas untuk ke peron kereta woosh karena perjalanan ke peron kereta ini lumayan jauh. hehe. Untuk lansia, disabilitas dan ibu hamil bisa menaiki lift. Setelah kereta tiba, kami segera naik. Kami diberikan snack kembali. Lumayan untuk mengganjal perut. Aku memejamkan mata untuk beristirahat, tetapi sulit juga karena kereta berjalan begitu cepat dan pemandangan di luar hanya gelap malam. 

Kami tiba di Stasiun Halim pukul 20.15 WIB. Kami memutuskan untuk berpisah di sini. Aku menuju restauran cepat saji terlebih dahulu karena perutku mulai keroncongan. Setelah selesai makan, aku menuju ke pintu utara untuk memesan taksi online menuju ke rumah.

    Jadi kesimpulannya, menurut aku kereta api cepat whoosh sangat direkomendasikan jika kita punya waktu yang terbatas untuk keperluan kerja ataupun jika ingin one day ke Bandung bolak balik tanpa menginap di hotel.

Mungkin segitu aja sharing pengalaman aku kali ini. Semoga bermanfaat :) 

 

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers