Senin Pukul 8 Pagi (Part 5: Folder Resign yang Selalu Kubuka (Tapi Tak Pernah Kukirim))


Aku punya satu folder rahasia di laptop kantor.

Namanya sederhana. Tidak mencurigakan. Tidak dramatis.

Misc.

Isinya?
Draft resign.
Versi satu sampai versi entah keberapa.

Setiap hari Senin, folder itu terasa memanggil-manggil.

“Buka aku,” katanya.
“Hanya lima menit,” katanya lagi.

Siang itu, setelah meeting lanjutan yang seharusnya email saja, aku membuka folder itu. Sekadar melihat. Bukan niat mengirim. Cuma… memastikan aku masih punya jalan keluar.

Versi pertama sangat emosional.
Versi kedua sok dewasa.
Versi ketiga terlalu jujur.

Yang terbaru bahkan cuma satu kalimat:

Saya lelah.

Itu saja.
Jujur.
Tapi tidak sopan.

Aku menutup folder itu cepat-cepat saat ada bayangan muncul di meja.

Rasya.

“Kamu lagi kerja atau bengong?” tanyanya.

“Kerja keras,” jawabku refleks. “Secara mental.”

Dia tertawa. “Senin lagi, ya?”

Aku mengangguk. “Aku sudah mempertimbangkan resign sejak jam sembilan.”

“Rekor baru,” katanya. “Biasanya jam sebelas.”

Aku tertawa kecil. Entah kenapa, bercanda tentang resign terasa lebih aman daripada benar-benar melakukannya.

“Aku belum berani,” kataku pelan. “Takut nyesel.”

Rasya menatapku sambil menyandarkan siku ke meja. “Kadang yang bikin capek bukan kerjaannya, tapi perasaan terjebak.”

Aku menoleh. “Kamu selalu ngomong kayak quotes LinkedIn, tapi entah kenapa masuk.”

Dia tersenyum. “Pengalaman.”

Sore itu, aku tidak membuka folder resign lagi. Bukan karena aku tidak lelah.

Tapi karena hari ini, setidaknya, aku bisa tertawa.

Dan untuk ukuran Senin… itu sudah pencapaian besar.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 8: Senin Tidak Terlalu Menyebalkan (Sedikit))

 

Senin pagi biasanya datang dengan niat jahat.

Tapi Senin ini… agak bingung.

Aku bangun dengan alarm yang sama, kopi yang sama, dan wajah yang sama lelahnya. Tapi entah kenapa, perutku tidak langsung protes.

Mungkin karena aku sudah pasrah.

Di kantor, suasana tidak langsung tegang. Tidak ada undangan meeting pagi. Itu sendiri sudah keajaiban.

Orang-orang saling menatap curiga.

“Ini beneran nggak ada meeting?”
“Jangan-jangan ditunda.”

Aku memilih percaya pada keajaiban kecil.

Pukul sembilan lewat lima, aku masih di meja. Tidak dimarahi. Tidak dipanggil. Laptopku belum trauma.

Aku mulai bekerja dengan perasaan aneh: fokus.

Bahkan aku sempat menyelesaikan satu tugas tanpa distraksi. Satu. Tapi itu rekor.

Di pantry, aku bertemu beberapa rekan kerja. Wajah mereka tidak sekusut biasanya.

“Senin ini kok jinak, ya?” kata seseorang.

“Awas,” sahut yang lain. “Biasanya yang jinak gini… jebakan.”

Kami tertawa. Tertawa versi orang kantor: pendek, hati-hati, tapi tulus.

Siang hari, bos lewat tanpa komentar. Semua orang pura-pura sibuk ekstra keras, padahal memahami satu hal: jangan merusak momen.

Sore datang tanpa drama. Tidak ada email “urgent”. Tidak ada revisi dadakan.

Jam lima lewat sepuluh, aku berdiri.

Tidak ada yang menghentikan.

Aku keluar kantor dengan perasaan ganjil.

Senin tidak menyenangkan.
Tapi juga tidak menghancurkan.

Dan untuk ukuran hidup kantor
itu sudah prestasi.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 4: Pantry Adalah Tempat Paling Jujur)

 

Begitu pintu ruang rapat tertutup, aku langsung mencari satu hal:
pantry.

Bukan kopi.
Tapi keselamatan.

Pantry adalah satu-satunya tempat di kantor yang jujur. Semua orang datang ke sana tanpa topeng. Mata panda, bahu turun, napas panjang, tidak ada yang bisa disembunyikan.

Aku menuang kopi dengan tangan masih sedikit gemetar. Kopi pertama hari Senin selalu terasa seperti obat.

“Kamu kelihatan selamat,” suara itu datang dari belakang.

Rasya.

“Aku hampir KO,” jawabku jujur. “Itu meeting atau uji nyali?”

Dia tertawa kecil sambil mengambil gelas. “Kalau kamu bisa bertahan di meeting itu, kamu bisa bertahan di mana aja.”

Aku meneguk kopi. “Kenapa nggak ada pelatihan mental sebelum masuk kantor ini?”

“Kita semua belajar dari trauma,” katanya santai.

Kami berdiri berdampingan. Tidak bicara. Tapi tidak canggung. Hanya dua orang yang sama-sama masih hidup setelah Senin pagi.

“Aku benci hari ini,” kataku tiba-tiba.

Rasya menoleh. “Hari ini atau pekerjaannya?”

Aku berpikir sebentar. “Bosnya.”

Dia mengangguk pelan. “Valid.”

Aku tertawa kecil. Rasanya lega bisa mengeluh tanpa dihakimi.

“Tenang,” katanya. “Senin selalu paling kejam. Habis ini masih ada empat hari buat pura-pura kuat.”

Aku menatap kopi di tanganku. “Kamu kok santai banget.”

“Bukan santai,” katanya. “Aku sudah berdamai.”

Aku menggeleng. “Aku belum sampai tahap itu.”

Dia menatapku sebentar. “Nggak apa-apa. Nanti juga.”

Kami kembali ke meja masing-masing. Tapi entah kenapa, langkahku lebih ringan.

Pantry tidak menyelesaikan masalah.
Tapi kadang, cukup tahu ada tempat aman untuk bernapas… sudah lebih dari cukup.

Dan Senin ini, walaupun masih menyebalkan, tidak sepenuhnya buruk.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 3: Ruang Meeting, Ruang Trauma)

 

Aku percaya satu hal:
tidak ada yang benar-benar pagi di hari Senin.

Jam masih menunjukkan 08.29 ketika aku sudah duduk di ruang meeting. Laptop terbuka. Notes siap. Mental? Tidak.

Ruang meeting itu selalu dingin. AC terlalu niat. Kursi terlalu keras. Dan papan tulis… saksi bisu dari semua revisi yang tidak masuk akal.

Satu per satu orang masuk dengan wajah setengah hidup.

Lalu pintu terbuka.

Bos masuk.

Aura ruangan langsung berubah. Seperti WiFi, tidak terlihat, tapi semua orang langsung terganggu.

“Mulai,” katanya singkat.

Tidak ada good morning. Tidak ada senyum. Hanya nada yang bikin bahu otomatis naik satu sentimeter.

Presentasi dimulai. Slide pertama muncul. Slide kedua. Slide ketiga.

“Ini kenapa begini?”
“Kenapa bukan begitu?”
“Siapa yang bikin?”

Pertanyaan dilempar tanpa jeda. Seperti kuis dadakan tapi tanpa hadiah.

Aku mencatat. Bukan karena semuanya penting, tapi karena tanganku perlu sibuk agar tidak gemetar.

Di tengah rapat, perutku berbunyi pelan. Aku menunduk. Malu. Trauma meeting ini selalu datang lengkap: lapar, dingin, dan rasa ingin menghilang.

Seseorang di seberang meja menyenggolku pelan. Aku menoleh.

Rasya.

Dia menggeser botol minumnya sedikit ke arahku. Tanpa bicara. Tanpa melihat.

Aku meneguk air itu pelan. Sepele. Tapi rasanya seperti diselamatkan.

Meeting berakhir dengan kalimat sakti:
Kita bahas lagi nanti.”

Kalimat paling menakutkan di kantor.

Saat keluar ruangan, kakiku terasa lemas. Aku bersandar sebentar di dinding.

“Meetingnya selalu sehoror ini?” tanyaku ke Rasya.

Dia tertawa kecil. “Ini versi singkat.”

Aku mendesah. “Aku benci Senin.”

“Semua orang di sini begitu,” katanya. “Tapi kamu cepat belajar.”

Aku menatap ruang meeting yang kini kosong.

Ruang itu bukan cuma tempat diskusi.
Ia ruang trauma.
Tempat aku belajar bahwa bekerja tidak selalu tentang kemampuan, tapi juga tentang bertahan.

Dan entah kenapa… Senin ini terasa sedikit lebih bisa dilewati.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 2: Bos Mood Swing dan Deadline Dadakan)


Hari Selasa seharusnya lebih baik dari Senin.
Itu teori.

Praktiknya, Selasa hanyalah Senin yang belum move on.

Aku baru duduk sepuluh menit di meja kerja ketika email masuk. Subjeknya pendek, padat, dan mengandung ancaman terselubung.

URGENT.

Dari: Ibu Melinda.

Aku membuka email itu pelan-pelan, seperti membuka hasil medical check-up.

Mohon update laporan minggu lalu. Ditunggu hari ini.

Hari ini.

Aku melirik kalender.
Hari ini bukan akhir minggu.
Hari ini juga bukan keajaiban.

Padahal laporan itu sudah kukirim Jumat sore. Lengkap. Dengan attachment. Dengan cc yang benar. Dengan doa.

Aku membalas email itu dengan bahasa paling sopan yang kupunya.
Baik Ibu, kami update.

Kami. Selalu kami.
Karena kata “saya” terasa terlalu berani.

Belum sempat kopi kedua, suara kursi Bos bergeser dari ruangannya. Itu suara khas. Semua orang di divisi kami hafal. Seperti soundtrack film horor versi kantor.

“Mas, Mbak, sebentar ya.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Kami berkumpul. Lagi. Tanpa undangan kalender. Tanpa waktu persiapan. Tanpa mental.

“Kenapa saya baru dapat ini sekarang?” katanya sambil menunjuk layar.

Aku menatap dokumen yang sama persis dengan yang kukirim Jumat lalu. Bahkan nama filenya pun sama.

Aku ingin berkata, Ibu sebenarnya sudah dapat.
Tapi aku memilih berkata, “Baik Bu, nanti kami perbaiki.”

Padahal tidak ada yang perlu diperbaiki.

Bos menghela napas panjang.
Jenis napas yang membuat satu ruangan merasa bersalah, walaupun tidak tahu salahnya di mana.

“Ke depan, saya mau semua lebih proaktif,” katanya.

Aku mengangguk. Semua mengangguk.
Kami terlihat seperti mainan dashboard mobil.

Rapat dadakan itu selesai tanpa solusi, tanpa kejelasan, dan meninggalkan satu hal: deadline baru.

Hari ini. Jam lima.

Aku kembali ke meja dengan perasaan seperti habis dimarahi padahal tidak ketahuan salah apa.

Rasya menaruh secangkir kopi di mejaku tanpa berkata apa-apa.

Aku menoleh.
“Kamu dukun ya?” tanyaku.

Dia tersenyum kecil. “Ekspresi kamu barusan kayak orang butuh kafein, bukan motivasi.”

Aku tertawa pelan.
Itu tawa kecil yang bikin dada agak longgar.

Sore itu kami bekerja dalam diam. Bukan karena fokus, tapi karena capek. Sesekali aku melirik jam. Jarumnya bergerak lambat, seperti sengaja menguji kesabaran.

Pukul 16.58.

Aku mengirim email laporan versi tidak berubah dengan subject baru yang lebih panjang dan lebih sopan.

Mohon izin menyampaikan update laporan sesuai arahan.

Aku menatap layar beberapa detik setelah menekan send.

Tidak ada balasan.

Jam lima lewat.
Bos pulang tanpa komentar.

Entah itu berarti cukup… atau badai ditunda.

Aku menutup laptop.
Hari Selasa selesai.

Besok Rabu.
Masih ada Senin berikutnya.

Dan entah kenapa, di antara capek dan kesal, aku bersyukur ada kopi hangat dan coworker yang tidak banyak tanya tapi selalu paham.

Mungkin itu alasan kenapa aku belum resign.

Belum.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat )

Sinopsis

Setiap hari Senin, pukul delapan pagi, aku duduk di kursi yang sama, menatap slide yang sama, dan mendengar suara bos yang mood-nya selalu datang lebih dulu daripada aku.

Katanya ini rapat.
Bagiku, ini latihan kesabaran.

Bosku mudah marah, sulit ditebak, dan selalu punya cara membuat satu minggu terasa seperti sebulan. Sementara aku, bawahan biasa dengan kopi dingin dan senyum profesional hanya ingin bertahan sampai jam makan siang tanpa menuliskan surat resign di kepala.

Cerita ini bukan tentang karier gemilang atau cinta kantor yang dramatis.
Ini tentang lelah yang disembunyikan, tawa kecil di balik notulen, dan doa pendek setiap Senin pagi: “Semoga hari ini bosnya nggak marah.”

Sebuah cerita tentang bekerja, bertahan, dan keinginan resign yang selalu muncul… tapi entah kenapa, tak pernah benar-benar dikirim.

 

Bab 1: Senin Pagi Tidak Pernah Salah Alamat 

Aku benci hari Senin.
Bukan karena pekerjaannya.
Bukan juga karena bangun pagi.

Aku benci Senin karena pukul delapan tepat, aku harus duduk rapi di ruang rapat, berpura-pura siap, sambil menunggu satu hal yang selalu datang tanpa aba-aba: mood bosku.

Namanya Ibu Melinda.
Di kalender kantor, jabatannya Head Division.
Di kepalaku, beliau adalah penentu nasib mingguan.

Kadang beliau datang sambil tersenyum, yang artinya kami aman.
Kadang beliau diam, yang artinya kami harus hati-hati.
Kadang beliau meletakkan tas terlalu keras di meja, yang artinya… berdoa saja.

“Baik, kita mulai ya,” katanya pagi itu.

Jam di dinding menunjukkan pukul 08.01.
Kopiku baru dua teguk.
Mental belum hadir.

Slide pertama muncul.
Slide kedua.
Slide ketiga.

Aku mencatat, bukan karena rajin, tapi karena takut. Takut tiba-tiba namaku dipanggil, lalu ditanya sesuatu yang jawabannya sudah ku kerjakan minggu lalu, tapi hari ini entah kenapa terasa salah.

“Ini kenapa bisa seperti ini?”

Nada suaranya naik setengah oktaf.
Ruangan mendadak hening.
Aku menelan ludah.

Bukan aku yang ditanya.
Tapi aku tetap deg-degan.

Di kantor ini, marah itu menular.

Aku melirik jam. 08.17.
Masih lama.

Di kepalaku, ada folder khusus berjudul Surat Resign yang Tidak Pernah Dikirim. Isinya selalu sama: versi paling sopan dari rasa capek yang sudah terlalu lama dipendam.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan…
Dengan berat hati…
Saya ingin mengundurkan diri…

Tapi setiap kali jam menunjukkan pukul lima sore, folder itu kututup lagi.

Karena entah kenapa, aku masih di sini.

Rapat berakhir pukul 10.00.
Kami keluar satu per satu, membawa sisa-sisa semangat yang sudah dipakai terlalu pagi.

Di pantry, aku menuang kopi lagi.

“Senin banget ya,” kata seseorang di belakangku.

Aku menoleh.
Itu Rasya, rekan satu tim yang selalu datang tepat waktu, pulang sering lembur, dan entah bagaimana masih terlihat waras.

Aku tersenyum kecil.
“Senin memang hobi nyakitin orang.”

Kami tertawa pelan.
Tertawa yang bukan karena lucu, tapi karena sama-sama paham.

Dan di situ aku sadar:
aku tidak sendirian.

Mungkin aku belum berani resign.
Mungkin besok aku masih akan datang lagi.
Mungkin Senin akan tetap menyebalkan.

Tapi selama masih ada kopi hangat, teman seperjuangan, dan sedikit humor untuk bertahan…
aku akan mencoba melewati satu Senin lagi.

Untuk sekarang.

Pengalaman Naik Kereta Api Cepat Whoosh Ke Bandung Pertama Kali

    Hallo Gaessss. Assalamu'alaikum. Pada kesempatan kali ini, aku ingin bercerita pengalaman aku pertama kali menggunakan kereta api cepat whoosh ke Bandung. Perjalanan aku ini bukan untuk jalan-jalan, tetapi karena perjalanan dinas dari kantor. Aku harus menghadiri meeting yang menurut jadwal dimulai pada pukul 9 pagi sampai jam 4 sore.

    Perjalanan dimulai dari rumahku yang berada di Depok dan aku harus menuju ke stasiun halim terlebih dahulu. Aku menggunakan taksi online. Aku sudah membeli tiket kereta melalui aplikasi whoosh yang berangkat pada pukul 7 pagi. Jadi, dari rumah aku memutuskan untuk jalan pukul 05.30 WIB. Taksi online pun melaju melewati tol jagorawi. perjalanan cukup lancar. Aku tiba di stasiun halim jam 6 pagi. Aku menunggu temanku. Kami janjian bertemu di Stasiun. Sambil menunggu temanku datang, aku berjalan mengelilingi Stasiun. Ada banyak tenan makanan di sini, jadi buat teman-teman yang belum sempat sarapan bisa sarapan terlebih dahulu.

Stasiun Halim

    Aku duduk menunggu di Lobi Stasiun, Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Aku chat temanku sudah sampai dimana, namun tak kunjung dibalas. Lalu aku berusaha meneleponnya, tetapi tidak diangkat. Aku khwatir dia kesiangan. Waktu terus berjalan, terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan kami naiki sudah tiba, aku berusaha chat kembali temanku. Pukul 06.45 WIB dia baru membalas bahwa masih di jalan dan sudah dekat stasiun. Aku mulai panik. Aku adalah orang yang well prepared dan paling tidak suka jika harus terburu-buru. 

    Aku melihat temanku berlari ingin menaiki eskalator, kemudian aku memanggilnya. Enak saja aku yang sudah menunggunya daritadi mau dia tinggal naik duluan. Dia kira aku sudah naik ke atas. Tidak ada tampang rasa bersalah dan meminta maaf. Malah tersenyum tanpa dosa. Setelah aku ngomel-ngomel sebentar, kemudian kami naik ke atas barengan. Sebelum menaiki kereta, scan tiket terlebih dahulu di Gate. Selain scan, kita juga bisa print tiket terlebih dahulu. ada mesin print di stasiun. Jika kita memilih untuk mencetak tiketnya, maka scan qr tidak berlaku lagi.

    Aku dan temanku menaiki kelas bisnis. Jadi kami berada di gerbong pertama. Ada beberapa kelas untuk kereta whoosh, yaitu first class, bisnis class dan economy class. Untuk first class sendiri harganya 600 ribu rupiah, kelas bisnis 450 ribu rupiah dan kelas ekonomi 350 ribu rupiah. Menurut temanku yang sebelumnya sudah pernah naik kelas ekonomi, perbedaannya adalah jarak tempat duduk lebih luas, mungkin kalau kereta lokal, seperti kelas eksekutif. Lalu kami juga mendapatkan goody bag dari pramugarinya. Setelah aku buka, isinya ada satu buah roti, dua buah makanan ringan dan satu air mineral. Lumayan untuk sarapan. 

Goody Bag dari Whoosh 

    Perjalanan terasa cepat sekali, aku tidak sempat tidur. Pukul 7.30, kami sudah tiba di Stasiun Padalarang. Perjalanan dari stasiun halim ke padalarang memakan waktu setengah jam. Setelah itu, kami turun ke bawah untuk menunggu feeder datang. Feeder ini yang akan mengantarkan kita menuju ke Stasiun Bandung. Feeder ini berwarna hijau dan cukup nyaman menaikinya.

    Kami tiba di stasiun bandung pukul 07.45 WIB. Aku dan temanku segera memesan taksi online menuju ke lokasi meeting di Jalan Japati. Jalanan di Bandung pada pagi hari tidak terlalu padat seperti di Jakarta. Kami tiba di Jalan Japti pada pukul 8 pagi. Masih ada waktu sekitar satu jam. Kami menunggu di lobi dan menarik nafas terlebih dahulu.


Ruang Tunggu di Stasiun Bandung

    Meeting dimulai dari jam 9 pagi. Kami selesai pukul jam 17.30 WIB. Meleset dari jadwal. Rasanya lega sudah bisa melewati hari ini. Kami tidak sempat mampir ke tempat lain karena harus mengejar kereta. Pulangnya kami memutuskan untuk naik woosh dengan kelas bisnis lagi. Kami memesan taksi online dari Japati pukul 18.30 WIB karena menunggu sholat magrib terlebih dahulu. Kami tiba di stasiun Bandung pukul 19.00 WIB. Jalanan cukup padat. Kami segera memesan tiket whoosh untuk keberangkatan jam 19.53 WIB. Kami menunggu di ruang tunggu untuk menaiki feeder ke stasiun padalarang yang akan berangkat Pukul 19.23 WIB. Untuk penumpang first class dan business class dapat menaiki feeder terlebih dahulu, baru disusul economy class. Di feeder, untuk penumpang first class dan business class digabung sedangkan economy class dipisah. Tapi menurutku secara fasilitas sama saja. Hanya penumpang di first class dan business class tidak terlalu padat seperti di economy class.

    Kami tiba di stasiun padalarang pukul 19.45 WIB. Kami segera bergegas untuk ke peron kereta woosh karena perjalanan ke peron kereta ini lumayan jauh. hehe. Untuk lansia, disabilitas dan ibu hamil bisa menaiki lift. Setelah kereta tiba, kami segera naik. Kami diberikan snack kembali. Lumayan untuk mengganjal perut. Aku memejamkan mata untuk beristirahat, tetapi sulit juga karena kereta berjalan begitu cepat dan pemandangan di luar hanya gelap malam. 

Kami tiba di Stasiun Halim pukul 20.15 WIB. Kami memutuskan untuk berpisah di sini. Aku menuju restauran cepat saji terlebih dahulu karena perutku mulai keroncongan. Setelah selesai makan, aku menuju ke pintu utara untuk memesan taksi online menuju ke rumah.

    Jadi kesimpulannya, menurut aku kereta api cepat whoosh sangat direkomendasikan jika kita punya waktu yang terbatas untuk keperluan kerja ataupun jika ingin one day ke Bandung bolak balik tanpa menginap di hotel.

Mungkin segitu aja sharing pengalaman aku kali ini. Semoga bermanfaat :) 

 

Buat Para Freelancer, Hati-hati Scam di Fiverr dan Sosial Media!

    Hai. Assalamu'alaikum teman-teman. Kali ini aku ingin sharing tentang pengalaman aku menjadi Freelance Designer. Salah satu website yang aku gunakan untuk mencari Klien adalah dengan menawarkan jasaku melaui freelance platform, yaitu fiverr serta aku memposting karyaku di sosial media. Aku memilih fiverr karena popular dan global reach. Dibalik banyaknya peluang mendapatkan job di platform ini dan juga di sosial media, tetapi banyak juga scam.

Photo by Tara Winstead
 

    Fiverr menurutku cocok untuk pemula karena sistemnya berbasis gig, dimana Freelancer menawarkan jasa dengan harga mulai dari $5. Untuk pengguna baru hati-hati jadi sasaran empuk Scammer. Jadi, ketika masih awal menggunakan fiverr aku membuat gig yang menawarkan jasa pembuatan ilustrasi digital. Tak berapa lama dari aku mempostingnya, mungkin baru sekitar 5 menit aku mendapatkan inbox kalau ada yang tertarik menggunakan jasaku dan ingin order. Tetapi ketika dia ingin order, dia diminta untuk mengisi email seller alias emailku. Dia menunjukan screenshoot-nya. Aku merasa aneh ketika melihat screenshoot-nya. di situ terlihat form yang diminta untuk mengisi kartu kredit dan email saat ingin melakukan checkout. Kemudian aku searching terlebih dahulu, ternyata fiverr menggunakan sistem escrow, yaitu pembayaran ditahan oleh platform, baru diberikan ke Seller setelah pekerjaan selesai dan fiverr tidak meminta email Seller. Proses checkout seperti halnya kita menggunakan e-commerce shopee atau tokopedia, semua dijalankan di platform tanpa meminta data pribadi dari Seller-nya. Tentu saja, calon buyer ini tidak aku tanggapi. Tak berapa lama dari itu, muncul inbox dari beberapa Scammer lainnya yang modusnya mirip semua, yaitu mengirimkan screenshoot dan meminta alamat email.

    Pengalaman lainnya adalah scam melalui chat dari sosial media. Aku memposting karyaku di tiktok dan instagram. Aku memang membuat akun khusus untuk portofolio aku di kedua platform tersebut. Ketika aku upload video time-lapse gambarku di tiktok, tak berapa lama ada beberapa user yang chat aku. Ketika aku buka chat-nya, dia menanyakan apakah aku open comission? lalu aku jawab tentu saja aku open commision. Dia memintaku untuk menggambar anak perempuannya, dia attach gambar yang dibilangnya 'anak perempuannya'. Lalu dia menanyakan aku menggunakan platform pembayaran apa. Aku menyebutkan salah satu platform pembayaran online internasional. Tetapi, dia menawarkan untuk menggunakan platform lain yang aku tidak mempunyai akunnya. Dia bilang di platform pembayaran online yang aku tawarkan itu banyak scam. Dia meminta aku membuat akun platform yang dia sebutkan agar dia bisa membayar jasaku dan kita berdua sama-sama merasa aman. Platform pembayaran yang dia sebutkan memang ada. Aku mencoba bertanya pada teman-temanku yang freelance juga apakah pernah menerima pembayaran dari platform pembayaran tersebut, mereka bilang belum pernah. Aku penasaran dan aku coba membuat akunnya melalui situs resminya. Sebelum ke step berikutnya di layar disebutkan bahwa untuk di Indonesia, platform pembayaran online tersebut tidak menyediakan rekening penerima lokal. Jadi klien luar negeri tidak bisa transfer langsung ke “rekening IDR” kamu. Berbeda dengan platform pembayaran lainnya, yang bisa langsung terima USD/EUR lalu tarik ke bank Indonesia. platform ini melalui via akun global.

    Setelah itu, aku menginfokan padanya bahwa aku tidak bisa menggunakan platform pembayaran online yang dia minta karena alasan tersebut. Sambil menunggu calon buyer ini membalasa chat, Aku sharing pada temanku. Temanku memberi saran agar menggunakan platform freelance seperti fiverr agar bertransaksi lebih aman dan coba cek akun sosial medianya dia. Ketika aku cek profil sosial media calon buyer ini, postingannya memang agak aneh sih dan aku mulai merasa bahwa ini scam. Tetapi dia berbicara padaku seperti human, bukan bot dan menanggapi chatku dengan baik. Dia juga sudah memberikan foto yang dibilang "putrinya" tersebut kepadaku. Tapi kan bisa saja dia mengambil foto anak perempuan itu dari platform lain. Aku mulai bertanya-tanya. Kemudian aku buka inbox balasan dari calon buyer itu lagi. Dia hanya menjawab "okay". Lalu aku menawarkan agar dia order jasaku menggunakan fiverr saja. Tetapi kemudian dia tidak membalas chat aku lagi. 

    Aku menerima kurang lebih 10 chat setelah video kayarku yang diposting di tiktok. Kali ini calon buyer-nya memintaku untuk beralih chat ke whatsApp, telegram atau discord karena di tiktok tidak bisa attach image. Aku mulai overthinking. Lalu aku searching lagi, apakah perlu beralih ke platform chat lain. Setelah aku riset, ternyata itu ciri-ciri scam yang meminta untuk chat ke aplikasi chat lainnya. Jadi, aku membalas chat mereka dengan mengatakan bahwa mereka bisa menghubungiku melalui fiverr agar transaksi dan order lebih aman karena ada pihak ketiga. Setelah itu mereka tidak membalas chat aku lagi. hehehe.

    Ya begitulah pengalamanku menghadapi scam. Saranaku jika kalian newbie di freelance dan menggunakan platform freelancer atau sosial media untuk mendapatkan job, ketika mendapatkan calon klien jangan langsung percaya. Riset dan sering bertanya pada yang lebih senior dulu jika ada hal-hal yang membuat kalian ragu. Jangan pernah sekalipun memberikan data pribadi dan membuka lampiran dokumen sembarangan karena file bisa saja mengandung malware yang berbahaya dan transaksi dilakukan di platform yang aman saja. Menjadi Freelancer juga ada tantangannya. Hehe. Tolong share dong teman-teman di kolom komentar jika ada yang pernah mengalami scam supaya teman-teman yang lain juga hati-hati.

    Terimakasih telah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Semoga sharing ini dapat bermanfaat dan kita terhindar dari scam. Sehat-sehat untuk kita semua. Aamiin :) 

Pengalaman Rawat Jalan Sakit Glaukoma Menggunakan BPJS

    Hai teman-teman semuanya. Kali ini aku ingin membagi pengalaman Ibuku rawat jalan menggunakan BPJS pasca operasi glaukoma dan katarak. Aku sangat bersyukur dengan adanya program BPJS ini karena benar-benar sangat membantu. Orang menengah ke bawah tidak takut lagi pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan. Seperti yang kita tahu, biaya berobat ke rumah sakit sangat mahal dan sulit dijangkau. Uang seberapa banyak pun cepat sekali habis untuk membiayai berobat apalagi dengan penyakit berat. Dengan program BPJS, bisa saling tolong menolong. Jadi, walaupun kita dalam keadaan sehat tetap dibayarkan ya iuran BPJS setiap bulannya. Saat kita sehat, kita bisa membantu orang lain yang sedang sakit, begitupun ketika nanti kita sakit, kita dibantu oleh orang lain. Aku bukan buzzer ya, aku hanya sharing sebagai warga negara Indonesia yang terbantu dengan adanya BPJS.

Photo by Anna Shvets
Photo by Anna Shvets: https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-female-scientist-watching-through-microscope-3846005/

    Jika kalian pernah baca tulisanku sebelumnya, Ibuku didiagnosa glaukoma dan katarak sehingga harus menjalani operasi glaukoma dan katarak. Setelah aku searching, glaukoma adalah penyakit yang menyebabkan tekan bola mata meningkat dan tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikontrol agar tekanan bola mata menjadi normal, tidak melebihi batas normal. Glaukoma menyerang saraf mata dan bisa menyebabkan kebutaan jika tekanan bola mata tidak terkontrol. Cara agar tekanan bola mata dalam keadaan normal adalah dengan obat-obatan, jika tidak bisa diturunkan dengan obat-obatan, maka harus dilakukan operasi. Ibuku harus menjalani operasi trabekulektomi dimana operasi ini adalah prosedur pembedahan untuk glaukoma yang menciptakan saluran drainase baru di mata untuk mengurangi tekanan intraokular (TIO) dengan memungkinkan cairan berlebih mengalir keluar. Dokter membuat lubang di bagian putih mata (sklera) yang memungkinkan cairan mengalir ke area kecil atau bleb, di bawah permukaan mata, mengurangi tekanan dan mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut. Setelah dioperasi pun, Ibu masih harus terus kontrol ke rumah sakit dan terus diberikan obat tetes. Dari yang tadinya kontrol seminggu sekali, kemudian dua minggu sekali, lalu sebulan sekali dan sekarang dua bulan sekali. Alhamdullillah tekanan bola mata ibu normal dan penghlihatan masih tajam, tetapi memang untuk lapang padangnya sudah menyempit. Terimakasih ya Allah atas nikmat indera mata yang masih bisa untuk melihat. Semoga kami selalu menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur.

    Aku ingin share alur bagaimana ibuku bisa rawat jalan menggunakan BPJS. Aku sudah share pengalaman operasi glaukoma dan katarak gratis menggunakan BPJS, KLIK DI SINI.  Jadi, seminggu pasca operasi Ibuku diminta kontrol kembali ke Rumah Sakit. Di dokumen persetujuan operasi dari BPJS, Ibu mendapat 1 kali jatah kontrol dengan dokter spesialis yang menanganinya. H min 1 sebelum kontrol, kami mendapat pesan melalui WhatsApp untuk mengingatkan jadwal kontrol. Untuk pasien BPJS, baru bisa mendaftar satu jam dari waktu jadwal kontrol. Misalnya dijawalkan jam 10. Maka kita baru bisa mendaftar satu jam sebelumnya yaitu jam 9. Jika masih di bawah jam 9, tetap tidak bisa mendaftar. Untuk pasien pasca operasi yang ingin kontrol, tidak bisa mendaftar di mesin Anjungan Penfaftaran Mandiri (APM) yang ada di rumah sakit. Jadi, kami harus mendaftar secara manual di loket pendaftaran. Aku mengambil nomer antrian. Ada pilihan Regular dan lansia/disabilitas. Aku memilih lansia karena Ibuku sudah berusia lanjut. Untuk kategori lansia/disabilitas adalah antrian prioritas (yang didahulukan) daripada antiran regular. Proses antrian ini cukup lama. Kurang lebih bisa menunggu 15-30 menit. Setelah nomer antrian di panggil, Aku menyampaikan bahwa Ibuku tidak bisa mendaftar melalui mesin APM karena baru operasi seminggu yang lalu. Petugas membantu kami mendaftarkan secara manual. Selanjutnya kami diberikan kertas pendaftaran dan diminta ke lantai 2 dimana klinik mata berada.

    Setelah naik ke lantai 2, kami menaruh kertas pendaftaran. Kami menunggu kembali sekitar 30 menit, lalu ibuku diperiksa tensinya dan ditanyakan keluhannya apa. Setelah itu, kami menunggu kembali sekitar 20 menit dan kemudian masuk ke ruangan lagi untuk diperiksa tekanan bola mata dan pemeriksaan visus. Setelah itu kami menunggu untuk dipanggil kembali sekitar 30 menit untuk masuk ke ruangan dokter. Lamanya pemanggilan ini berbeda-beda tergantung pemeriksaan pasien sebelumnnya lama atau tidak. Tidak ada perbedaan antara menggunakan BPJS dan membayar pribadi di rumah sakit ini. Setelah diperiksa dokter, Ibuku diminta kontrol lagi seminggu kemudian dan harus ada obat yang ditebus di farmasi lantai 1. 

    Setelah itu, aku dan Ibu menuju ke farmasi. Untuk menebus obat, kita harus mengetikan nama dan tanggal lahir di sebuah layar serta mengisi opsi obatnya mau ditunggu atau ditinggal. Jika ditinggal, diberikan waktu seminggu untuk mengambil obat terhitung dari waktu berobat. Kertas print antrian obat pun keluar. Aku dan Ibu memutuskan untuk menunggu obatnya karena biar sekalian. Jika sedang terburu-buru, ada jasa pengantar obat. Jadi kita tidak perlu mengantri, obat akan dikirimkan ke alamat rumah kita. Maksimal jarak antara alamat rumah dan rumah sakit maksimal 10 km jika ingin diantar hari itu juga. Tetapi jika lebih dari 10 km, akan lebih dari 1 hari tiba di rumah. Urutan antrian obat tidak dipanggil secara berurutan. Jam 11 siang Ibu mendapat antrian obat nomer 077. Estimasi nomer antrian dipanggil kurang lebih 3 jam. Ada layar berukuran besar di depan farmasinya sehingga kita bisa memantau status antiran obat kita. 

    Sementara sambil menunggu antrian obat, aku dan ibu pergi ke loket BPJS untuk membuat perjanjian kontrol berikutnya. sebelum hari H bertemu dengan dokter, kita harus membuat perjanjian terlebih dahulu kurang lebih seminggu sebelumnnya. Perjanjian ini bisa dilakukan melalui aplikasi mobile JKN atau secara manual. Ibu tidak bisa melakukan perjanjian melalui aplikasi mobile JKN, karena jadwal praktek dokter di aplikasi mobile JKN berbeda dengan jadwal prakteknya di rumah sakit yang kami kunjungi, makanya kami melakukannya secara manual. Setelah kami mengambil nomer antrian, kami menunggu untuk dipanggil. Di antrian loket BPJS ini ramai sekali. bisa ratusan nomer antrian. Kami bisa menunggu hingga kurang lebih 3 jam. Setelah nomer antrian Ibu dipanggil, aku mengatakan bahwa kata dokter ibu harus kontrol lagi minggu depan sambil memberikan kertas kontrolnya, petugas BPJS kemudian menjadwalkan di layar komputernya. Jadwal perjanjian akan dikirimkan melaui whatsapp. Di whatsapp tersebut terdapat hari, tanggal, jam, nama pasien, nomer rekam medis pasien, dokter yang menangani dan prosedur registrasi pasien ketika kontrol. H min 1 kontrol, kita akan diingatkan lagi melalui whatsapp jadwal kontrol dan kita tinggal mengkonfirmasi bisa datang atau tidak. Jika bisa, kita tinggal datang pada hari H kontrol dan mendaftar pada mesin Anjungan Penfaftaran Mandiri (APM). Ada petugas yang membantu untuk mendaftarkan di mesin APM. Untuk case ibuku ini berobat ke RS karena rujukan dari faskes 1 dan 2 ya karena glaukoma tidak bisa ditangani di faskes 1 dan 2, jadi pastikan saat membuat perjanjian surat rujukan aktif sampai kontrol berikutnya.

    Setelah selesai membuat perjanjian untuk bertemu dokter minggu depan, aku dan ibu kembali ke farmasi dan mengecek apakah nomer antrian kami sudah dipanggil. Di rumah sakit tempat ibuku berobat, terdapat QR Code untuk tracking status obat untuk mempermudah pengecekan. Ketika aku cek, status antrian obat ibuku masih diproses. Jadi, kami harus menunggu lagi. Memang alur proses berobat menggunakan BPJS ini harus sabar. Setelah nomer antrian ibuku dipanggil, aku menuju loket dan petugas mengedukasi aku tentang penggunakaan obat. Akhirnya selesai juga untuk kontrol hari ini. Jika sudah mengantar Ibu kontrol bisa dari pagi sampai sore.

    Dari periksa dengan dokter sampai obat kami tidak dikenakan biaya sepeser pun. Alhamdulillah, semuanya dicover BPJS. Tetapi, tidak semua jenis obat dicover BPJS ya. Setidaknya, BPJS membantu sehingga tidak keluar biaya full. Ibuku membayar BPJS mandiri setiap bulannya. Untuk surat rujukan BPJS akan expired setiap 3 bulan, jika dokter masih menjadwalkan untuk kontrol, jangan lupa untuk memperpanjang surat rujukan dan membayar iuran BPJS setiap bulannya agar tidak terkendala saat ingin membuat perjanjian dengan dokter. 

    Terimakasih telah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Sehat-sehat untuk kita semua. Aamiin :) 

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers