Alasan-alasan Unik Kenapa Pilih Jurusan DKV

    Pasti kamu punya alasan dong ketika memilih sesuatu termasuk dalam memilih jurusan kuliah. Kecuali udah pasrah kali ya. Yaudahlah jurusan apa aja yang penting pake jaket kuning. Hehe. Di kesempatan kali ini aku ingin share alasan-alasan unik hasil survei aku ke teman-teman satu jurusanku memilih jurusan DKV.


1. Terhindar dari Matematika

    Kenapa matematika bagaikan voldemort yang ditakuti sih? Hehe. Sepertinya semua ilmu membutuhkan matematika karena ini ilmu dasar walaupun gak akan serumit menggunakan dan membedah rumus-rumus yang memang dipelajari di jurusan matematika, termasuk DKV juga ada unsur matematikanya walaupun tidak dominan. Misalnya ketika Dosen memberi tugas membuat display sebuah kemasan box, ya perlu dipikirkan perhitungan ukurannya, panjang, lebar, tinggi, sudut-sudutnya supaya pas. Beda satu cm aja sudah beda bentuknya. Hehe. Jadi, memilih jurusan DKV masih tetap ketemu matematika ya. 

2 . Biar Santai Kuliahnya

    Realitanya gak ada santai-santainya. Hahaha. Saat orang lain pasang alaram untuk menentukan kapan bangun tidur supaya gak keisangan. Anak DKV pasang alaram supaya inget tidur dan gak keterusan ngerjain tugas. Belum lagi kalau masih dipercetakan yang buka 24 jam, deg-degan takut ada kesalahan, tugas harus dikumpulin pagi-pagi jam delapan.

3. Biar Dibilang Keren 

    Padahal B aja. Haha. Udah berusaha gambar sebagus mungkin di matkul menggambar, tapi tetep aja mentok dapet nilai C. Haha. Inget mandi dan bisa makan aja udah bersyukur. Kalau gak sempet mandi sebelum ke kampus karena harus cepet ngumpulin tugas, parfum jadi andalan. Mata panda adalah tanda perjuangan. Haha. Melindungi tugas hasil begadang semalaman supaya gak kehujanan adalah keharusan.

4. Berharap Gak Ada Tugas Paper

    Selain ada yang berpikir kalau kuliah DKV gak akan ketemu matematika, buat yang memang jago gambar dari lahir berpikir bahwa kuliah DKV itu gak ada tugas paper, menggambar terus sampe lulus. Nyatanya kuliah jurusan DKV juga ada tugas paper seperti sejarah seni, estetika, branding, dan lain-lain. Mikir juga pake otak kiri. Hehe.

5. Dikira Bikin Karya Bebas

    Padahal banyak banget teori desain yang harus dipelajari dan ketika mendesain harus bisa menjawab 5 W + 1 H. Gak asal bikin logo, gak asal bikin karya, gak asal-asal menggambar yang penting ada. Haha.

    Dari kelima poin di atas, apa ada salah satu alasan kamu memilih jurusan DKV? Hehe. Apapun alasan kamu, tetap semangat berjuang sampai akhir ya. Semoga bermanfaat :)

Suka Duka Kuliah Di Jurusan DKV

    Kuliah DKV (Desain Komunikasi Visual) santai banget ya gambar-gambar aja, jarang ada dosennya, paling masuk kelas absen doang dan bla…bla…bla… Maunya sih begitu, tetapi realitanya tidak seindah itu pemirsah. Hehe. Emang anak DKV ada dukanya? banyakkkk. Berikut aku share suka duka kuliah di jurusan DKV berdasarkan pengalaman.


Kita mulai dari Sukanya dulu ya. Yang indah-indah dulu. Hehe.

1. Sering dikira keren karena jago gambar

    Padahal sebenernya skill menggambarnya B aja gak jago-jago banget. Haha. Di atas langit masih ada langit. Kuliah DKV gak cuma menggambar ya saudara-saudara sebangsa setanah air. Tetapi ada mata kuliah lain seperti fotografi, komunikasi, sejarah seni, branding, kapita selekta dan lain-lain. Ini tergantung kurikulum kampus masing-masing. Tetapi mirip-mirip.

2. Easy Going

    Rata-rata anak DKV easy going. Mau ke senior atau ke junior gak kaku. Saling dukung. Banyak komunitas-komunitas yang bisa diikuti juga. Jadi semakin menambah networking dan ilmu juga, gak hanya dapet dari kelas.

3. Pakai baju bebas asal sopan

    Seringnya kaosan karena nyaman dan enak buat gerak. Haha. Gak wajib harus pake blazer atau kemeja kayak anak bisnis misalnya. Pakai sendal jepit juga boleh di kelas kalau gak ketahuan Dosen. Hehe.

4. Dosen masih muda

    Saat diskusi sama Dosen gak monoton berasa sama teman karena rata-rata masih muda. Diskusinya juga bisa di luar kelas. Sambil makan bareng di kantin atau ngemil gorengan di tangga kampus misalnya.

5. Gak bisa nyontek

    Gimana bisa nyontek? hasil menggambar tangan tiap orang kan berbeda-beda. Konsep yang dipikirkan tiap kepala juga berbeda-beda, kalaupun ada konsep yang sama, pasti hasil eksekusinya juga berbeda. Pilihannya, menantang diri sendiri supaya bisa mendapat nilai yang lebih baik dan bisa lulus tepat waktu atau menyerah, pasrah tereliminasi. Haha.

Selain suka, ada juga dukanya dong. Haha. Berikut duka-duka yang harus dilalui. Hehe

1. Begadang

    Ada gak sih jurusan di perkuliahan yang gak begadang? Wkwk. Yang pasti kalau menjadi mahasiswa DKV harus siap begadang. Semua tugas dikumpulkan bersamaan. Sabtu minggu ngerjain tugas. Dari pagi menjelang pagi lagi. Belum kalau drama mewarnai menggunakan cat air lalu salah warna, semut lewat catnya bleber kemana-kemana,  kertas ketumpahan kuah bakso. Haha. Mengesedih. 1 tugas diminta bikin beberapa alternatif. Bikin satu alternatif aja udah bikin puyeng. Tapi ketika pasca kampus, ketahanan dalam begadang ini diperlukan untuk menyelesaikan deadline. Hehe.

2. Laptop atau PC sering no responding

    Ini sering terjadi ketika mengerjakakan tugas digital. Harus buka dua aplikasi secara bersamaan ditambah spek laptopnya kentang. Haha. Udahlah ini nangis aja di pojokan. Aplikasi-aplikasi desain berat kayak beban hidup, mereka memakan memori dan storange tanpa ampun, makanya sering banget nih terjadi no responding. Jangan lupa selalu CTRL + S walaupun baru bikin garis lurus. Hehe.

3. Revisi

    Ketika kamu sudah selesai mengumpulkan tugas, bukan berarti penderitaan sudah berakhir, kamu masih harus menghadapi yang namanya revisi dan yang paling parah redesain. Hehe. Coretan dimana-mana. Cari ide lain lagi deh. Betapa lagi di pulau komodo biar dapet ilham. Ya dinikmati aja. Nanti kalau kerja masih di bidang desain, ini akan jadi kata-kata keramat yang harus kamu hadapi setiap saat. Hehe.

4. Bokek

    Saat menjadi anak DKV, bokek melanda sebokek-bokeknya untuk membeli cat-cat yang pada habis, kuas yang bulu-bulunya mulai jaga jarak, sketch book udah tipis karena salah terus, pensil warna tinggal setinggi jari kelingking dan kebutuhan untuk tugas lainnya. Harus pintar-pintar mengatur pengeluaran supaya akhir bulan gak minum obat mag terus. Hehe.

5. Desain Gratis

    Ini kalau pas ketemu temen di jurusan lain atau di organisasi sering minta desainin gratis. Udah gitu mintanya buru-buru. Bilangnya sih yang simple aja. Yang simple juga butuh mikir kali. Hahaha. Kalau emang simple menurut anda ya kerjain aja sendiri. Hehe. Sabar-sabar aja kalau ketemu makhluk tipe ini. Kalau nggak bisa menolong tolak secara halus aja. Hehe.

    Oke mungkin segitu aja sharing suka dan duka selama menjalani kuliah jurusan DKV. Ada yang ingin menambahkan? Semoga bermanfaat :)

Ngapain Capek-capek Mendaki Gunung?

    Dulu saat masih aktif mendaki gunung, ada beberapa teman yang menanyakan "Ngapain sih naik gunung? Udah enak tidur di kasur yang empuk di rumah. Gak kepanasan. Gak kehujanan. Gak susah kalau mau ngapa-ngapain. Ini malah bikin susah diri sendiri." Hehe. Apa yang dicari di gunung? Jalan bekilo-kilo meter dengan membawa beban di punggung, melewati tanjakan, tidur di tenda yang sempit, suhu yang dingin, meghadapi cuaca yang tidak menentu, buang hajat ribet. Ketika udah turun pun pulang bawa baju kotor, nenteng sampah sampai bawah, capek sekujur tubuh, kulit gosong. Hehe. Di kesempatan kali ini, Aku akan share pengalaman kenapa pendaki mau capek-capek mendaki padahal gunung yang didaki juga itu-itu lagi. Hehe.


    Kalau dipikir-pikir mendaki itu numpang tidur tetapi dalam kondisi berbeda. Enakan nongkrong di Mall adem atau nongkrong di Cafe yang nyaman. Tetapi buat aku banyak hal yang aku pelajari ketika melakukan sebuah pendakian. Alam mengajarkanku untuk selalu bersyukur, bahwa setiap sesuatu itu berharga yang kita sering lupa karena semuanya serba ada. Ketika di rumah kita sering tanpa sadar membuang-buang air. Mau mandi berapa gayung pun atau mau minum berapa banyak pun gak akan pernah kepikiran bagaimana kalau seandainya tidak ada air? Ketika makan sering tidak habis sehingga berujung masuk tempat sampah. Di gunung, semua serba terbatas, seteres air di botol sangat berharga. Sepotong roti bisa menjadi penyambung nyawa. 

    Sebuah pendakian mengajarkanku untuk berbagi. Tidak egois memikirkan diri sendiri. Aku pernah dikasih sebotol air minum oleh pendaki lain yang aku tidak kenal. Bekal airku habis dan tidak ada sumber air di sekitar situ. Dia memberiku dengan suka rela, padahal kita sama-sama membutuhkannya. Masih banyak orang baik di luar sana yang mengajarkan kita untuk berbagi. Pun ketika masak bersama dan saling berbagi bekal makanan dengan kelompok pendaki lain. Kami duduk melingkar sambil bersenda gurau, saling bercerita tentang pahit manisnya kehidupan. 

    Pendakian juga mengajarkanku akan kesabaran dan empati. Sabar menunggu teman yang masih berjalan agak tertinggal di belakang. Menyemangatinya untuk tetap semangat melanjutkan perjalanan. Sabar ketika sudah capek tetapi masih harus berjalan mengejar waktu agar tidak kemalaman mendirikan tenda. Semuanya juga capek, gak boleh ngeluh karena merasa paling menderita. Sabar ketika mau salat, tetapi sendalnya basah dipinjam teman dan dipakai bergantian. Sabar ketika ketemu hewan di gunung mengacak-acak makanan di ransel. Duh, cokelat aku hilang. Hehe.

    Pendakian membuatku menjadi mandiri dan berani. Mandiri bukan berarti tidak butuh bantuan orang lain dan mengerjakan semuanya sendiri. Tetapi, jika menginginkan sesuatu, aku harus berusaha terlebih dahulu. Kalau lapar, untuk menikmati makanan perlu masak dulu. Kalau terluka, bukannya menangis, tetapi obati lukanya. Berani bukan berarti tidak takut apapun, tetapi berani akan menghadapi ketidakpastian. Mendaki gunung bagaikan menjalani miniatur kehidupan. Setiap perjalanannya bagaikan ujian. Akan ada pelangi setelah hujan. Ketika diaplikasikan dalam kehidupan, saat memiliki masalah, ingatlah selalu ada Allah Maha Besar. Jadilah kuat. Hidup di dunia ini hanya sementara.

    Kalau tujuan mendaki hanya untuk sebatas melihat sunrise dan sunset atau untuk eksis posting di media sosial, ketauhilah tidak semua pendakian mendapatkan panorama terbaik, lautan awan bak permen kapas, sunrise yang indah, padang rumput yang hijau atau bunga eldeweiss yang bermekaran. Ada kalanya kita akan diterpa hujan yang deras, menggigil karena kedinginan, kabut yang tebal sehingga jarak pandang menjadi terbatas. Lupakan soal foto dan merekam video, bertahan hidup untuk melewati semua ini dan pulang masih dalam keadaan selamat dan sehat adalah hal yang lebih berharga. Pendakian mengajarkanku untuk menjadi tangguh, membangkitkan insting untuk menjatuhkan sebuah pilihan. Aku selalu merasa dekat dengan kematian ketika melakukan pendakian.

    Sebuah pendakian tidak menjadikan puncak sebagai tujuan. Puncak bukanlah harga mati. Kamu sendiri yang tahu kondisi apakah kamu sanggup atau tidak untuk mencapai puncak. Apakah kondisi memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan sampai puncak? Walaupun beberapa kali aku bisa mendaki sampai ke puncak, bukan perasaan bangga sih bisa sampai puncak tetapi perasaan bahagia karena bisa mengunjungi tempat yang belum pernah aku kunjungi dan bisa berjumpa dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam yang belum pernah aku temui. Setiap perjalanan menceritakan kisah berbeda. 

    Kalau belum pernah merasakan nikmatnya mendaki pasti masih berpikir mendaki itu lebih banyak "ruginya". Kalimat sejuta pendaki mengatakan "Rasakan sendiri maka kau akan tahu nikmatnya mendaki." Rumah akan selalu menjadi tempat paling hangat. Tempat untuk pulang. Kadang kita harus pergi meninggalkannya, mencari rindu agar tahu bahagianya pulang berkumpul kembali bersama keluarga. Dunia ini luas, banyak interaksi yang bisa dilakukan, banyak pengalaman yang bisa kamu dapatkan. Semoga bermanfaat :)

Tips Agar Tidak Pernah Dikritik

    Kebanyakan tulisan atau artikel memberi tips menghadapi kritikan dari orang lain ya supaya lebih memotivasi. Tetapi di tulisan ini aku akan memberi tips supaya tidak pernah dikritik oleh orang lain. Hehe. Apa saja itu? Check it out.

 

1. Jangan Melakukan Apapun

    Kita diam saja juga tetap akan diomongin orang lain. Apalagi kalau banyak melakukan berbagai hal. Hal yang positif ya maksudnya. Yang dibilang caper lah, yang dibilang sok tahu, yang dibilang sok alim dan kritik-kritik ‘pedas’ sepedas makan bon cabe Level 30. Hehe. 

    Kita tidak bisa mengendalikan respon orang lain kepada kita. Yang bisa kita lakukan adalah menyikapinya. Orang lain memberi kita kritik berarti menaruh perhatian pada apa yang kita lakukan. Kalau gak perhatian, ngapain dia sampai meluangkan waktunya buat kepo story sosmed kita, nanya-nanya apa yang kita lakukan ke teman atau kerabat dekat kita, nyinyirin kita di geng-nya atau capek-capek menggerakan jari jemarinya di smartphone-nya untuk menyampaikan kritiknya langsung kepada kita. Hehe. Jadi kalau gak mau dikritik, ya tidak usah melakukan apapun.

2. Jangan Mengatakan Apapun

    Berbeda pendapat atau pandangan terhadap suatu hal itu hal yang biasa. Kita tidak bisa membuat semua orang setuju dengan pendapat kita. Semua berhak menyampaikan pendapatnya. Tetap bersikap tenang ketika menyampaikan pendapat kalau perlu diselingi humor supaya tidak tegang dan data yang valid supaya tidak menjadi debat yang unfaedah. Hehe. Saat berbeda pendapat ini nih yang seringnya bikin baper. Baper wajar kok, namanya juga manusia. Asal jangan keterusan aja. Hehe. Kalau tidak mau menerima kritik dari apa yang kita pikirkan, tidak perlu disampaikan. Diam saja. Tidak usah mengatakan apapun. Cuek aja.

3. Jangan Menjadi Apapun

    Misalnya kamu memiliki cita-cita menjadi YouTuber dengan peringkat nomer satu di Indonesia. Lalu beberapa orang mengkritik hasil video kamu (padahal belum juga nonton videonya, gak suka aja sama orangnya bukan karyanya. Hehe), Mereka bilang, kontennya membosankan, audionya kurang jelas, pengambilan videonya kurang tajam, blur semua dan bla…bla…bla…Terus saat mendapat kritik seperti ini kamu down? Maka, kamu TIDAK AKAN PERNAH meraih apa yang kamu impikan. Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang anginnya. Sesempurna apapun hal yang kita merasa sudah melakukan yang terbaik bahkan harus keluar dari zona nyaman kita pasti akan ada selalu kritik yang datang. Jadi, kalau tidak siap menerima kritik, jangan pernah bercita-cita menjadi apapun. Hehe. 

    Jadi, mungkin segitu aja tips agar tidak pernah dikritik oleh orang lain. Hehe. Semoga tulisan ini membuat kita semakin termotivasi untuk terus bergerak dan berlapang dada dalam menerima kritik baik kritik yang membangun maupun menjatuhkan mental. Hehe. Apapun kritik yang datang pada kita, semoga menjadikan kita untuk selalu intropeksi diri dan semakin meningkatkan kualitas diri kita lagi. Jangan lupa ucapkan terimakasih kepada yang mengkritik karena sudah meluangkan waktunya untuk memberi perhatian pada kita. Yang mengkritik juga belum tentu lebih baik dari yang dikritik dan belum tentu juga bisa melakukan apa yang sudah kamu lakukan. Keep going. Biar ketika mereka masih ngomongin kita, kita sudah maju beberapa langkah. Semoga bermanfaat :)

The Life of A Graphic Designer

    Gimana Rasanya jadi Seorang Desainer Grafis? Capek. Hahaha. Gak ada hal yang bikin gak capek kayaknya hidup di dunia ini. Rebahan seharian aja capek juga. Capek yang dirasakan oleh seorang Desainer grafis disini lebih ke arah dimana seorang Desainer grafis saat proses brainstorming, kadang otak tuh kayak diajak eksplor ke berbagai hal untuk mendapatkan ide yang tepat, yang nantinya akan jadi sebuah desain yang utuh dengan segala komposisi dan filosofinya sehingga memberikan solusi secara kreatif yang efektif dengan konsep visual. Desainer grafis juga dituntut untuk tetap kreatif dalam segala hal, terutama dalam memainkan komposisi visual.

 

    S.Ds (Sarjana Deadline Selalu) itu sebutan lebih tepat kayaknya buat lulusan DKV. Hehe. Profesi sebagai seorang Desaner grafis seringkali menuntut Desainer untuk bekerja melebihi dari jam kerja, apalagi jika sudah mendekati deadline, bisa dipastikan Desainer itu mungkin tidak akan tidur seharian bahkan weekend/tanggal merah pun masih tetap kerja di depan laptop. Apalagi kalau sedang mau ada promo tanggal kembar di beberapa ecommerce nih. wkwkwk. Makan aja kadang nggak sempet. Hahaha. Masalah bekerja tidak kenal waktu ini sering terjadi bukan karena ketidakmampuan Desainer dalam bekerja, namun seringnya karena Client yang tidak disiplin. Desainer lama menunggu briefing dari Client, ketika mereka fix memberikan briefing deadline-nya selalu terburu-buru. Sudah deadline mepet, data yang diberikan masih berubah-ubah dan status approval yang juga dapat berubah-ubah yang berakibat hingga menit terakhir pun, konten yang dibuat masih bisa berubah atau bahkan dibatalkan. Meskipun Desainer yang bekerja sudah bekerja seefisien mungkin namun jika dari pihak Client tidak mengunci data, semua yang dibuat masih bisa berubah dan hampir seluruh proyek yang Desainer kerjakan, semuanya mengalami hal ini. 

    Desainer grafis juga suka dianggap “Magician” alias tukang sulap. Client suka meminta sesuatu seakan-akan seorang Desainer grafis bisa menyulap semuanya. Padahal, untuk mengedit gambar atau video tentunya butuh waktu dan tenaga untuk berpikir. Semuanya tidak instan begitu saja. Mie instan aja perlu direbus dan diberi bumbu dulu sebelum dimakan. Hehe.

    Revisi adalah kata keramat yang pasti dihadapi oleh para Desainer grafis. Seringnya Desainer sudah memberikan beberapa alternatif desain di awal, tetapi Client menolak dan memberikan masukan, logo dibesarin, warna diganti, background dikasih pattern biar gak sepi kayak dompet di akhir bulan dan akhirnya Desainer mengikuti arahan sesuai dengan keinginan Client. Jadinya bukan revisi lagi, tetapi sampai tahap redesain. Hehe. Ketika sudah jadi, mereka kembali ke desain awal yang sudah Desainer ajukan. Jadi, pelajaran hidupnya jangan lupa selalu save desain awal kalian ya para Desainer. Client suka CLBK (kembali ke alternatif desain pertama). Hehe.

    Client suka meminta banyak alternatif desain tetapi tidak tahu maunya apa. Hehe.  “Saya kurang suka desainnya, kurang sreg aja gitu”.  Ibaratnya nih kaya menjalin suatu hubungan tetapi gak punya tujuan, jalanin aja dulu #eh. wkwwkk. Ini akan menjadi judul FTV Revisi Never Ending. Wkwkwk. 

    Selain menghadapi Client yang memang membayar jasa kita untuk melakukan hal-hal yang kadang ajaib, sebagai Desainer grafis juga menghadapi teman, senior, temannya teman, temannya senior, orang yang gak kenal ngaku teman minta desainin gratisan, minta gambarin, minta editin, minta dimasakin. Eh yang terakhir mah nggak. Hehe. Udah gratis minta cepet-cepet. Bilang makasih aja nggak. Wkwkwk.

    Terlepas dari hal-hal di atas, Jadi Desainer grafis itu seru dan menyenangkan kok karena pekerjaannya selalu berhubungan dengan hal2 yang berbau kreatifitas, berimajinasi, bermain dengan visual dan warna, serta membahas topik-topik baru, baik yang ringan mapun yang berat. Bisa mengasah otak kanan. Lalu juga bertemu dengan Client dengan latar belakang yang beragam, jadi menambah insight baru ketika berdiskusi.

    Semua profesi pasti ada plus minusnya. Masih beranggapan “Enak ya jadi Desainer grafis kerjaannya ngegambar doang?”. Hehe. Mungkin segitu aja curhat eh sharing kali ini. Semoga bermanfaat.

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers