How to Make Your Own Brushes in Adobe Illustrator

    There are 4 types of brushes you can create in Illustrator: Calligraphic, Art, Scatter, and Pattern. In this tutorial, we'll go over creating an Art Brush. You can experiment with other brush types in the same fashion. You can check the tutorial on my youtube channel here. Enjoy it. Hope it's useful :)



Alat & Aplikasi Menggambar Digital yang Aku Gunakan

    Ketika aku share hasil belajar menggambarku di media sosial, sering banget pertanyaan yang muncul "kak gambarnya pake apa?" Atau "Apa nama aplikasinya?" Pas udah dijawab "belinya dimana?". Wkwkwk. Udah kayak endorse produk atau toko sampe ditanya belinya dimana. Aku jadi kepikiran menulis topik ini supaya bisa dibaca oleh semua. Hehe.

    Melalui tulisan ini, aku akan sharing alat dan aplikasi apa yang aku gunakan untuk menggambar digital. Kalau untuk sketching atau gambar format pixel, alat yang aku gunakan adalah Ipad Pro dan Apple Pencil. Aku menggunakan Ipad Pro Generasi Kedua dengan spesifikasi ukuran 10.5 inch dan storange 256 GB keluaran tahun 2017 dan aku menggunakan Apple Pencil generasi pertama. Kalau mau versi lebih update, sudah ada Ipad Pro Generasi Kelima keluaran tahun 2021 dan Apple Pencil generasi kedua. Kalian bisa cek-cek spesifikasinya di sini. Untuk pembeliannya, Kalian bisa beli produk Apple di Premium Reseller seperti Ibox atau Authorized Reseller yang ada di kawasan perbelanjaan atau bisa juga di toko-toko online. Kalo dari harga bervariasi tergantung kalian beli dimana ya. Buat yang mau beli di toko online sebaiknya cek-cek dulu kondisi barang, keaslian, dan lain-lain nya atau bisa juga tanya-tanya ke teman rekomendasi toko mana yang terpercaya dan sudah pernah beli di sana sebelumnya.

    Aplikasi yang aku gunakan di Ipad Pro adalah Procreate. Kalian bisa beli aplikasinya di Apple Store. Waktu aku beli harganya 159.000 dan ini lisensinya bisa digunakan seumur hidup. Jadi gak perlu repuchase bulanan atau tahunan. Seperti ini salah satu hasil belajar menggambarku dengan menggunakan gear Ipad Pro, Apple Pencil dan Aplikasi Procreate. Bisa kalian tonton di reels Intagramku di sini.

     

    Kalau untuk menggambar format vector, aku menggunakan laptop dan Aplikasi Adobe Illustrator dibantu dengan drawing tablet juga. Gear yang aku gunakan bisa kalian tonton di channel youtube aku di sini. Untuk laptopnya kalian bisa pake laptop merk apa aja dengan spesifikasi yang tangguh buat desain. Rekomendasi spek laptop dari aku bisa dibaca di sini. Untuk Aplikasi Adobe Illustrator kalian bisa beli di sini. Ada yang versi Ipad feature juga kalau kalian mau mendesainnya menggunakan ipad di sini. Kalau Aplikasi Adobe Illustrator ini lisensinya gak seumur hidup. Kalian bisa repuchase bulanan atau tahunan. Silakan aja disesuaikan dengan kebutuhan. Bisa trial dulu juga kalau kalian mau cobain. Hehe. Berikut salah satu hasil belajar menggambarku yang menggunakan Laptop, Adobe Illustrator dan Drawing Pad. Tutorial cara membuatnya bisa kalian tonton di youtube channel aku di sini.

 
    Mungkin kalau dari hasil gambarnya, dilihat sekilas tidak terlihat ya perbedaan menggunakan kedua gear di atas. Tetapi kalau menggunakan Adobe Illustrator dengan format vector gambar yang dihasilkan tidak akan pecah jika diperbesar berapa kalipun.

    Mungkin segitu aja sharing dari aku kali ini. Semoga bermanfaat. Tetap semangat belajar dan berkarya apapun alatnya #cmiiw :)

Berkarir Jadi Generalis atau Spesialis?

    Buat Para Milenial di era digital seperti sekarang ini dipaksa untuk bisa melakukan semuanya dengan serba cepat dan serba dinamis menjadi khawatir dan galau untuk menentukan mana yang lebih dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini? Memiliki skill generalis atau spesialis?

Photo by cottonbro from Pexels

    Kita mengenal Generalis sebagai seseorang yang mengetahui banyak hal tetapi tidak mendalam di bidang tertentu. Diajak diskusi tentang desain, coding ataupun marketing sekaligus nyambung. Tetapi dia bukan ahli dan tidak mempelajari secara mendalam semua bidang tersebut. Sedangkan spesialis kebalikannya, tidak mengetahui banyak hal, tetapi kuat atau menjadi ahli dalam bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan khusus atau pendidikan khusus ditambah dengan pengalamannya selama bertahun-tahun yang berfokus dalam satu bidang tersebut. Sehingga profesinya bersifat “khusus” dan spesifik. Misalnya seorang Developer Aplikasi Android.

    Di sisi lain, jika melihat kebutuhan di Perusahaan, Perusahaan akan berupaya menekan overhead cost dan melakukan efisiensi, tetapi tetap ingin mengoptimalkan keuntungan. Kenapa harus mempekerjakan sepuluh orang jika dengan lima orang pun semua pekerjaan bisa ditangani dengan baik?

    Melihat kondisi tersebut, Kita punya pilihan menjadi generalis-spesialis, atau dalam psikologi pop juga dikenal sebagai T-Shaped. Kalau bisa dua kenapa harus satu kan?

Source : “Why T-shaped people?” by Jason Yip
 

    T-Shaped menggabungkan keduanya. Seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu (setidaknya satu keahlian) namun juga memiliki pengetahuan yang cukup di bidang lainnya. T-Shaped mempunyai banyak area skill yang ditunjukkan dengan bagian horizontal dari huruf T, dan menjadi ahli dalam satu atau beberapa bidang yang digambarkan pada bagian vertikal huruf T.

    Konsep T-Shaped jika diaplikasikan seperti ini, Kalau kamu mendalami segala sesuatu yang berkaitan dengan desain, kamu juga mempelajari hal lain misalnya front end atau video editing atau digital marketing. Jika di perusahaan menjadi karyawan generalis ternyata kurang menghasilkan, paling tidak kamu bisa mempertimbangkan untuk berwirausaha dengan menjual jasa yang menjadi spesialisasi kamu. 

    Menjadi T-Shaped memang sulit. Tetapi bukan berarti gak bisa. Kita dituntut untuk senantiasa belajar banyak hal. Steve Jobs seringkali mengingatkan, stay hungry stay foolish. Jangan karena sudah merasa mumpuni dan punya karir yang bagus, terus berpikir ah ngapain belajar lagi. Tidak ada salahnya mencoba menjadi versi terbaik diri kita selagi kita bisa. Semoga bermanfaat #CMIIW

Negative Space Logo

    Mungkin sudah banyak yang pernah melihat logo dengan menggunakan negative space, tetapi belum tahu kalau namanya negative space logo. Hehe. Jadi apa sih negative space logo? yang seperti apa bentuknya?

    Negative space adalah sebuah teknik membuat sebuah gambar dengan memanfaatkan ruang kosong. Jadi, dengan ruang kosong, terciptalah sebuah gambar. Teknik ini biasanya digunakan dalam pembuatan logo, sehingga logo yang dibuat memiliki efek visual yang bisa menambah ketertarikan dan mudah mengingatnya bagi yang melihat desain pada logo tersebut. Negative space disebut juga Double Meaning karena bisa menciptakan arti ganda pada sebuah logo. Kamu akan menemukan gambar tersembunyi, inisial dari sebuah brand atau detail tambahan tentang brand. Ada gambar di dalam gambar, gambar di dalam huruf atau huruf di dalam gambar. Pusing ya? Hehe. Oke, biar lebih jelas berikut merupakan penampakan salah satu logo terkenal yang menggunakan teknik negative space.

     

    Secara sekilas kamu mungkin hanya akan melihat tulisan FedEx saja pada logo di atas. Tetapi apakah kamu bisa melihat ada sebuah anak panah ke kanan diantara huruf e dan x? seperti itulah contoh negative space pada logo dimana para Desainer menggunakan warna, mengosongi ataupun menggunakan suatu bentuk antar dua objek atau lebih untuk menciptakan visual yang menarik atau untuk menyampaikan maksud dari logo tersebut. 

    Panah ke kanan itu ada juga maknanya lho. Lindon Leader Sang Designer, sebelum mendesain logo tersebut sempat melakukan survey mengenai perilaku dan kondisi kerja di Federal Express (Fedex), sebuah perusahaan jasa pengantaran multinasional yang berkantor pusat di Memphis, Tennessee, Amerika. Hasilnya ia menemukan bahwa karyawan di Fedex kurang memiliki motivasi dan kepemilikian atas perusahaan. 

    Ketika Lindon Leader melakukan presentasi mengenai logo FedEx ini, ia menjelaskan arti simbol panah itu yakni arrow of movement and thinking, dimana ia menjelaskan bahwa perusahaan harus memiliki komitmen dalam pengiriman, yakni cepat sampai, dan juga panah melambangkan pemikiran postif bahwa perusahaan pasti akan maju (optimisme). Lindon Leader mendesak agar keberadaan simbol panah ini dipresentasikan kepada seluruh jajaran karyawan agar setiap kali karyawan melihat logo ini, yang pertama kali terlihat adalah tanda panah itu. Optimisme dan komitmen ini yang akhirnya membawa perusahaan berkembang lebih pesat.

Berikut contoh penggunaan teknik negative space pada logo lainnya.


    Tipografi yang has membentuk bibir dengan tulisan Mister Cooper. Bisakah kamu melihat negative space dengan tulisan ice cream di sana? unik ya. Hehe

    Jadi kesimpulannya, negative space adalah suatu bentuk menarik yang terbentuk dari ruang kosong antar dua objek atau lebih. Semoga bermanfaat #cmiiw

Tutorial Edit Foto untuk CPNS di Photopea

    Mau upload foto buat CPNS tapi fotonya lagi gak pake baju formal? tenang kita edit aja. Hehe. Btw, buat yang laki-laki atau yang tidak menggunakan kerudung bisa menyesuaikan ya sesuai langkah-langkahnya. Silakan diakses di youtube channel aku dengan link https://youtu.be/4QUAldpMXwI.  Semoga bermanfaat. Good luck buat semuanya yang sedang berjuang :)



Pilih Usaha Sendiri atau Franchise ya?

    Apa ketakutan yang terbesit di pikiranmu ketika ingin memulai usaha? takut rugi? takut dengan kompetitor? Apapun ketakutanmu, gak ada usaha yang berjalan mulus-mulus aja tanpa kendala. Sebagai manusia wajar kok punya rasa takut. Tetapi Kalau kamu terus berkutat dengan ketakutanmu, kamu tidak akan pernah memulai. Takut aja terus. Belum apa-apa sudah overthinking duluan. Kalo kata toko online warna ijo #mulaiajadulu. Hehe. Lalu ketika mau mulai, lebih enak pilih usaha sendiri atau franschise ya? 

 Photo by Amina Filkins from Pexels

    Mau usaha sendiri atau franchise sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin hal-hal berikut bisa menjadi pertimbangan untuk kamu untuk memilih ingin usaha sendiri atau franchise. Aku rangkum berdasarkan pengalamanku dan sepengetahuanku ya.

Usaha Sendiri

    Memulai usaha sendiri berarti kamu memulainya dari nol. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari membangun brand, mencari supplier, membeli bahan baku produksi, memasarkannya, mendaftarkan hak cipta merk, membangun trust konsumen dan perintilan lainnya. Berdarah-darah di awal. Pasti capek banget. Menguras fisik dan pikiran. Butuh proses untuk mengembangkan ide bisnis menjadi sukses dan memakan waktu yang tidak sebentar untuk membuat brand kamu dikenal di pasaran. Apalagi kalau belum punya pengalaman dan tidak punya mentor (pembimbing untuk sharing), akan ada banyak tantangan di depan. Strategi bisnis pun belum teruji.

    Jika sudah memiliki karyawan pun, tetap tidak bisa melepasnya begitu saja. Sebagai business owner tetap harus mengontrol walaupun tidak ikut turut ke lapangan langsung. Semua resiko menjadi tanggung jawab pemilik usaha. Penting sekali membangun tim yang solid dan profesional. Modal yang dikeluarkan untuk usaha sendiri relatif sih karena tergantung kebutuhan juga. Apa perlu sewa tempat? Atau bisa dari rumah dulu untuk awal-awal? Kita juga bisa memilih supplier yang dirasa lebih menguntungkan dan tidak terpaku pada satu supplier saja. Lalu kita perlu memikirkan media promosi apa yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan brand? Apa perlu endorse selebgram? atau memperkenalkan pada orang-orang terdekat dulu saja dan membuat video testimoni?

    Enaknya kalo bisnis sendiri, segala kebijakan, inovasi produk, dll. bisa disesuaikan dengan keinginan kita sebagai owner. Tidak perlu meminta persetujuan siapapun.

Franchise 

    Franchise merupakan bentuk kerjasama usaha dalam bentuk kemitraan atau biasa disebut waralaba. Kamu akan menggunakan brand orang lain yang sudah dikenal dan disukai oleh masyarakat. Sistem dan manajemen bisnisnya sudah teruji di pasaran. Jadi kamu gak memulai dari nol seperti usaha sendiri. Kamu gak perlu pusing memikirkan branding, mencari supplier,  gimana memasarkannya, dll. Semua amunisi sudah disediakan oleh franchisor (Pemilik franchise). Termasuk promosi pun akan dibantu. Kita tinggal mempelajarinya dan menjalankan sesuai dengan SOP yang berlaku. Berarti franchise lebih enak dong? Gak juga. Hehe. Franchise juga mempunyai tantangan sendiri.

    Sebagai pihak yang membeli franchise, kamu tidak bebas melakukan apapun karena sudah ada perjanjian yang telah disepakati. Kamu juga perlu menyiapkan dana di awal yang lumayan besar untuk membeli paket bisnisnya. Harganya juga tergantung dari franchise apa yang kamu ambil. Misal di bisnis f&b (food and beverage) dengan modal kisaran 10 juta-an kamu sudah mendapatkan booth usaha, alat-alat yang digunakan untuk memasak, bahan baku dan perintilan lainnya. Tapi biaya itu belum termasuk sewa tempat, membayar gaji karyawan, bayar listrik, dll. Kebijakan Frachisor juga berbeda-berbeda. Soal tempat, beberapa franchise mempunyai aturan sendiri. Misalnya harus sekian meter jaraknya antara satu outlet dengan outlet lainnya di daerah itu. Selain itu ada beberapa franchisor yang meminta biaya royalti. Jadi keuntungan tidak sepenuhnya milik mitra usaha. Lalu untuk bahan baku wajib membeli di pusat. Kamu tidak diperkenankan membeli bahan baku dari suplier lain apapun alasannya walaupun harganya lebih murah dengan kualitas yang sama.

    Yang namanya usaha pasti ada naik turunnya. Begitu juga dengan franchise. Bagaimana jika suatu saat bisnis franchise itu collapse? Maka itu akan mempengaruhi usaha kita juga karena kan kita memakai merk dagang orang lain. Lalu jika suatu saat kamu ingin berhenti menjalankan bisnis franchise ini, biasanya Franchisor tidak mengizinkan kamu menjualnya ke pihak lain sebelum masa kontrak habis karena semua sudah ada datanya di pusat. Kalau pun kepemilikan bisa dialihkan, prosedurnya akan rumit. Sebaiknya ditanyakan sedetail-detailnya sebelum mengambil paket franchise ya.

    Mau franchise atau usaha sendiri, pilihan ada di tanganmu sebagai calon pelaku usaha. Pikirkan baik-baik. Tapi jangan kelamaan mikir juga ya. Nanti diambil orang kesempatannya. Semoga bermanfaat.

Perbedaan Save as dan Save for web

    Kalian pasti sudah tahu kan cara menyimpan file document di photoshop atau illustrator? Tapi apakah kalian sudah tahu perbedaan save as dengan save for web?

    Sebeneranya save as dan save for web sama-sama bisa menyimpan file dengan format jpeg, png dan gif. Lalu apa perbedaannya? Jika save as kita bisa menyimpan filenya dengan resolusi yang tinggi (Standar DPI tinggi adalah 300 DPI) gambar lebih tajam dan bisa digunakan untuk proses percetakan karena save as juga memberi pilihan penyimpanan dengan format psd ataupun pdf yang bisa kita edit ulang (raw file). Jika percetakan menggunakan resolusi dibawah itu, maka hasil yang didapatkan gambar akan terlihat pecah dan kurang baik apalagi jika dilihat detail dari dekat. Namun ada beberapa media cetak yang menggunakan resolusi DPI (Dot Per Inch) yang lebih rendah biasanya ini diperuntukkan untuk sesuatu yang dilihat lebih jauh. Misalnya billboard segede gaban di jalanan menggunakan resolusi 45 DPI. Ukuran file dengan resolusi tinggi juga jauh lebih besar. Bisa mencapai sekian MB (megabyte) atau bahkan GB (gigabyte). Udah kayak beban hidup gedenya. save as juga mengukur satuan panjang dengan centimeter, millimeter dan sebagainya.

    Sedangkan untuk save for web, file disimpan ke resolusi yang lebih kecil (72 PPI) karena untuk di-upload di dunia digital. Misalnya website atau media sosial. Layar monitor akan dilihat dari jauh tidak seperti hasil print yang bisa di dilihat dari dekat. Hal ini membuat 72 PPI (Pixel Per Inch) lebih efektif untuk keperluan digital. Website akan jauh lebih ringan dan lebih cepat membuka gambar dengan resolusi 72 PPI. Kamu gak suka nunggu pas akses ke sebuah website yang loading-nya lama kan? Udah ditinggal mandi, makan, umroh, masih loading juga. Hehe. Save for web mengukur satuan panjang dengan pixel.

    Jadi begitu penjelasannya. Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Silakan dikoreksi jika ada yang kurang tepat. Masih sama-sama belajar :)

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers