Siapa bilang jadi Freelancer itu hidupnya enak terus? setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya. Termasuk menjadi Freelance Designer. Di tulisan kali ini aku akan berbagi pengalaman suka duka menjadi Freelance Designer. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan siapapun yang ingin menjadi Freelancer di bidang desain. Btw, desain yang aku geluti sementara ini di bidang logo dan branding, desain grafis, desain UI/UX (website dan aplikasi) dan ilustrasi.

Photo by Anna Shvets from Pexels

    Aku mulai dari sukanya dulu ya. Ngomongin dukanya belakangan aja. Hehe. Berikut beberapa poin sukanya menjadi Freelance Designer.

1. Flexibilitas Waktu dan Tempat Kerja

    Berbeda dengan pekerja kantoran yang bekerja dari jam 9 sampai jam 5 sore pada umumnya, menjadi seorang Freelancer bisa mengatur waktu jam kerja sendiri. Mau dikerjain habis subuh, sore-sore sambil ngeteh ataupun tengah malem di saat orang-orang tidur. Kerjanya juga gak harus di satu tempat, kalau bosan kerja di rumah, bisa ke Cafe, staycation ataupun lagi hiking. Selama masih ada sinyal internet tentunya. Hehe. Bebas-bebas aja selama hak klien terpenuhi dan sesuai dengan deadline yang disepakati. Gak perlu menghadapi macet-macetan dan stress di jalan seperti orang kantoran. Gak perlu penampilan yang rapih-rapih. Kerja di rumah pake piyama juga jadi. Hehe. Koordinasi dengan Klien tidak perlu tatap muka secara langsung, bisa melalui vicon, email atau chat. Kalau lagi gak mood atau lagi gak ada ide bisa keluar jalan-jalan sebentar, olahraga, baca buku, tidur atau kegiatan lainnya. Baru kembali bekerja lagi.

2. Income yang Didapat Bisa Lebih Besar dari Karyawan

    Paling seneng kan kalau ngomongin money? Hehe. Sebagai Freelance Designer, income yang didapatkan bisa lebih besar dari gaji orang kantoran dalam satu project atau dalam akumulasi beberapa project dalam sebulan. Bisa dua digit sekali dapat project. Ini tergantung jam terbang, skill dan koneksi Klien ya. Klien-nya kelas kakap atau kelas teri. Tapi bukan berarti uang yang didapat buat hura-hura. Tetap harus ditabung karena hidup tidak mulus-mulus saja. Hehe. 

3. Bisa Memilih Project yang Ingin Dikerjakan

    Kita tidak harus menerima semua project yang ditawarkan untuk dikerjakan. Ambil yang mana yang kira-kira sanggup untuk dikerjakan. Kalau di Kantor kan semua pekerjaan yang datang harus dikerjakan suka atau tidak suka. Tapi gaji segitu-segitu aja. Hehe.

4. Tidak Terlalu Terikat Aturan

    Aturan yang harus dipatuhi hanyalah kesepakatan kita sebagai Freelance Designer dengan Klien dalam hal project yang dikerjakan. Tidak seperti di Kantor yang punya beberapa aturan. Misalnya masalah absensi, kalau terlambat datang ke kantor lima menit potong gaji, telat 10 menit dihitung cuti setengah hari, dan lain sebagainya. Kalau mengajukan lembur, hanya boleh maksimal berapa jam dalam sebulan. Sisanya kerja seikhlasnya. Padahal pekerjaannya lebih banyak daripada waktu yang diberikan dari 9 to 5. Hehe

5. Bisa Menentukan Harga Sendiri

    Kita bisa menentukan harga jasa yang kita berikan dengan perhitungan sendiri untuk beberapa project yang dijalankan. Tetapi ini disesuaikan dengan skill, jam terbang, jenis pekerjaan yang dikerjakan dan deadline pekerjaan juga ya. Semakin upgrade skill dan semakin lama jam terbang, harga jasa juga bisa semakin tinggi. Masih masuk akal lah harganya. Hehe.

    Di balik semua kenikmatan itu, ada juga dukanya dong. Berikut beberapa poin dukanya menjadi Freelance Designer. Apa sajakah itu?

1. Tidak Ada Weekend dan Tanggal Merah

    Saking flexibilitasnya waktu, terkadang kita harus mengerjakan pekerjaan di tanggal merah atau weekend karena deadline atau tengah malam harus vicon atau membalas email/chat dengan Klien kalau beda Negara. Waktu untuk keluarga atau hobi terkadang harus dikorbankan ketika timeline project sedang mepet dan banyak job yang harus dikerjakan atau ada revisi dadakan. Untuk hal ini bisa diatasi dengan manajemen waktu sebenernya, kecuali untuk hal-hal yang bersifat urgent. Freelance dosen't mean Free. Hehe

2. Pendapatan yang Tidak Pasti

    Walaupun income yang didapat bisa lebih besar dari gaji sebulan karyawan kantoran. Tetapi jumlah ini tidak tetap setiap bulan. Kita harus memikirkan bulan berikutnya. Bisa saja bulan berikutnya job yang didapat tidak sebanyak yang didapat bulan ini. Maka, ketika mendapat income yang lebih selalu utamakan untuk ditabung terutama untuk dana darurat. Bukan untuk meningkatkan gaya hidup. Gaya hidup ya bukan kualitas hidup. Kalau gaya hidup tuh misalnya beli barang-barang branded yang tidak sesuai kebutuhan. Kalau kualitas hidup tuh lebih ke kebutuhan, biasanya makan tahu tempe, kalau ada lebih boleh sekali-kali makan ayam atau daging. Hehe.

3. Pembayaran dari Klien yang Telat

    Kalau orang kantoran pasti tanggal gajiannya, menjadi Freelancer keterlambatan pembayaran bisa saja terjadi dan itu terkadang tidak dalam jangka waktu yang sebentar. Bisa ada yang dipending sampai bulan berikutnya. Hehe. Padahal pekerjaan sudah selesai. Saran aku selalu minta DP 50% untuk Klien yang baru menggunakan jasa desain kalian dan jangan kasih file original dan highres-nya sebelum pembayaran dilunasi. Klien menahan hak Freelancer, Freelancer menahan hak Klien. Saling menyerahkan ketika sudah melaksanakan kewajiban masing-masing. Oh iya, sebelum uang dari Klien ada di tangan kalian, jangan hitung dulu sebagai pemasukan bulanan karena bisa saja pembayaran tertunda ini. Jangan tergoda dulu untuk beli ini itu karena dipikiran nanti ada uang project A ini. Beli sesuatu kalau pembayaran memang sudah diterima. Jangan lupa selalu ingatkan Klien untuk segera melunasi pembayarannya ya.

4. Dikira Pengangguran, Ngepet atau Pesugihan

    Karena flexibiltas waktu bekerja dan tempat, dikira tetangga pengangguran karena sering berada di dalam rumah, tidak keluar rumah untuk bekerja pada umumnya. Hampir setiap hari datang tukang paket mengantarkan pesanan ke rumah, dikira tetangga ngepet atau pesugihan karena kalau pengangguran dapet uang darimana. Hehe. Padahal kita di dalam rumah bekerja.

5. Menjaga Kepercayaan dan Loyalitas Klien

    Pekerjaan dari Klien adalah sumber pendapatan dari Freelancer. Makanya perlu menjaga kepercayaan Klien. Jangan mengecewakan Klien dan jangan mengambil pekerjaan bila sudah cukup banyak project yang dipegang. Kalau terlalu sibuk dan tidak bisa meng-handle, resiko besar kehilangan Klien. Mencarinya susah, hilangnya mudah.

6. Bayar Asuransi Kesehatan Sendiri

    Tidak ada jaminan kesehatan untuk Freelancer seperti benefit yang diberikan perusahaan. Jadi, jika ingin menggunakan asuransi kesehatan ya sisihkan income per bulan untuk membayar itu. Kalau tidak ingin menggunakan asuransi, selalu sisihkan untuk dana darurat jika sewaktu-waktu ada pengeluaran tak terduga seperti sakit.

    Mungkin itu saja sharing pengalaman aku. Menjadi Freelancer bukan pilihan terbaik untuk semua orang, jadi memang harus dipikirkan baik-baik sebelum benar-benar menekuninya. Semoga bermanfaat.

No comments

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Popular Posts

Followers