Tidak bisa dipungkiri, untuk memulai sesuatu itu bukan perkara yang mudah. Salah satu alasan utama sulit memulai sesuatu adalah Malas. Ini lagi ngomongin diri sendiri. Hehe. Terlebih  lagi jika kita terbiasa di zona nyaman. Kita sering kali terjebak dalam perkara menunda-nunda. “Ah nanti aja deh ngerjainnya” atau “besok deh dikerjain. Suer.” Tapi akhirnya lupa dan tidak dikerjakan. Percayalah, menunda nunda pekerjaan akan membuatmu semakin malas. Padahal untuk menciptakan atau membuat sebuah perubahan harus diawali dengan “memulai”. Tapi kok rasanya berat banget. Lebih berat dari rindunya Dilan. Hehe. 

    Misalnya dalam diri sudah bertekad ingin memulai pola hidup sehat. Tetapi untuk memulai berolahraga atau mengubah pola makan ada aja alasannya. “Gak ada waktu buat olahraga. Besok aja deh”. Gitu aja terus sampai upin ipin wisuda. Padahal buat scroll social media berjam-jam aja bisa atau “Males ah makan sayur. Udah kayak kambing.” Wkwkwk. Makan mie ayam aja lah yang enak sambil nonton drakor. Abis itu tidur deh. Hehe. Ya gimana mau memiliki pola hidup sehat kalau kita tidak penah memulainya.

    Contoh lainnya, kamu bermimpi jadi penulis hebat. Ingin menjadi penulis best seller, ingin karyanya dibaca banyak orang, ingin apa yang ditulisnya bisa bermanfaat untuk orang lain. Tetapi giliran ingin memulai untuk membuat sebuah kalimat, berbagai macam alasan sudah menari di kepala. Hehe. “Nanti aja deh kalau pas weekend”, “nanti aja deh kalau mood” dan alasan nati aja, nanti aja lainnya. Gimana mau jadi penulis best seller, bukunya terbit saja nggak. Belum ditulis sama sekali. Ide juga masih di angan-angan. 

    Jika memulai saja sudah berat, Bagaimana bisa konsisten? Banyak orang yang kesulitan untuk konsisten setelah memulai karena orientasinya adalah hasil, bukan kenikmatan dari melakukan sesuatu itu sendiri.  Memulai itu cukup sekali, tetapi konsistensi diperlukan berkali-kali. Konsistensi itu seperti bergulirnya hari demi hari. Matahari terbit, tenggelam, terbit lagi, tenggelam lagi, terus begitu. Hanya orang-orang dengan tekad tak terpatahkan yang akan dapat melakukannya. Gunakan tujuanmu sebagai reminder disaat fokus kamu hilang. Untuk konsisten jangan putuskan rantainya, sekali dua kali untuk istirahat gak apa-apa tetapi jangan sampai keterusan. Hehe. Misalkan, kamu ingin konsisten belajar di pagi dan malam hari agar mendapatkan nilai yang memuaskan. Katakanlah kamu memulainya di hari Senin, saat itu kamu belajar dengan sangat semangat sampai sampai lupa waktu, demikian pula hari Selasa, Rabu, dan seterusnya kamu harus tetap menjaga semangat itu. Weekend mungkin bisa digunakan untuk refreshing agar energi terisi kembali. Tetapi, senin harus kembali fokus pada goals. Ini yang berat. Hehe

    Ketika memulai membutuhkan keberanian, maka konsisten memerlukan keberanian dan kesabaran. Akan ada banyak ujian sepanjang jalan. Untuk konsisten dalam hal apapun, kita perlu mengubah “kebiasaan”. Merubah kebiasaan buruk yang selalu dilakukan mungkin seringkali terlihat susah dan berat. Padahal, mengubah kebiasaan yang lebih baik itu tidak sulit, jika kita memulainya dengan perubahan-perubahan kecil. Logika tentang “1% lebih baik setiap hari” yang ada pada buku “Atomic Habits” karya James Clear, menjawab bagaimana cara manusia agar selalu belajar dan konsisten.


    Berani memulai kemudian menjaga konsistensi memang gak mudah. Tetapi setiap kali ada keinginan untuk berhenti, tanyakan ini pada diri sendiri. Kenapa harus susah-susah memulai jika hanya untuk berhenti? Semoga bisa menguatkan perjuanganmu sampai apa pun yang dicita-citakan tercapai. Semoga tulisan ini bermanfaat. Dari aku yang masih perlu banyak belajar juga :)

No comments

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Popular Posts

Followers