Senin Pukul 8 Pagi (Part 14: Ketawa Masih Bisa, Logika Mulai Pergi)

 

Pagi itu dimulai dengan hal sederhana:

bos bilang, “Ini harusnya gampang.”

Kalimat paling berbahaya di kantor.

Yang katanya “gampang” itu datang dengan 12 poin revisi, 3 deadline berbeda, dan satu kalimat penutup: segera, ya.

Kami saling pandang. Tidak ada yang tertawa. Tapi semua tahu, ini serius.

“Gampang kok,” bisikku ke tim.
“Gampang bikin stres,” balas mereka.

Kami mulai kerja cepat. Terlalu cepat. Kopi dingin. Chat internal panas.

Jam makan siang lewat tanpa sadar. Tidak ada yang bergerak. Hanya mata yang semakin lelah.

Tapi entah kenapa, candaan tetap muncul.

“Kalau aku hilang, tolong cari aku di bawah meja,” kata seseorang.
“Kalau aku hilang, aku sengaja,” sahut yang lain.

Aku tertawa, lalu menguap.

Meeting susulan muncul. Dadakan. Tanpa agenda jelas.

Bos bicara panjang. Nada naik. Kami mengangguk.

Di dalam kepala, aku sudah hitung berapa kali hari ini aku ingin resign.

Angkanya dua digit.

Sore hari, pekerjaan hampir selesai. Hampir.

Bos lewat dan berkata, “Ini masih bisa lebih baik.”

Kalimat itu seperti Ctrl + Z untuk seluruh tenaga.

Kami saling pandang lagi. Kali ini lelahnya nyata.

Di pantry, kami berdiri tanpa banyak bicara. Tidak ada tawa keras. Hanya senyum kecil.

“Capek, ya,” kataku.

“Iya,” jawab mereka serempak.

Aku pulang dengan kepala penuh. Masih bisa bercanda. Masih bisa ketawa.

Tapi aku tahu
tekanannya naik.

Dan komedi… mulai jadi cara bertahan, bukan sekadar lucu.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 13: Aku Benci Senin, Tapi Kok Ketawa)

Aku tetap benci Senin.

Ini prinsip hidup.

Tapi Senin pagi itu… aku ketawa.

Bukan tertawa bahagia.
Lebih ke ketawa bingung, kok bisa ya?

Alarm berbunyi. Aku bangun tanpa drama. Tidak mengutuk kalender. Tidak menawar waktu.

Ini mencurigakan.

Di kantor, rapat pagi tetap ada. Bos tetap ngomel. Slide tetap membosankan.

Tapi entah kenapa, aku dan tim saling lempar ekspresi kocak. Mata berbicara. Alis naik-turun. Senyum kecil tanpa suara.

Aku hampir tertawa keras.

Di tengah meeting, aku mencatat sesuatu yang sama sekali tidak penting:

“Senin ini nggak seburuk itu.”

Aku langsung mencoret kalimat itu.

Jangan manja.

Selesai meeting, kami bergerak ke pantry seperti zombie yang baru dilepas dari penjara.

“Aku survive Senin,” kataku.

“Dengan luka batin minimal,” sahut seseorang.

Kami tertawa lagi.

Rasya lewat, menyelipkan komentar ringan, “Rekor baru?”

Aku mengangkat bahu. “Jangan dibiasakan.”

Sore hari, aku menyadari satu hal mengkhawatirkan:

aku menunggu jam istirahat bukan untuk kabur,
tapi untuk ngobrol.

Dan saat pulang, aku tidak menghitung menit.

Aku berhenti sejenak di lift, menatap bayanganku sendiri.

Aku masih benci Senin.
Tapi sekarang… aku tidak sendirian.

Dan mungkin itu yang bikin aku ketawa.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 12: Gosip Kantor Lebih Cepat dari Email Resmi)

 


Ada dua sistem komunikasi di kantor:

  1. Email resmi

  2. Gosip

Dan yang kedua… selalu lebih cepat.

Aku baru duduk di meja ketika suasana terasa berbeda. Terlalu banyak senyum. Terlalu banyak lirikan.

Ini mencurigakan.

Di pantry, aku mendengar bisikan pelan.

“Eh, kamu lihat nggak kemarin?”
“Iya, duduknya deket banget.”

Aku hampir menjatuhkan sendok.

Duduk bersebelahan sekarang jadi bahan diskusi?

Aku menuang kopi sambil pura-pura tuli. Padahal telingaku kerja lembur.

“Kayaknya cocok.”
“Ah, masa sih?”

Aku tersedak. Batuk kecil. Pura-pura wajar.

Saat kembali ke meja, grup chat tim ramai.

“Guys, gosip hari ini rame.”
“Ada yang baru nih.”
“Bukan aku, ya.”

Aku menatap layar. Jantungku ikut update.

Rasya lewat. Santai. Tidak terlihat panik. Tidak sadar.

“Kenapa semua orang aneh hari ini?” tanyanya.

Aku menatapnya lama. “Kamu beneran nggak tahu?”

“Tahu apa?”

Aku menyerah. “Nggak jadi.”

Siang hari, gosip naik level.

Ada yang “nggak sengaja” duduk di dekat kami. Ada yang pura-pura lewat. Ada yang terlalu sering senyum.

Kami seperti episode baru sinetron kantor. Tanpa skrip. Tanpa izin.

“Kalau kita batuk barengan, besok dikira jadian,” kataku pelan.

Rasya tertawa. “Berarti jangan batuk.”

Sore hari, gosip mulai basi. Target baru muncul. Hidup kantor lanjut seperti biasa.

Aku menghela napas lega.

Kesimpulan hari ini:
di kantor, gosip lebih cepat dari deadline.
Dan duduk bersebelahan bisa jadi isu nasional.

Aku pulang dengan satu tekad:
besok aku duduk di ujung ruangan.

Senin Pukul 8 Pagi (Part 11: Duduk Bersebelahan, Masalah Baru)

 

Semua bermula dari satu keputusan sepele:

Aku salah pilih kursi.

Ruang meeting hari itu penuh. Kursi yang biasa kutempati sudah diisi. Aku melirik kanan-kiri, lalu duduk di kursi kosong terdekat.

Di sebelah Rasya.

Aku baru sadar setelah pantat menyentuh kursi.

Terlambat.

Aku membuka laptop lebih cepat dari biasanya. Pura-pura sibuk. Padahal layar masih halaman kosong.

Rasya menoleh sebentar. “Hai.”

“Hai,” jawabku terlalu cepat.

Meeting dimulai. Bos bicara. Aku mencatat. Tulisan tanganku aneh. Terlalu besar. Terlalu semangat.

Tiba-tiba, Rasya mendorong post-it ke arahku.

“Tenang. Ini bukan ujian hidup.”

Aku menahan tawa. Menutup mulut. Mengangguk serius seolah mencatat poin penting.

Bos melirik ke arah kami. Aku langsung duduk lebih tegak. Fokus palsu maksimal.

Di tengah rapat, laptopku hampir kehabisan baterai. Aku panik kecil. Rasya menyodorkan charger tanpa bicara.

Pahlawan tanpa jubah.

Aku mencolokkan charger itu sambil berbisik, “Makasih.”

Dia mengangguk. Seolah ini kejadian biasa.

Meeting selesai. Kami berdiri bersamaan. Sedikit canggung.

“Kayaknya duduk di sini bahaya,” kataku.

“Kenapa?”
Distraksi.”

Dia tertawa. “Setuju.”

Aku kembali ke meja dengan satu kesadaran mengkhawatirkan:

hal-hal kecil di kantor mulai terasa… menyenangkan.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada Senin.

Search This Blog

Powered by Blogger.

Labels

Pages

Followers